Gaya banget yaa judulnya
Nggak kok, menulis yang dimaksud dalam judul di atas itu, menulis dengan konteks sangat sederhana. Bukan menulis sebuah buku yang sampai diterbitin oleh penerbit terkenal gitu…
Kalo’ kaya’ gitu mah, tiwi juga belum pernah
Jadi, tadi pagi, ada berkedip di Yahoo Messenger saya. Penanda ada window percakapan baru yang belum terbaca.
Saat saya baca, isinya cukup bisa membuat ngakak tapi juga ngenes…
Begini :
“Mbak, bantuin dong.. Disuruh sekolahan anak nih bikin tulisan tentang profil si A. Gimana sih ?”
Balasan saya beneran nanya sih saat itu.
“Anak ? Anak siapa nih yang dimaksud ?”
Lansung disemprot :
“Yaaa, anak aku lah mbak… !”
Hah ! Gimana nggak takjub coba. Wong menuliskan profil anak sendiri, kok minta dibantuin orang lain.
Maksud tiwi, anak kita sendiri, seharusnya, yang lebih mengerti yaa kita sendiri tho ?
Tapi ternyata, bukan masalah dia nggak mengerti anaknya sih sebenernya. Cuma teman saya itu, tidak bisa menuangkannya ke dalam sebuah tulisan.
Mulailah bantuan didatangkan…
1. Saya bilang ke dia : “Kamu kan sering cerita ke aku, si A sekarang udah makan banyak lho, mbak.. si A kok susah nurutnya yaa, mbak…
Coba buka archive YM kamu ke aku, copy paste ke Ms Word. Yakin deh, itu udah bisa lebih dari 1 lembar A4″
2. “Dari lahir apa nggak yaa enaknya ? Abis pas baru lahir kan, selang dimana-mana waktu itu di badannya… Nanti aku sedih”
Supaya pembaca-nya nanti mengerti kenapa profil si A seperti itu, mending dituliskan tahap per tahap, dari sejak lahir sampai sekarang dia sebesar ini, nanti lak ada background, kenapa profil-nya bisa seperti itu…
3. Coba cari-cari foto si A yang paling berkesan buat kamu, terus cerita dari situ. Sertain juga ajah di tulisan untuk profil ini. Toh buat mading kan ? Nanti biar seru bacanya…
Belum sampai tuntas point-per-point dijembrengkan, datanglah berita bahagia itu…
“Nggak usah mbak, mas yang mau nulisin. Horee !”
Huuuu, dasar emang emak ndak mau repot :p
The moral of the story.
Menulis itu kan kadang menuliskan apa yang ada di kepala kita. Kalo’ bercerita ke teman itu menuangkan apa yang di kepala “orally”, nah menulis itu kan bercerita secara “writtenly” *embuh wis bener opo nggak grammar-nya, teuing nyak !*
Jangan bilang nggak bisa sebelum dicoba. Saat ini, banyak media belajar menulis yang bisa digunakan.
Facebook, Twitter, Foursquare. Semua bisa dijadikan tools untuk awal-awal belajar menulis. Menuangkan apa yang ada di kepala ke dalam bentuk tulisan.
Pernah tau ada nggak, ada lho, novel yang diterbitkan diambil dari “kicauan” sang penulis di media Twitter. Dikompilasi, diedit, voila, terbitlah novel yang tebalnya mengalahkan majalah mingguan
Lagipula, hari gini. Kita nggak akan menghabiskan ber-rim-rim kertas kok untuk belajar menulis. Sudah ada Ms Word. Ada tombol [backspace] untuk men-delete.
Perkara-nya jaman sekarang ini, mau atau nggak. Itu ajah sih !
Dari pagi, kangen sama asha tuh sampe mau nangis rasanya. Entah kenapa. Pas dicoba ditelepon, alhamdulillah anaknya baik-baik aja di sekolah. Di rumah, malah lagi bobo barusan. Trus kenapa kangennya sampe’ bikin kaya’ pengen pulang banget gini yaa..
Embuh wis… Mending kita cerita asha lagi aja yaa…
Jadi postingan kali ini dilatar belakangi kejadian saat saya mengambil raport asha beberapa waktu lalu. Ada pesan dari wali kelas asha : “mama asha, kepala sekolah mau ketemu.” Baiklah… paling masalah transportasi outbound seperti biasanya lah, begitu pikir saya saat itu.
Ternyata oh ternyata… hari itu, saya ditegur. Mmmhh, atau sebenernya itu curhat sang kepala sekolah ya ? Tapi nadanya sih menegur ![]()
Karena asha selalu didampingi oleh pengasuhnya saat kegiatan di luar sekolah. Apakah itu kunjungan ke pabrik, ourbound, dll. Dan katanya, karena mobil asha selalu “ditumpangi” oleh orang tua yang juga ingin melakukan hal yang sama ke anak-anaknya. Mendampingi. “Tolong bunda, percaya sama sekolah ya. Besok-besok jangan didampingi lagi. Takutnya anak-anak nantinya malah tidak mandiri…”
Jujur, sampai sekarang kata-kata itu masih terngiang di telinga saya. “Takutnya anak-anak nantinya malah tidak mandiri”…
Pengen rasanya saya membuka KBBI-nya JS Badudu untuk mengetahui, apa sih arti kata mandiri itu ?
Parameter apa sih yang dipakai untuk menilai, si A itu mandiri atau nggak ?
Dan di usia berapa sih mau diukur tingkat kemandirian seseorang ?
Huhuhuhu… mulai emosi deh.
Saya memang cuma melihat dari sisi saya sebagai orang tua asha yang punya kewajiban menjaga dia sebagai “amanah”, dan saya sebagai anak hasil bentukan dari orang tua saya yang sudah terkenal “over-protective” sekali ke anak-anaknya.
Saya memang selalu menugaskan pengasuhnya untuk mengikuti kemanapun asha beraktifitas, di sekolah maupun di luar sekolah.
Kenapa ? Karena saya personally nggak bisa melakukan itu. Coba kalo’ saya FTM seperti mama saya dulu, pasti saya yang mendampingi dia kemana saja
(tetep salah yaa kalo’ dari pandangan kepala sekolah mah yaa…)
Kenapa saya melakukan itu ? Karena cuma itu yang saya bisa lakukan maksimal buat asha karena status saya sebagai Ibu Bekerja. Meyakinkan dia baik-baik saja…
Saat itu kepada sang kepala sekolah, argumentasi saya, saya hanya berusaha meneruskan pola asuh yang saya dapat dari orang tua saya dan saya nilai baik hasilnya.
Dulu jaman SD, saat saya berkemah Perjusami di Cibubur, saya selalu bisa melihat orang tua saya kongkow-kongkow berkumpul di tenda guru-guru, ngobrol dengan mereka, sambil juga memastikan saya dan adik-adik baik-baik saja selama kegiatan di sana. Setiap hari-nya mereka datang, dan pulang saat kami sudah masuk ke tenda masing-masing.
Jangankan gitu, sampai saya kuliah di Bdg saja, setiap mama memasak makanan kesukaan saya, mama dan papa berkendara Jkt-Bdg dengan mobil, dan mengantarkan makanan itu ke saya. Catet yaa, belum ada tuh jalan tol yang saya masukkan ke inovasi paling edan selama abad ini ! Yang saya cintai sangat ![]()
Bahkan saat saya sudah kerja, mereka suka datang ke kantor membawakan saya makan siang yang baru dimasak mama. Membelikan sepatu baru, dan bergegas mengantarkan ke kantor, karena mereka tahu setelah jam makan siang, saya harus menghadiri meeting dengan beberapa orang penting, padahal sepatu saya sudah mulai kusam.
Atau mengantar saya ke kantor polisi untuk perpanjangan SIM. Mama dan papa LENGKAP ! Sudah seperti mengambil raport saya saja…
Yang heboh, saat saya sudah berkeluarga gini, karena nasib rumah cuma tinggal koprol ke rumah mama, kadang makanan buat asha, justru diantarkan oleh mama pagi-pagi sekali, supaya saya tidak perlu lagi menyiapkannya.
Hal-hal seperti itu yang saya dapatkan sebagai anak… Manja yaa kelihatannya ? Membuat nggak mandiri yaa ?
Silahkan nilai sendiri dari saya sekarang yang terlihat.
Saat saya punya rumah sendiri, saya bisa kok mencari tau cara menyalakan listrik melalui tata cara yang benar di rumah saya dengan pergi dan mempelajari proses di PLN, menyambungkan line telepon secara resmi ke Telkom, mengurus tetek bengek pengkreditan di bank yang bener-bener ngejelimet. Atau saat memang dibutuhkan “kelihaian” negosiasi ala preman supaya prosesnya lebih cepat, saya bisa merampungkan semua itu tanpa harus menyusahkan orang lain.
Bahkan, pertama kali saya pergi ke luar negeri, saya benar-benar seorang diri dan benar-benar pertama kali itu keluar dari wilayah NKRI. Tapi saya survive tuh seminggu di sana !
Hal seperti itu yang dicari dari kata “mandiri” kan ? Atau bukan ?
Satu quote yang selalu saya pegang dalam membesarkan anak-anak saya.
Mereka yang benar-benar merasa dicintai dan disayangi, akan lebih siap membagikan “sayang” dan “cinta”-nya kepada siapa saja di sekitarnya pada saat dia terjun ke masyarakat.
Buat saya, anak akan lebih merasa pede menjalani hidupnya, kalo’ dia selama memang belum waktunya untuk menjalani hidup sendirian, selalu bisa merasakan ketenangan, kenyamanan, dll.
Dan lagi, saya berusaha memberikan apa yang anak-anak butuhkan “mentally” supaya mereka nggak mencari ke luar rumah atau ke orang lain, karena mereka tahu, mereka akan bisa mendapatkan itu dari kedua orang tuanya.
Lagipula, untuk anak berusia 5 tahun, kemandirian seperti apa sih yang dituntut untuk bisa mereka lakukan ?
Bukan kemandirian kebablasan kan ? Mereka masih perlu pendampingan. Makanya ada orang-orang yang lebih tua di sekitar-nya selalu tho ?
Mereka perlu pengarahan… Yang jelas, mereka perlu yakin, bahwa mereka disayangi, dan keberadaan mereka selalu dianggap ada oleh orang tuanya.
Sesederhana itu sih tiwi berusaha membesarkan asha dan ogie sampai nanti mereka siap.
Love you, kiddos. Always.
Wallahu a’lam.
Setting : Malam hari sepulang bekerja, bertiga-an sama Ogie dan Asha rebahan di tempat tidur.
Nggak tau ada angin apa, tiba-tiba anak perempuannya bilang :
A : “Mama, nggak boleh ada lagi yaa ma, adek setelah Ghiyath ini ma.. Nggak boleh !”
S : *bengong* karena emang sebelumnya sama sekali sedang tidak membicarakan adik ![]()
S : “Lho, bukannya kamu mau adik lagi, Sha ? Katanya waktu itu mau adik laki-laki lagi..”
A : “Mama, emang nanti asha bobo sama siapa ?”
S : “Papa lah nak.. Kan biasanya gitu ?!”
A : “Lho, adek Gie bobo sama siapa ?”
S : “Yaa sama mama dong..” *asli sambil bingung, arah pembicaraan dia ini kemana sih sebenernya. no clue !*
A : “Tuh kaann.. trus kalo’ ada adek lagi, nanti mau bobo sama siapa. He ?!!!”
S : *ngakak sampe ngejengkang*
Subhanallah nak… Sampe segitu-nya kamu udah mikirin ? Nggak nak, Insya Allah kalopun ada adek lagi, mudah-mudahan saat itu kamu sudah berani pisah kamar dari kami yaa..
Lalu ada lagi cerita tentang asha yang bisa bikin kangen dia terus tiap hari.
Setting tetap sama, di tempat tidur. Malam hari.
S : “Sha, garukan yang waktu itu kita beli di Asemka tuh dimana sih nak ?” (itu lho.. garukan yg model jari-jari kecil di ujungnya)
A : “Ada di atas lemari, ma ! Emang kenapa, mama gatal ya ?”
S : “Iya nak. Punggung nih gatel banget…”
A : “Emang mama gak bisa garuk sendiri. Dicoba sendiri dulu coba ma…” *ini pasti kata-kata dari guru dia di sekolah deh. Tua beneeuuurrr*
S : “Nggak sampe sha tangan mama. Jauh banget di bawah nih..”
A : “Sini ma, asha ajah yang garukin ajah ma. Yang mana yang gatal ma ?”
S : *speechless*
Love you full, kiddo !
Kalo’ yang baca tulisan ini ber-gender perempuan dan sudah dipercaya menjadi ibu, mari mengaku, apakah akan bisa percaya melepas anak jalan berdua saja sama papa-nya dengan rentang waktu lebih dari 2-3 jam plus tau bahwa akan beredar di area publik (bukan ngendon di rumah saja) ?
Berani bertaruh deh tiwi mah… most will quitely whisper : uuhhmmm, actually, BIG NO !
Hehehe, dulu tiwi juga gitu kok ! (sebenernya sekarang masih juga sih, tp kalo’ diprosentase, mungkin tingkat kepercayaan itu akan naik seiring usia pernikahan dan usia anak kali yaa).
Awal-awal “terpaksa” harus percaya asha akan baik-baik saja pergi hanya berdua Erwin adalah saat tiwi hamil kemarin. Kondisi hamil membuat tubuh lebih cepet capek pasti yaa, plus bentuk fisik kan juga sedang berubah ya. Mengendut
Sedikit menghalangi kelincahan gerak pastinya. Sedangkan asha sedang di usia 4-5 tahun sedang masa-masanya exploring things ! Kasian kan kalo’ malah asha yang mengalah nggak melakukan apa-apa atau mengurangi waktu jalan-jalannya cuma karena tiwi capek
Pertama kali asha dan papa-nya pergi berdua saja, itu saat tiwi sedang “skripsi” kursus foto. Mengharuskan berterik-terik di daerah Kota dan bundaran HI, berburu gambar untuk tugas akhir selama 2 hari full !! Kasian kan kalo’ asha harus menunggu di tempat saja. Museum Fatahilah dan Kafe Batavia mah udah khatam oleh mereka berdua saking memang lama beneran proses hunting tiwi saat itu.
Jadi, berkelana-lah dia bersama Erwin. Naik Trans Jakarta ke Blok M dari halte Kota Tua, bolak-balik. Berkeliling di Plaza Indonesia, Blok M Plaza, dll. Sampe ending-nya nongkrong selepas Maghrib di bunderan HI
Sejak saat itu, asha seperti keranjingan moda transportasi Trans Jakarta. Setiap terlewat halte ditanya namanya, dihafalkan. Kalo’ weekend nggak ada acara apapun, dan #asha ditanya pengen apa, jawabnya pasti “naek busway, ma !”
Hedehhh… Bahkan choo-choo yang ada di mall-mall itu kalah sama busway ! Dia akan tetap konsisten memilih busway jika kami memberikan pilihan ![]()
Biasanya, kalo’ akhirnya memang naik busway, tiwi memilih menunggu di tempat terdekat dengan halte tujuan turun mereka. Membiarkan asha dan Erwin menghabiskan papa and daughter time…
Yang keren kemarin dong. Baru banget kemarin Kamis. Kebetulan di rumah sedang ada ibu Bondowoso. Semua juga tau kan, kalo’ perempuan di belahan dunia manapun, sangat identik dengan BELANJA ! Plus, apa-apa di Bondowoso itu mahal sekali dibanding JKT. Terutama untuk baju. Udah jadi agenda rutin, kalo’ orang rumah Bondowoso ke JKT itu pasti belanja tekstil. Belanja tekstil di JKT itu identik dengan Tenabang kan ?
Berhubung Erwin memang sudah mengambil cuti, diputuskan Kamis kemarin aja deh ibu dibawa ke Tenabang. Mumpung bukan weekend, yang pastinya penuh atau toko-nya terbatas. Solusi-nya, tiwi ijin setengah hari di kantor.
Erwin & asha bersama rombongan start dari rumah. Tiwi dari kantor. Meeting point-nya di Thamrin City dengan pertimbangan tempat parkir.
Dari awal memang asha tidak akan tiwi perbolehkan ikut ke ThamCit atau Tenabang. Tau sendiri kan, penuhnya kedua tempat itu seperti apa. Blom deh, blom se-percaya itu melepas asha bersama orang lain
Dan petualangan asha dan papa-nya pun dimulai…
Mereka diturunkan di Grand Indonesia [1], karena ada tas yang diincar Erwin. Tapi ternyata nggak ada model yang dia mau-in di sana. Diajaklah anak perempuan-ku itu ke Senayan City [2], naik taksi-lah mereka ke sana. Karena memang tengah hari bolong, Erwin nggak tega ke anaknya. Tas-nya dapet di SenCi. Perjalanan dilanjut ke Ratu Plaza, karena ada CD Game yang jadi incaran Erwin berikutnya. SenCi ke Ratu Plaza [3], berjalan kaki dan menyebrang jalan ![]()
Dari Ratu Plaza, mereka naek TransJakarta balik lagi ke daerah terdekat dengan Thamrin City. Karena saya dan ibu memang “cuma” bertujuan ke ThamCit dan Tenabang saja. Tapi pastinya mah bakal lebih lama proses hunting-nya kami… ![]()
Turunlah mereka di halte Plaza Indonesia [4].
Karena anak kecil-nya lapar, akhirnya mereka berdua makan di Chopstix, PI. Mie Goreng lah, tetep andalan di kala asha lapar dan bisa dipastikan habis dengan cepat ![]()
Sudah selesai makan siang, dan sholat Dzuhur di musholla favorit asha di Lt. 3 PI, tetap belum ada kabar dari rombongan emaks, Erwin mutusin untuk menunggu di ThamCit [5] saja supaya cepat pulang kalo’ urusan perempuan sudah selesai
PI-Thamrin City mereka tempuh dengan Ojek (ini kali kedua asha naik ojek lho ! Yang pertama itu waktu mereka berkelana ITC Kuningan-Ratu Plaza untuk urusan service notebook dan game console ! Bayangin deh jaraknya…! Bikin stress pas dikasih tau dulu itu)
Waktu akhirnya ketemu asha di Thamrin City, anak kecil-nya lari-lari dengan wajah kucel tapi ekspresi riang gembira !! Hedeehh… kasian tapi ngeliat dia seneng gitu yaa ikut seneng juga sih ![]()
Pas ditanya, asha ngapain aja sama papa ? Berceritalah mulut ngecepres itu dengan cepatnya.
Dan jujur, tiwi nggak menduga sama sekali segitu banyak-nya tempat yang mereka mampiri ![]()
Keren-nya lagi (sekaligus ngenes sebenarnya), nggak ada fisik barang apapun yang dia minta selama bertualang selama itu !
Hebat ya ? Nggak ngerengek apapun sama sekali
Bahkan ditawarin apa-apa, dia nggak mau ![]()
Cukup jalan-jalan saja. Anak manis…
Selama terpisah dengan mereka berdua, memang BBM jadi alat komunikasi yang ampuh buat bikin lebih tenang sih…
Erwin selalu ngabarin sudah ada dimana posisi. Begitu juga tiwi. Kecuali kalo’ memang cuma sebentar seperti di GI dan Ratu Plaza gitu… Makanya sempet kaget-kaget waktu denger cerita asha. Hehehe…
Overall, sepertinya melihat kesuksesan kemarin, kapan-kapan bisa diagendakan dengan sengaja untuk me-time melarikan diri refleksi saat weekend-an sama mereka yaa :p
Proud of you, mas… Love you, sha.
Hehehe, judul yang aneh ya ? Biar deh. Orang lagi pengen cerita. Bukan lagi pengen pusing sama judulnya doang
Jadi, sekarang kan Asha alhamdulillah sudah TK B. Seharusnya, kalo’ mengikuti hirarki pendidikan resmi, tahun depan, dia sudah jadi siswa SD (hayah, dah gede banget yaa kamu, nduk).
Persiapan anak pindah dari TK ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA yang perlu diwaspadai orang tua-nya, yang paling penting adalah budget. Dan ngomongin budget, tentunya sudah harus dengan calon-calon sekolah untuk anak yang kita pengenin.
Pertanyaan selanjutnya, sekolah mana sih yang saya dan suami inginkan untuk anak-anak ?
Jawabannya sih pasti standarlah semua orang tua di belahan bumi manapun yaa… Sekolah yang Terbaik untuk anak-anaknya.
Sedangkan Terbaik itu sendiri kan subjektif. Menurut saya terbaik, belum tentu menurut teman saya terbaik juga kan ? ![]()
Kalo’ menurut salah seorang teman yang memiliki ilmu psikologi, sekolah bisa dibilang terbaik, salah satu parameternya adalah sekolah yang bisa memenuhi ekspektasi orang tua-nya terhadap pola didik yang mereka inginkan terhadap anak-anak-nya. Gitu katanya..
Kalo’ untuk kasus saya, bolehlah terbaik itu ditambahkan sebagai : jarak yang dekat dari rumah (karena cah wedhok-nya kalo’ bangun pagi itu ampun deh cara ngebanguninnya), kurikulum yang tidak terlalu menyiksa (full-day school itu jelas tidak akan saya pilih untuk asha atau gie), berbanding lurus antara apa yang sudah saya bayarkan, dengan apa yang anak-anak saya dapatkan. Jadi bukan suatu masalah juga kalo’ memang standar SPP-nya agak di atas rata-rata, asalkan fasilitas sekolah itu lengkap-kap-kap. Seperti TK-nya sekarang yang saya pilih, cuma karena playground-nya bagus dan ada kolam renangnya ! Hehehehe…
Balik ke konsep keselarasan pola didik, jadi yaa, kalo’ emang di rumah dititik beratkan ke konsep tanya-jawab-analisa, usahakan pada saat survey sekolah, hal itu dititik beratkan. Atau kalo’ di rumah dititik beratkan ke konsep study hard, play harder, yaa itu juga kudu ditelaah lebih lanjut (mulai kaya’ skripsi yaa bahasanya :p)
Sebagai orang tua yang tergolong perfeksionis (sebelom jadi orang tua juga udah gitu sih !), alhamdulillah untuk urusan biaya sekolah asha, sudah disiapkan sejak anaknya belom lahir pun
sampe dulu tuh suka bikin teller bank-nya cengar-cengir.
Untuk urusan survey sekolah, sejak asha mau masuk TK juga sudah sekalian melakukan survey SD-nya. Dengan pertimbangan, biasa-nya akan ada potongan harga dan prioritas pada saat penerimaan kan ?
Survey lanjutan saya cicil dengan mengambil cuti 1 hari per bulan. Dengan target mengunjungi 2 SD per hari-nya. Alhamdulillah, di SD Al-Marjan yang menjadi salah satu pilihan teratas, saya bisa bertemu dengan kepala sekolahnya, dan ngobrol banyak dan makin haq-qul yakin. Cuuusss… jadilah Al-Marjan menjadi prioritas utama.
Nah, pada saat pilihan ditentukan, ternyata sekolah ini mensyaratkan hasil uji psikologis terhadap calon siswa. Kami diberikan list of psikolog rujukan. Alhamdulillah, salah satu psikolog senior yang ada di list, merupakan pemilik lembaga psikolog saya saat SD. Jadi yaa akhirnya asha dijadwalkan ke sana.
Pada saat bertemu dengan psikolognya pertama kali, eyang (psikolog itu kami panggil) sudah ngasih #kode. Sepertinya anak ini masih terlalu kecil dari sisi attitude untuk bisa ke SD. Tapi karena baru kesan di pertemuan pertama, akhirnya asha malah dijadwalkan untuk mengikuti taman bermain yang ada di rumahnya setiap 2x seminggu. Alhamdulillah, ada beberapa perubahan signifikan sejak asha mengikuti konseling teratur tersebut.
Tetapi setelah jalan 2 bulan, kesimpulan saya dan eyang juga sama.
Asha masih ingin banyak bermain. Dan saya sebagai orang tua sepertinya juga tidak akan tega memaksakan dia ke SD, yang punya konsekuensi jadwal lebih teratur, pelajaran yanglebih serius, kosakata yang makin njelimet, waktu bermain tentunya lebih sedikit lah yaa…
Jadi untuk sementara ini, sepertinya skenario untuk tahun depan, asha akan dibiarkan mengulang TK B-nya lagi supaya terpuaskan keinginannya bermain-main
Umur-mu juga masih belum “wajib” SD yaa nak…
Tadinya, karena di kantor seperti dikondisikan, sekeliling saya adalah anak-anak dengan usia sama. Range 5-6 tahunan. Dan sama-sama sedang mencari SD untuk anak-anaknya. Saya merasa, “nggak OK” nih kalo’ asha nggak SD juga.
Tetapi kalo’ dipikir lebih dalam, saya teringat pernah membaca, kebahagiaan anak itu harus dijadikan landasan dalam setiap keputusan yang menyangkut mereka. Memaksakan asha ke SD kok seperti membuat dia terbebani dengan tanggung jawab yang belum waktunya dia pikul yaa… Takutnya nanti dia malah nggak enjoy dalam menjalani hidupnya. Dan malah kehilangan moment anak-anaknya.
Kami masih punya sekitar 4 bulan untuk memutuskan sih… Akan kami evaluasi lagi semua kemungkinan itu, karena tetap, proses drilling asha juga masih berlangsung tiap malam.
Every children is different. That’s why we shouldn’t give each of them the same treatment right ?
We only want to make sure that you both are happy to be our kiddos. Love you !
Entah ini tulisan saya yang ke-berapa yang berjudul seperti ini ![]()
Silahkan deh kalo’ mau bosen bacanya, tapi saya tetap akan sering bercerita dengan topik yang sama. Lucuuuuu soalnya
Setting 1 :
Sore hari weekend, di rumah. Di luar sedang hujan lebat disertai petir dan geluduk. Bener-bener bikin semua orang di rumah takut lah pokoknya.
Dan kami berkumpul di ruang keluarga, di depan tv (yang dalam kondisi dimatikan oleh asha).
Asha [A] : “Mama, kata bu Aida, kalo’ ada petir nggak boleh nyalain TV ma…”
Saya [S] : “Iya sayang. Soalnya takut TV-nya meledak. Iya nggak apa-apa kok dimatiin” *malah seneng kali sha kalo’ mama mah
*
backsound : Ogie ngerengek
A : “Ssstt… Ogie, itu petir. Nggak boleh takut. Petir kan juga ciptaan Allah…”
Hahahaha… saya dan Erwin liat-liatan sambil menahan tawa. Bener-bener deh gaya asha saat itu, meyakinkan sekali ![]()
Lanjut…
S : “Sha, hayuk mewarnai ajah sha. Ambil crayon-mu gih nak !”
A : “Nggak mau ma, crayon asha di depan (di ruang bermainnya). Ada petir ma. Asha takut !”
Lepas deh tawa yang dari tadi kami tahan… Asha… asha…
Pake’ sok nasehatin adiknya…
Setting 2 :
Saya dan asha sedang sibuk berduaan. Dalam arti sibuk yang sebenarnya. Saya sibuk membaca koran minggu. Sementara asha sibuk dengan hape saya, menonton clip kesukaannya, Calendar Song. Lagu yang baru dia kenal dari Totti, temannya.
S : “Kamu suka banget yaa sha sama video lagu itu ?”
A : “Iya ma. Ini lucu lho ma. Lagunya bagus !”
Sementara saya melanjutkan membaca, dia tiba-tiba nyeletuk.
A : “Ma, besok kita kasih lagu ini ke Totti ajah yaa ma. Kasian Totti ma, punya Totti jelek.”
Yang dimaksud jelek oleh Asha adalah, karena Totti menonton lagu-nya secara streaming dari YouTube. Dan karena koneksi yang jelek, sehingga terjadi buffering.
Moral cerita ini, yang bikin saya kagum sama asha saat itu adalah, alhamdulillah dia masih mau memikirkan orang lain sementara dia sedang menikmati lagu yang baru dia kenal… ![]()
Jadilah saat itu saya harus menjelaskan apa itu download, dan apa itu buffering
Setting 3 :
Kami (Erwin, saya dan asha) pulang dari XXI dalam rangka meng-entertain asha dengan Happy Feet 2. Note : Great Movie !
Saat mau tidur, asha dengan lucu berkata kepada pengasuhnya.
A : “Uwi, besok pagi ajah yaa asha cerita film-nya. Sekarang asha ngantuk
”
Gaya yaa asha sekarang…
Thank you for cheering up our world, ya Nak.
Semoga kamu menjadi orang yang disayang Allah terus nak…
Bener-bener deh, waktu tuh beneran nggak berasa…
Siapa yang nyangka, anak yg waktu dilahirin masih merah dulu itu, sudah berusia 5 tahun lagi sekarang
Time is really flying. Dan alhamdulillah, kalo’ melihat asha sekarang, those time flies for a reason. Nggak sia-sia.
Ulang tahun asha tahun ini (lagi-lagi) jatoh berdekatan dengan Lebaran. Yang artinya, saat liburan sekolahnya. Dan tahun ini kami tidak mudik.
Asha memang tidak kami biasakan merayakan ulang tahun. Tetapi, untuk hari kelahirannya, kami usahakan ada penanda moment itu terdokumentasi. Iyaa, sejak usia sebulan, kami punya foto asha dengan kue ulang bulan atau ulang tahun-nya
2 September tahun ini jatuh di hari ke-5 lebaran. Dan bertepatan dengan jadwal silaturahmi keluarga besar mama. Jadilah, kami membeli kue untuk dimakan bersama-sama. Untuk urusan kue-nya, kami biarkan asha yang memilihnya ![]()
Pada saat hari pertama sekolahnya setelah lebaran, kami bawakan lagi satu kue ke kelasnya untuk dibagi bersama teman-temannya. Pilihan asha juga tentunya…
Alhamdulillah, dia sangat senang dan antusias mempersiapkan momen-momen tersebut. Semoga sampai dia besar nanti, dia akan mengingat masa-masa itu…
Asha di usia 5 tahun sudah menjadi seorang kakak ! Dan kami sebagai orang tuanya menganggap, she’s ready for it !
Beneran deh, asha tuh beneran kakak yang maniiisssss banget. Empati yang kami tahu memang sangat tinggi, sepertinya sangat membantu dia untuk siap menjadi kakak.
Saat malam, dia sering bilang saat saya sedang meninabobokan dia, “mama, mama bobo sama adek ajah di atas. Kasian itu adek sendirian ma..” ![]()
Seperti itu. Tetapi sebagai orang tua yang masih belajar, kami juga mengerti. Asha masih tetap anak kecil. Kami masih ingin memanja-manjakan dia. Jadi kadang permintaan itu kami alihkan dengan cerita yang menarik perhatian dia lagi
Asha 5 tahun, belum pisah tidurnya
Iyaa, kami bisa dibilang masih bobo ber-4 di dalam satu kamar. Dengan 3 kamar tidur ! Kalo’ masalah ini, silahkan salahkan kami sebagai orang tua. Kami belum tega memisah asha
Silahkan men-judge kami tidak melatih anak mandiri, karena kami lihat, asha justru terlalu mandiri untuk anak seusia-nya. Kadang kami takut dia terlalu cepat tidak butuh kami lagi. Hehehe…
Asha 5 tahun, sudah menjadi “alarm” sholat bagi orang satu rumah. Setiap adzan, dia berkeliling menanyakan satu persatu.. “Mama udah sholat ?” “Papa udah sholat ?” Hehehe… biasanya dia akan ikut menjadi makmum siapapun yg dia ingini saat itu.
Asha 5 tahun, sudah berani naik sepeda ! Dan ngebut ! Hedeehh… hobi yang satu ini yang mulai membuat saya ketar-ketir. Setiap dia pulang bersepeda, saya selalu was-was menunggu di pintu rumah. Takut dia jatuh dan berdarah-darah seperti awal-awal dia tahu enaknya kebut-kebutan..
Asha 5 tahun, sudah bisa dideteksi bahwa dia penyimak yang handal. Dengan mengajarkan dia satu-dua kali hal-hal baru yang ditemui, alhamdulillah bisa disimpan dengan baik di ingatannya. Membuat mamanya ketar-ketir.. Mama kan mau kamu jadi dokter nak
hehehehe…
Permainan yang paling dia sukai adalah permainan pura-pura menjadi guru
murid-muridnya adalah teman-teman imajinari-nya. Bahan pelajaran yang diajarkan adalah hapalan doa-doanya dari sekolah atau buku-buku cerita yang biasa saya bacakan sebelum dia tidur dan dibacakan ulang dalam versi asha dengan gaya yang lebih lucu !
Bener deh, asha itu pencerita ulung ! Saya sampai ngumpet-ngumpet pada saat cuti untuk membuat video saat dia pura-pura menjadi guru, supaya saya bisa mengulang-ulang menontonnya di kantor saat kangen dia !
Asha 5 tahun, tetap susah makan. Dan sepertinya kami sudah harus mulai menerima, dia nggak terlalu suka makan makanan utama
*turunan sapa sih iniihhh ? :p* dia lebih suka “ngemil”. PR bagi mama dan saya untuk menyiapkan makanan-makanan pengganjal
Asha 5 tahun, membuat kami berdua sadar. Sebentar lagi kami akan memasukin fase baru pengasuhan anak… Mengasuh anak SD. Hohohoho… Will be more challenging pastinya !
Happy Birthday, kiddo… We love you !
Categories
Tags
4 adek Gie al-marjan anak anniversary arthur ashe Asha athlete australia axioo baby G bbm bengong berbohong birthday blog bondowoso Books brand budgeting business celoteh cerita puri curhat Daily doa dream empati erwin Family film financial Friendship Gie kelompok bermain keluarga kiddos kids lebaran mudik parenting Rumah telepon thought weekendArchives






