Kalo’ yang baca tulisan ini ber-gender perempuan dan sudah dipercaya menjadi ibu, mari mengaku, apakah akan bisa percaya melepas anak jalan berdua saja sama papa-nya dengan rentang waktu lebih dari 2-3 jam plus tau bahwa akan beredar di area publik (bukan ngendon di rumah saja) ?
Berani bertaruh deh tiwi mah… most will quitely whisper : uuhhmmm, actually, BIG NO !
Hehehe, dulu tiwi juga gitu kok ! (sebenernya sekarang masih juga sih, tp kalo’ diprosentase, mungkin tingkat kepercayaan itu akan naik seiring usia pernikahan dan usia anak kali yaa).
Awal-awal “terpaksa” harus percaya asha akan baik-baik saja pergi hanya berdua Erwin adalah saat tiwi hamil kemarin. Kondisi hamil membuat tubuh lebih cepet capek pasti yaa, plus bentuk fisik kan juga sedang berubah ya. Mengendut
Sedikit menghalangi kelincahan gerak pastinya. Sedangkan asha sedang di usia 4-5 tahun sedang masa-masanya exploring things ! Kasian kan kalo’ malah asha yang mengalah nggak melakukan apa-apa atau mengurangi waktu jalan-jalannya cuma karena tiwi capek
Pertama kali asha dan papa-nya pergi berdua saja, itu saat tiwi sedang “skripsi” kursus foto. Mengharuskan berterik-terik di daerah Kota dan bundaran HI, berburu gambar untuk tugas akhir selama 2 hari full !! Kasian kan kalo’ asha harus menunggu di tempat saja. Museum Fatahilah dan Kafe Batavia mah udah khatam oleh mereka berdua saking memang lama beneran proses hunting tiwi saat itu.
Jadi, berkelana-lah dia bersama Erwin. Naik Trans Jakarta ke Blok M dari halte Kota Tua, bolak-balik. Berkeliling di Plaza Indonesia, Blok M Plaza, dll. Sampe ending-nya nongkrong selepas Maghrib di bunderan HI
Sejak saat itu, asha seperti keranjingan moda transportasi Trans Jakarta. Setiap terlewat halte ditanya namanya, dihafalkan. Kalo’ weekend nggak ada acara apapun, dan #asha ditanya pengen apa, jawabnya pasti “naek busway, ma !”
Hedehhh… Bahkan choo-choo yang ada di mall-mall itu kalah sama busway ! Dia akan tetap konsisten memilih busway jika kami memberikan pilihan ![]()
Biasanya, kalo’ akhirnya memang naik busway, tiwi memilih menunggu di tempat terdekat dengan halte tujuan turun mereka. Membiarkan asha dan Erwin menghabiskan papa and daughter time…
Yang keren kemarin dong. Baru banget kemarin Kamis. Kebetulan di rumah sedang ada ibu Bondowoso. Semua juga tau kan, kalo’ perempuan di belahan dunia manapun, sangat identik dengan BELANJA ! Plus, apa-apa di Bondowoso itu mahal sekali dibanding JKT. Terutama untuk baju. Udah jadi agenda rutin, kalo’ orang rumah Bondowoso ke JKT itu pasti belanja tekstil. Belanja tekstil di JKT itu identik dengan Tenabang kan ?
Berhubung Erwin memang sudah mengambil cuti, diputuskan Kamis kemarin aja deh ibu dibawa ke Tenabang. Mumpung bukan weekend, yang pastinya penuh atau toko-nya terbatas. Solusi-nya, tiwi ijin setengah hari di kantor.
Erwin & asha bersama rombongan start dari rumah. Tiwi dari kantor. Meeting point-nya di Thamrin City dengan pertimbangan tempat parkir.
Dari awal memang asha tidak akan tiwi perbolehkan ikut ke ThamCit atau Tenabang. Tau sendiri kan, penuhnya kedua tempat itu seperti apa. Blom deh, blom se-percaya itu melepas asha bersama orang lain
Dan petualangan asha dan papa-nya pun dimulai…
Mereka diturunkan di Grand Indonesia [1], karena ada tas yang diincar Erwin. Tapi ternyata nggak ada model yang dia mau-in di sana. Diajaklah anak perempuan-ku itu ke Senayan City [2], naik taksi-lah mereka ke sana. Karena memang tengah hari bolong, Erwin nggak tega ke anaknya. Tas-nya dapet di SenCi. Perjalanan dilanjut ke Ratu Plaza, karena ada CD Game yang jadi incaran Erwin berikutnya. SenCi ke Ratu Plaza [3], berjalan kaki dan menyebrang jalan ![]()
Dari Ratu Plaza, mereka naek TransJakarta balik lagi ke daerah terdekat dengan Thamrin City. Karena saya dan ibu memang “cuma” bertujuan ke ThamCit dan Tenabang saja. Tapi pastinya mah bakal lebih lama proses hunting-nya kami… ![]()
Turunlah mereka di halte Plaza Indonesia [4].
Karena anak kecil-nya lapar, akhirnya mereka berdua makan di Chopstix, PI. Mie Goreng lah, tetep andalan di kala asha lapar dan bisa dipastikan habis dengan cepat ![]()
Sudah selesai makan siang, dan sholat Dzuhur di musholla favorit asha di Lt. 3 PI, tetap belum ada kabar dari rombongan emaks, Erwin mutusin untuk menunggu di ThamCit [5] saja supaya cepat pulang kalo’ urusan perempuan sudah selesai
PI-Thamrin City mereka tempuh dengan Ojek (ini kali kedua asha naik ojek lho ! Yang pertama itu waktu mereka berkelana ITC Kuningan-Ratu Plaza untuk urusan service notebook dan game console ! Bayangin deh jaraknya…! Bikin stress pas dikasih tau dulu itu)
Waktu akhirnya ketemu asha di Thamrin City, anak kecil-nya lari-lari dengan wajah kucel tapi ekspresi riang gembira !! Hedeehh… kasian tapi ngeliat dia seneng gitu yaa ikut seneng juga sih ![]()
Pas ditanya, asha ngapain aja sama papa ? Berceritalah mulut ngecepres itu dengan cepatnya.
Dan jujur, tiwi nggak menduga sama sekali segitu banyak-nya tempat yang mereka mampiri ![]()
Keren-nya lagi (sekaligus ngenes sebenarnya), nggak ada fisik barang apapun yang dia minta selama bertualang selama itu !
Hebat ya ? Nggak ngerengek apapun sama sekali
Bahkan ditawarin apa-apa, dia nggak mau ![]()
Cukup jalan-jalan saja. Anak manis…
Selama terpisah dengan mereka berdua, memang BBM jadi alat komunikasi yang ampuh buat bikin lebih tenang sih…
Erwin selalu ngabarin sudah ada dimana posisi. Begitu juga tiwi. Kecuali kalo’ memang cuma sebentar seperti di GI dan Ratu Plaza gitu… Makanya sempet kaget-kaget waktu denger cerita asha. Hehehe…
Overall, sepertinya melihat kesuksesan kemarin, kapan-kapan bisa diagendakan dengan sengaja untuk me-time melarikan diri refleksi saat weekend-an sama mereka yaa :p
Proud of you, mas… Love you, sha.
Hehehe, judul yang aneh ya ? Biar deh. Orang lagi pengen cerita. Bukan lagi pengen pusing sama judulnya doang
Jadi, sekarang kan Asha alhamdulillah sudah TK B. Seharusnya, kalo’ mengikuti hirarki pendidikan resmi, tahun depan, dia sudah jadi siswa SD (hayah, dah gede banget yaa kamu, nduk).
Persiapan anak pindah dari TK ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA yang perlu diwaspadai orang tua-nya, yang paling penting adalah budget. Dan ngomongin budget, tentunya sudah harus dengan calon-calon sekolah untuk anak yang kita pengenin.
Pertanyaan selanjutnya, sekolah mana sih yang saya dan suami inginkan untuk anak-anak ?
Jawabannya sih pasti standarlah semua orang tua di belahan bumi manapun yaa… Sekolah yang Terbaik untuk anak-anaknya.
Sedangkan Terbaik itu sendiri kan subjektif. Menurut saya terbaik, belum tentu menurut teman saya terbaik juga kan ? ![]()
Kalo’ menurut salah seorang teman yang memiliki ilmu psikologi, sekolah bisa dibilang terbaik, salah satu parameternya adalah sekolah yang bisa memenuhi ekspektasi orang tua-nya terhadap pola didik yang mereka inginkan terhadap anak-anak-nya. Gitu katanya..
Kalo’ untuk kasus saya, bolehlah terbaik itu ditambahkan sebagai : jarak yang dekat dari rumah (karena cah wedhok-nya kalo’ bangun pagi itu ampun deh cara ngebanguninnya), kurikulum yang tidak terlalu menyiksa (full-day school itu jelas tidak akan saya pilih untuk asha atau gie), berbanding lurus antara apa yang sudah saya bayarkan, dengan apa yang anak-anak saya dapatkan. Jadi bukan suatu masalah juga kalo’ memang standar SPP-nya agak di atas rata-rata, asalkan fasilitas sekolah itu lengkap-kap-kap. Seperti TK-nya sekarang yang saya pilih, cuma karena playground-nya bagus dan ada kolam renangnya ! Hehehehe…
Balik ke konsep keselarasan pola didik, jadi yaa, kalo’ emang di rumah dititik beratkan ke konsep tanya-jawab-analisa, usahakan pada saat survey sekolah, hal itu dititik beratkan. Atau kalo’ di rumah dititik beratkan ke konsep study hard, play harder, yaa itu juga kudu ditelaah lebih lanjut (mulai kaya’ skripsi yaa bahasanya :p)
Sebagai orang tua yang tergolong perfeksionis (sebelom jadi orang tua juga udah gitu sih !), alhamdulillah untuk urusan biaya sekolah asha, sudah disiapkan sejak anaknya belom lahir pun
sampe dulu tuh suka bikin teller bank-nya cengar-cengir.
Untuk urusan survey sekolah, sejak asha mau masuk TK juga sudah sekalian melakukan survey SD-nya. Dengan pertimbangan, biasa-nya akan ada potongan harga dan prioritas pada saat penerimaan kan ?
Survey lanjutan saya cicil dengan mengambil cuti 1 hari per bulan. Dengan target mengunjungi 2 SD per hari-nya. Alhamdulillah, di SD Al-Marjan yang menjadi salah satu pilihan teratas, saya bisa bertemu dengan kepala sekolahnya, dan ngobrol banyak dan makin haq-qul yakin. Cuuusss… jadilah Al-Marjan menjadi prioritas utama.
Nah, pada saat pilihan ditentukan, ternyata sekolah ini mensyaratkan hasil uji psikologis terhadap calon siswa. Kami diberikan list of psikolog rujukan. Alhamdulillah, salah satu psikolog senior yang ada di list, merupakan pemilik lembaga psikolog saya saat SD. Jadi yaa akhirnya asha dijadwalkan ke sana.
Pada saat bertemu dengan psikolognya pertama kali, eyang (psikolog itu kami panggil) sudah ngasih #kode. Sepertinya anak ini masih terlalu kecil dari sisi attitude untuk bisa ke SD. Tapi karena baru kesan di pertemuan pertama, akhirnya asha malah dijadwalkan untuk mengikuti taman bermain yang ada di rumahnya setiap 2x seminggu. Alhamdulillah, ada beberapa perubahan signifikan sejak asha mengikuti konseling teratur tersebut.
Tetapi setelah jalan 2 bulan, kesimpulan saya dan eyang juga sama.
Asha masih ingin banyak bermain. Dan saya sebagai orang tua sepertinya juga tidak akan tega memaksakan dia ke SD, yang punya konsekuensi jadwal lebih teratur, pelajaran yanglebih serius, kosakata yang makin njelimet, waktu bermain tentunya lebih sedikit lah yaa…
Jadi untuk sementara ini, sepertinya skenario untuk tahun depan, asha akan dibiarkan mengulang TK B-nya lagi supaya terpuaskan keinginannya bermain-main
Umur-mu juga masih belum “wajib” SD yaa nak…
Tadinya, karena di kantor seperti dikondisikan, sekeliling saya adalah anak-anak dengan usia sama. Range 5-6 tahunan. Dan sama-sama sedang mencari SD untuk anak-anaknya. Saya merasa, “nggak OK” nih kalo’ asha nggak SD juga.
Tetapi kalo’ dipikir lebih dalam, saya teringat pernah membaca, kebahagiaan anak itu harus dijadikan landasan dalam setiap keputusan yang menyangkut mereka. Memaksakan asha ke SD kok seperti membuat dia terbebani dengan tanggung jawab yang belum waktunya dia pikul yaa… Takutnya nanti dia malah nggak enjoy dalam menjalani hidupnya. Dan malah kehilangan moment anak-anaknya.
Kami masih punya sekitar 4 bulan untuk memutuskan sih… Akan kami evaluasi lagi semua kemungkinan itu, karena tetap, proses drilling asha juga masih berlangsung tiap malam.
Every children is different. That’s why we shouldn’t give each of them the same treatment right ?
We only want to make sure that you both are happy to be our kiddos. Love you !
Entah ini tulisan saya yang ke-berapa yang berjudul seperti ini ![]()
Silahkan deh kalo’ mau bosen bacanya, tapi saya tetap akan sering bercerita dengan topik yang sama. Lucuuuuu soalnya
Setting 1 :
Sore hari weekend, di rumah. Di luar sedang hujan lebat disertai petir dan geluduk. Bener-bener bikin semua orang di rumah takut lah pokoknya.
Dan kami berkumpul di ruang keluarga, di depan tv (yang dalam kondisi dimatikan oleh asha).
Asha [A] : “Mama, kata bu Aida, kalo’ ada petir nggak boleh nyalain TV ma…”
Saya [S] : “Iya sayang. Soalnya takut TV-nya meledak. Iya nggak apa-apa kok dimatiin” *malah seneng kali sha kalo’ mama mah
*
backsound : Ogie ngerengek
A : “Ssstt… Ogie, itu petir. Nggak boleh takut. Petir kan juga ciptaan Allah…”
Hahahaha… saya dan Erwin liat-liatan sambil menahan tawa. Bener-bener deh gaya asha saat itu, meyakinkan sekali ![]()
Lanjut…
S : “Sha, hayuk mewarnai ajah sha. Ambil crayon-mu gih nak !”
A : “Nggak mau ma, crayon asha di depan (di ruang bermainnya). Ada petir ma. Asha takut !”
Lepas deh tawa yang dari tadi kami tahan… Asha… asha…
Pake’ sok nasehatin adiknya…
Setting 2 :
Saya dan asha sedang sibuk berduaan. Dalam arti sibuk yang sebenarnya. Saya sibuk membaca koran minggu. Sementara asha sibuk dengan hape saya, menonton clip kesukaannya, Calendar Song. Lagu yang baru dia kenal dari Totti, temannya.
S : “Kamu suka banget yaa sha sama video lagu itu ?”
A : “Iya ma. Ini lucu lho ma. Lagunya bagus !”
Sementara saya melanjutkan membaca, dia tiba-tiba nyeletuk.
A : “Ma, besok kita kasih lagu ini ke Totti ajah yaa ma. Kasian Totti ma, punya Totti jelek.”
Yang dimaksud jelek oleh Asha adalah, karena Totti menonton lagu-nya secara streaming dari YouTube. Dan karena koneksi yang jelek, sehingga terjadi buffering.
Moral cerita ini, yang bikin saya kagum sama asha saat itu adalah, alhamdulillah dia masih mau memikirkan orang lain sementara dia sedang menikmati lagu yang baru dia kenal… ![]()
Jadilah saat itu saya harus menjelaskan apa itu download, dan apa itu buffering
Setting 3 :
Kami (Erwin, saya dan asha) pulang dari XXI dalam rangka meng-entertain asha dengan Happy Feet 2. Note : Great Movie !
Saat mau tidur, asha dengan lucu berkata kepada pengasuhnya.
A : “Uwi, besok pagi ajah yaa asha cerita film-nya. Sekarang asha ngantuk
”
Gaya yaa asha sekarang…
Thank you for cheering up our world, ya Nak.
Semoga kamu menjadi orang yang disayang Allah terus nak…
Bener-bener deh, waktu tuh beneran nggak berasa…
Siapa yang nyangka, anak yg waktu dilahirin masih merah dulu itu, sudah berusia 5 tahun lagi sekarang
Time is really flying. Dan alhamdulillah, kalo’ melihat asha sekarang, those time flies for a reason. Nggak sia-sia.
Ulang tahun asha tahun ini (lagi-lagi) jatoh berdekatan dengan Lebaran. Yang artinya, saat liburan sekolahnya. Dan tahun ini kami tidak mudik.
Asha memang tidak kami biasakan merayakan ulang tahun. Tetapi, untuk hari kelahirannya, kami usahakan ada penanda moment itu terdokumentasi. Iyaa, sejak usia sebulan, kami punya foto asha dengan kue ulang bulan atau ulang tahun-nya
2 September tahun ini jatuh di hari ke-5 lebaran. Dan bertepatan dengan jadwal silaturahmi keluarga besar mama. Jadilah, kami membeli kue untuk dimakan bersama-sama. Untuk urusan kue-nya, kami biarkan asha yang memilihnya ![]()
Pada saat hari pertama sekolahnya setelah lebaran, kami bawakan lagi satu kue ke kelasnya untuk dibagi bersama teman-temannya. Pilihan asha juga tentunya…
Alhamdulillah, dia sangat senang dan antusias mempersiapkan momen-momen tersebut. Semoga sampai dia besar nanti, dia akan mengingat masa-masa itu…
Asha di usia 5 tahun sudah menjadi seorang kakak ! Dan kami sebagai orang tuanya menganggap, she’s ready for it !
Beneran deh, asha tuh beneran kakak yang maniiisssss banget. Empati yang kami tahu memang sangat tinggi, sepertinya sangat membantu dia untuk siap menjadi kakak.
Saat malam, dia sering bilang saat saya sedang meninabobokan dia, “mama, mama bobo sama adek ajah di atas. Kasian itu adek sendirian ma..” ![]()
Seperti itu. Tetapi sebagai orang tua yang masih belajar, kami juga mengerti. Asha masih tetap anak kecil. Kami masih ingin memanja-manjakan dia. Jadi kadang permintaan itu kami alihkan dengan cerita yang menarik perhatian dia lagi
Asha 5 tahun, belum pisah tidurnya
Iyaa, kami bisa dibilang masih bobo ber-4 di dalam satu kamar. Dengan 3 kamar tidur ! Kalo’ masalah ini, silahkan salahkan kami sebagai orang tua. Kami belum tega memisah asha
Silahkan men-judge kami tidak melatih anak mandiri, karena kami lihat, asha justru terlalu mandiri untuk anak seusia-nya. Kadang kami takut dia terlalu cepat tidak butuh kami lagi. Hehehe…
Asha 5 tahun, sudah menjadi “alarm” sholat bagi orang satu rumah. Setiap adzan, dia berkeliling menanyakan satu persatu.. “Mama udah sholat ?” “Papa udah sholat ?” Hehehe… biasanya dia akan ikut menjadi makmum siapapun yg dia ingini saat itu.
Asha 5 tahun, sudah berani naik sepeda ! Dan ngebut ! Hedeehh… hobi yang satu ini yang mulai membuat saya ketar-ketir. Setiap dia pulang bersepeda, saya selalu was-was menunggu di pintu rumah. Takut dia jatuh dan berdarah-darah seperti awal-awal dia tahu enaknya kebut-kebutan..
Asha 5 tahun, sudah bisa dideteksi bahwa dia penyimak yang handal. Dengan mengajarkan dia satu-dua kali hal-hal baru yang ditemui, alhamdulillah bisa disimpan dengan baik di ingatannya. Membuat mamanya ketar-ketir.. Mama kan mau kamu jadi dokter nak
hehehehe…
Permainan yang paling dia sukai adalah permainan pura-pura menjadi guru
murid-muridnya adalah teman-teman imajinari-nya. Bahan pelajaran yang diajarkan adalah hapalan doa-doanya dari sekolah atau buku-buku cerita yang biasa saya bacakan sebelum dia tidur dan dibacakan ulang dalam versi asha dengan gaya yang lebih lucu !
Bener deh, asha itu pencerita ulung ! Saya sampai ngumpet-ngumpet pada saat cuti untuk membuat video saat dia pura-pura menjadi guru, supaya saya bisa mengulang-ulang menontonnya di kantor saat kangen dia !
Asha 5 tahun, tetap susah makan. Dan sepertinya kami sudah harus mulai menerima, dia nggak terlalu suka makan makanan utama
*turunan sapa sih iniihhh ? :p* dia lebih suka “ngemil”. PR bagi mama dan saya untuk menyiapkan makanan-makanan pengganjal
Asha 5 tahun, membuat kami berdua sadar. Sebentar lagi kami akan memasukin fase baru pengasuhan anak… Mengasuh anak SD. Hohohoho… Will be more challenging pastinya !
Happy Birthday, kiddo… We love you !
O iya, nyambung postingan terbaru, ada celetukan asha yang bisa bikin terpingkal-pingkal waktu liburan kemarin…
Asha [A] : “Ma, emang Ogie ini adik asha ma ?”
Saya [S] : “Ya iya lah nak.. Ini adikmu.”
A : “Emang ini bulan apa, Ma ?”
S : “Juli nak..” *sambil masih berpikir arah pembicaraan*
A : “Iihhh nggak…nggak Ma ! *sambil nyureng dan tangannya bergerak menandakan penolakan* Ogie bukan adik asha. Adek kan lahirnya AGUSTUS, Ma ! Masih nanti…”
Iyaa, selama check up rutin kehamilan kan asha selalu ikut. Dia juga sudah diwanti-wanti bahwa adiknya akan lahir di bulan Agustus. Tetapi karena posisi bayi yang sungsang, kan kelahirannya dipercepat. Itu yang belum asha mengerti ![]()
Buat dia, adiknya adalah bayi yang lahir di bulan Agustus.
I love you, my big girl !! stay that way yaa, Nak… :-*
Let’s enjoy the roller coaster !!
Baiklah… berakhir juga liburan 3 bulan yang (ternyata) sangat menyenangkan !! Enak yaa libur lama itu… ![]()
Maklum, anak sudah 2, tapi soal pengalaman cuti melahirkan yg full, yaa baru kali ini dialamin.
Jangan tanya kenapa. Karena sempet nyesel juga kenapa waktu itu memilih me-lembur. Hehehe…
Gimana ceritanya punya anak 2 ? Repot, sudah kebayang lah itu. Resiko ! Asha cemburu, sudah pasti lah…
Yang nggak kebayang tuh, cemburunya Asha alhamdulillah berbeda dengan cemburu-cemburu anak-anak seumur dia kebanyakan kepada saudara kandungnya. Cemburunya asha syukurnya nggak dilampiaskan dengan nge-jailin adiknya atau menyakiti adiknya.. Dia malah sayaaaaanngg banget sama Gie. Bangun tidur, yang ditanya duluan pasti Gie. Mau bobo, pasti bilangnya, “mama jagain adek yaa”. Kalau saya sudah berseragam perlengkapan memandikan, dia sudah siaga dekat-dekat ke tempat tidur untuk menyiapkan handuk yang memang dijadikan tanggung jawabnya. Gitu..
Cemburunya asha yang lumayan menyita pikiran kami karena caranya lebih ke “cari perhatian” ke kami berdua. Ke papa dan mama-nya. Jadi, kalau kami sedang mau menggantikan pampers atau memberi susu ke adiknya, saat itu biasanya ada ajah yang dia minta lakukan ke dirinya. Yang minta tolong ambilkan mainan lah.. yang minta cariin tontonan apa di YouTube lah, ngajak main Angry Bird lah.. Seperti itu
Saat punya Gie, saya jadi mengerti ungkapan orang tua dulu. Bahwa beda anak, beda karakter. Beda pula caranya membesarkan.
Dengan tingkah laku asha yang menunjukkan cemburu justru dengan cari perhatian, saya jadi semakin paham, bahwa dia tipe anak yang introvert. Sukar menunjukkan secara terang-terangan apa yang dia suka atau yang dia tidak suka.
PR bagi kami sebagai orang tuanya untuk lebih bisa memahami dia, masuk ke dunia dia. Supaya dia terbiasa menganggap kami sebagai teman, membagi apapun yang dia rasakan kepada kami, dan bukan orang lain.
Sebisa mungkin sekarang dihindari kata-kata : “jangan gitu dong sha, kasian adik !” karena jujur, asha tuh maniisssss banget terhadap adiknya. Hanya kadang cara dia menunjukkan kasih sayangnya yg masih suka kebablasan
Sudah 3 bulan Gie hadir melengkapi keluarga kecil ini. Tapi kami semua masih belajar.
Saya belajar. Erwin belajar. Asha belajar. Bahkan Gie sepertinya kadang juga “terpaksa” belajar menunggu. Hehehe…
Indeed, naik turunnya ritme keseharian kami masih berlangsung. Seru dan bikin kami menjadi lebih dinamis… ![]()
Mudah-mudahan segera dapat menciptakan harmoni yang membuat rumah kami menjadi “pelarian terakhir” bagi semua penghuninya… Tempat yang selalu ngangenin.
Nak, lagi pengen cerita ajah, asal muasalnya disusun nama kamu ![]()
*dan kenapa kamu sepertinya tau, dengan bertingkah banyak di dalam perut, nak ?!
*
Nama kamu, Insya Allah, Ghiyath Arkananta Prastanto.
Ghiyath, artinya Succorer. Kalo’ browsing di internet atau kamus, Succorer (n) : someone who gives help in times of need or distress or difficulty (for me, you really are, son !
you are my succorer).
Arkananta itu kami pilih dari berbagai kandidat “A” lainnya.
Arkananta berasal dari bahasa Sansekerta. Artinya : “Selalu diterangi”. Dan sebagai calon anak soleh, kami berharap, kamu selalu diterangi oleh Cahaya Allah yaa nak.
Iya, buat kami, nama kamu adalah do’a nak. Supaya kamu kelak menjadi anak yang selalu bisa menolong orang-orang di sekitarmu yang membutuhkan dan senantiasa diterangi oleh cahaya Allah. Jadi Insya Allah, kamu nggak akan tersesat dalam menjalani hidupmu. You’ll be an Imaam someday, Son. Semoga kamu jadi Imaam yang selalu dibimbing Allah yaa…
Nama itu sudah ada sebelum kamu ada di dalam perut mama sebenarnya. Kami temukan sebelum kakak Asha lahir malahan
Waktu itu, nggak sengaja, ada artikel tentang Omar Khayyam di harian Kompas (tuh, klipingnya mama simpan di folder-mu nak..).
Kamu tau siapa itu Omar Khayyam ? Dia itu, ahli matematika dan astronomi yang juga sastrawan Islam.
Nama kecil Omar Khayyam adalah : Ghiyath. Mama suka banget sama nama itu. Unik ! Dan papa mengamini. Jadilah… ![]()
Do’a kami juga, supaya kami bisa sehebat beliau dalam mengkaji semua ilmu yaa, nak.
Kenapa Arkananta ?
Nama kamu dan saudara-saudaramu itu 3 kata nak. 1 kata dari mama, 1 kata dari papa, 1 kata “given“, Prastanto, gabungan mama dan papa. Dan pastinya, biar tambah unik, sebisa mungkin inisialnya GAP
Ghiyath sudah dari mama. A-nya itu jatah papa.
Jadilah kami berdua browsing-browsing, baca-baca. Urusan nama, bagi kami itu urusan jangka panjang. Jadi kami sebisa mungkin tidak sembarangan dalam memberikan nama untuk Asha (kamu dan calon saudara kalian lainnya mungkin)
Nah, selama kamu di dalem perut dan nama kamu belum publish, kami memanggilmu dengan Gie. Siapa itu Gie ? Gie itu aktivis mahasiswa UI; adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya.
Semoga yaa, Nak. Tapi mudah-mudahan kamu nggak hobi naek gunung yaa, bisa deg-deg-an mama nanti, nak !
Assalamu’alaykum our Ghiyath Arkananta Prastanto.
Born on July 23, 2011 06.50 WIB
-
Articles
- January 2012
- December 2011
- November 2011
- August 2011
- July 2011
- June 2011
- April 2011
- January 2011
- September 2010
- August 2010
- July 2010
- June 2010
- March 2010
- February 2010
- January 2010
- December 2009
- November 2009
- October 2009
- September 2009
- August 2009
- July 2009
- June 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- October 2008
- September 2008
- August 2008
- July 2008
- June 2008
- May 2008
- April 2008
- January 2008
- October 2007
- August 2007
- July 2007
- June 2007
- April 2007
- March 2007
- September 2006
- August 2006
- July 2006
- June 2006
- May 2006
- September 2005
- August 2005
- July 2005
- June 2005
- May 2005
- April 2005
- March 2005
- February 2005
- January 2005
- December 2004
- November 2004
- October 2004
- September 2004
- August 2004
- July 2004
- June 2004
- May 2004
- April 2004
- March 2004
- February 2004
- January 2004
-
Meta







