Category Archives: A Thought

Tentang (ber)Pindah Kantor

Judulnya tumben banget ya ?! Wong nggak pernah nulis tentang pekerjaan (di kantor) di sini, tiba-tiba ngomongin (ber)pindah kantor…
Tenang aja, nggak bakalan jadi tulisan yang berat dan formil kok. Tetap tentang keseharian, yang kebetulan berhubungan dengan kantor aja… πŸ™‚

Hadiah ulang tahun di 2014 ini dari tiwi sendiri adalah memutuskan untuk (kembali) pindah kantor. Kembali ke lingkungan dimana asha mengalami masa-masa di dalam perut hingga lahir… Hehehe…
Banyak pertanyaan maupun penyataan seperti, “Dasar KUTUUUU, senengnya kok loncat-loncatan ?!”
Ih, perasaan tiwi nggak pindah-pindah sering-sering juga sih… Wong, jumlah kantor yang pernah di”singgahi” juga masih cukup kok dihitung dengan jari tangan (apalagi kalo’ ditambah sama jari kaki, masih boleh kok pindah-pindah kayanya.. :p)

Pindah kantor, berarti ganti atasan. Alhamdulillah, alasan Tiwi pindah tuh nggak pernah karena masalah atasan.
Malah seringnya ragu-ragu, bingung mau ngambil kesempatan itu apa nggak, justru karena faktor “nggak tega” atau “takut nggak bisa dapet” atasan Tiwi saat itu. Artinya, Insya Allah mah anak baik-baik lah yaa… Nggak musuhan sama bos-nya πŸ˜€

Berganti atasan lumayan sering (karena di satu kantor kan bisa jadi ada beberapa pindah bagian tho ?!), banyak pelajaran yang secara nggak langsung ikut membentuk Tiwi sehingga seperti menjadi yang sekarang ini.
Makanya, Tiwi pengen berbagi, apa saja yang bisa “dipelajari” dari beberapa atasan yang pernah Tiwi kerja bareng.

Nih diantaranya… Nggak berdasarkan urutan kantornya ya, seinget Tiwi aja ini mah…

Atasan A : Selalu catat apa yang kamu kerjakan, kerjakan semua yang kamu catat ! (efeknya, tanya Tiwi tentang dokumentasi apapun… Insya Allah mah lumayan ada oret-oretannya, kecuali lagi males kebangetan)
Atasan B : Kalo’ nggak ngerti, TANYA ! Jangan buang-buang waktu ngerjain sesuatu yang kamu gak yakin bener (efeknya, kesannya mah jadi “bego” di awal ya karena bawel… Tapi Insya Allah yang dideliver itu selalu sesuai ekspektasi)
Atasan C : Jangan pernah takut ngajak senang-senang tim lah… Asal bener ajah, kaya makan-makan. Insya Allah, kalo’ bisa bikin orang lain senang, rejeki mah pasti balik lagi ke kita kok ! (ini mengagetkan lho ! karena yang ngomong itu atasan yang tidak terlihat akan berperisip seperti itu dari luar :D)
Atasan D : Tiwi pernah berada di beberapa atasan dengan tipe ini. Menjadi tim beliau-beliau ini, Tiwi belajar untuk bisa percaya penuh ke orang lain. Karena bekerja dengan atasan macem begini, supervisi yang Tiwi dapatkan minimal banget lah… Malah jadi “pakewuh” kan mau “macem-macem” sama kepercayaannya, dan tertantang untuk bisa memberikan yang terbaik
Atasan E : The very Detail Person ! Asli, kagum poll pernah bekerja dengan model yang begini. Jangan pernah macem-macem lah… Semua hal diketahui. Gimana mo ngeles. Makanya, belajar belajar dan belajar, baru menghadap dan present apa yang dia mau, itu udah kudu banget lah ! Rajin baca, it’s a must !
Atasan F : Sepertinya mah nggak ada yang bisa dipelajari dari tipe begini… At least, Tiwi bisa belajar, bahwa
Tiwi pasti bisa menjadi atasan yang lebih baik kalo’ ada di posisi beliau. Hehehe…

Kata Bimbo, Berbuat Baik Janganlah Ditunda-tunda…

Udah lama juga yaa nggak diupdate blog ini πŸ˜€
Bahkan ulang tahun asha tahun ini pun belum sempat didokumentasikan di “rumah” sini. Duh, maaf yaa Nak… Mama-nya lagi banyak kerjaan males banget inih.

Tapi kali ini pengen banget bercerita kejadian tadi pagi.
Kejadian yang “biasa” banget sih. Cenderung memalukan malah. Tapi “ending”-nya beneran bikin kami berdua merenung di sisa perjalanan sepertinya πŸ™‚

Jadi, tadi pagi motor yang kami tumpangi mogok di tengah jalan. Iya, mogok. Padahal motor ini terawat dengan service yang lumayan rutin. Ya wong mogoknya gara-gara kehabisan bensin :p Iya, iya.. motor masih tergolong “muda” kok. Indikator bensinnya juga masih berfungsi normal. Trus kenapa bisa sampe kehabisan bensin ? Wallahu a’lam lah itu yaa… Hanya pak Supir dan Allah yang bisa menjawabnya… πŸ˜€

Dan jujur aja, ini bukan pertama kali mengalami hal seperti ini. 1-2x sudah pernah lah. Tapi tadi pagi itu lumayan bikin keder juga. Bukan apa-apa.
Kalo’ mogoknya di tengah jalan model Gatot Subroto atau Casablanca mah mungkin lumayan tenang lah ya… Ada ojek, ada bus. Nyari bensin juga pasti jalan sedikit, ada lah pom bensin.
Nah, tadi pagi itu, mogoknya di dalam komplek AU Halim. Sekitar landasan lah. Yang punya akses lewat ke komplek Dwikora pasti tau medannya. Bener-bener jauh dari sarana publik pokoknya. Cuma da landasan, kantor-kantor TNI AU, dan komplek TNI. Sarana umum terdekat adalah Pasar Mini, yang jaraknya sekitar 5-7km lah dari lokasi mogok.

Jalanlah kami berdua.. Sambil menuntun motor, dan mengobrol supaya lupa sama capek-nya.
Sementara motor dan mobil war-wer di sebelah kami. Jalanan kosong, ngapain pelan-pelan kan ?! Jam sibuk di pagi hari pula. Pasti mereka bergegas ke tempat kerja masing-masing.

Ndilalah, ada seorang Bapak-bapak, memakai seragam tentara atribut lengkap, mengendarai sepeda ontel menyapa kami. “Gembos tha mas ban-nya ?”
“Ndak pak” sahut suami. “Mogok ini, kehabisan bensin”
Lanjutan penjelasan si Bapak selanjutnya benar-benar di luar dugaan. “Ooo, sampeyan belok kiri aja, satu belokan sebelum mentok, sampeyan belok kanan. Cari rumah yang ada sedan merah di depannya. Biasanya dia sedia bensin kok. Nggak bakal ada plang-nya, sampeyan ketok aja !”

WOW… Walaupun dengan sedikit keraguan keterangan itu akan membantu, kami berterima kasih kepada si Bapak karena sudah mau berhenti dan berniat membantu kami. Berjalanlah kami sesuai arahan beliau.
Dan yak, aba-abanya cukup jelas. Kami menemukan sedan merah terparkir di sebuah rumah yang tidak begitu besar. Dan tidak ada penanda apapun yang menerangkan rumah tersebut menjual bensin.

Dengan PD, kami ketok dan ucapkan salam. Seorang ibu yang sudah sepuh keluar.
[S] : “Ibu, mau tanya, ibu sedia bensin nggak ”
[I] : “Ooo, ada nak. Mau berapa botol ?”
[S] : “Dua saja bu, cukup kok kaya’nya. Asal jalan aja. Berapa bu ?”
[I] : “Sepuluh ribu saja nak…”

Dalam hati saya berpikir, dengan harga semurah itu (dengan lokasi yang ada jauh dari mana-mana, beliau bisa jadi spekulan yang menaikkan harga berapapun, saya yakin), nggak mungkin banget alasan beliau menyediakan stok bensin di rumahnya adalah untuk mencari keuntungan.

Si ibu bercerita sambil menuangkan bensin-nya.
“Memang ada saja mas yang suka mogok gini. Kadang malah anak sekolah, atau yang baru pulang main bola, atau petugas jaga. Jam 11 malem saja suka masih ada yang ngetok rumah. Kasian kan kalo’ mereka mogok di sini. Yaa, itung-itung menolong lah yaa… Ngebantuin mereka. Kadang sedih juga kalo’ bensin di rumah tinggal sebotol. Tapi asal nyala mesin aja sampe mereka nemuin pom lah yaa…”

Dueng…!! Rasanya nyesss gitu dengernya.
Niatnya itu mulia banget. Menolong orang. Bisa dibilang, semua orang yang diniatkan untuk ditolong ini orang yang belum dia kenal. Untuk menambah kenalan, katanya juga.

Ini Jakarta. Dan ternyata masih ada kok orang baik di sini. Walaupun dengan logat Jawa yang sangat medok.
Semoga keberkahan Allah selalu tercurah kepada Bapak dengan sepeda ontel-nya dan Ibu Penyedia Bensin sekeluarga yaa…
Jadi, kapan kita mau mulai berniat “Menolong Orang” yang bahkan belum kita kenal ? πŸ™‚

Kuat Mental ? Nanti dulu…

Ini posting nggak penting banget sebenernya. Tapi bikin saya senyam-senyum beberapa hari ini karena berhasil memecahkan masalahnya !

Jadi latar belakangnya gini… 3 perempuan dan 1 laki-laki sebagai supir, menjalani perjalanan di Jum’at malam menuju tengah kota Jakarta, yang… mmmhhh, tau dong Jum’at malam ? Muaceteeeee poll ! Tapi apa daya, kudu dijalanin. Karena ada cara Farewell si Bapak supir tersayang se-ruangan itu πŸ™‚ *mudah-mudahan beliau nggak baca, GR nanti*

Bertanyalah seorang teman tentang training motivasi yang diadakan kantor bagi GM level up. Karena konon, keluar dari ruangan itu, semua pesertanya mengaku (kepengen atau malah ada yang kebablasan) menangis.
“Kenapa sih, Pak ?” gitu pertanyaannya.

Jawabannya…
“Yaaa, trainingnya itu penutupnya kaya’ waktu kita-kita sekolah dulu gitu lho… Persami gitu. Yang disuruh membayangkan, jasa-jasa orang tuamu… Membayangkan, gimana kalo’ ternyata pas pulang Persami, ibu bapakmu sudah nggak ada lagi… gitu-gitu deh !”

Nah, jadinya kan malah nostalgia tuh di mobil. Lumayan, mengisi kebosanan di tengah macet.
Termasuk pengalaman saya diberi balsem di sekitar mata karena saya tidak kunjung menangis saat jurit malam πŸ˜€ *nguap iya adanya mah… ngantuk !*

Tapi cerita-cerita itu jadi membuat saya berpikir, apakah sekeras itu hati saya dulu, sampai tidak menangis saat jurit malam, yang dipikir-pikir, membuat teman-teman saya terisak-isak bahkan meraung-raung…
Asli, semalaman itu saya berpikir (setelah acara farewel yang berhasil membuat saya berkaca-kaca. Everything won’t be the same again without you, sam…) dan baru berhasil mendapatkan jawabannya keesokan harinya…

Kenapa saya tidak pernah bisa menangis saat jurit malam saat SD ? Hehehe, jawabannya simple kok.
Bukan karena saya nggak sayang kedua orang tua saya. Bukan jugak karena saya kuat mental. Bukan karena hati saya keras (untungnya !). Tapi kenapaa ??

Karena mama dan papa selalu ada di tenda panitia !! Dan saya tau itu !
Hahahaha…

Yups. They can be so over protective for some condition. But i love it !
And i love them.

Siap-siap aja yaa, asha.. ogie.. I’ll treat you both the same ! πŸ™‚

Resep : How to Live a Life

Background-nya gini…
Weekend kemarin, saya iseng di rumah. Buka-buka resep.
Tling, terpikirlah mencoba membuat kue kering favorit saya. Sagu Keju.
Iya, saya kalo’ lagi iseng pengen nekat-nekat coba resep, pasti nyobain resep yang saya memang sudah tau rasanya. Biar tau, berhasil atau tidak…

Timbang, aduk, kocok, cetak, jadilah kue-nya.
Dicicipin satu, “Lho kok enak…”
Nantangin suami buat nyobain, “enak ma !” katanya. #okesip. #keren.

Sampai malamsaya masih merasa takjub sendiri.
Saya baru sekali nyoba bikin kue itu. Tapi alhamdulillah kok langsung enak.
Resep-nya OK nih. Anti gagal. Untung saya nurut poll sama resep.
Nggak sok tau, nekat-nekat ganti, atau kurang-tambah.
Semua orang pasti bisa lah bikin kue ini. Asal manut sama resep.
Dueengg.. dan datanglah lintasan pemikiran yang serius itu.

Kalo’ saat mau bikin kue enak saja, kita harus mau manut sama resep yang biasanya sumbernya sudah kita percaya supaya kita yakin kue-nya bakalan enak.
Kalo’ saat saya mau merangkai LEGO saja saya mau telaten membaca dan melihat gambar di Manual Instruction yang diberikan supaya hasil jadinya sesuai dengan gambar besar di box yang sudah menarik minat saya untuk membeli.
Kalo’ saat mau mulai mengoperasikan mixer yang karena harganya mahal, saya harus mau rela “ngerenyit-ngerenyit” membaca Owner’s Manual yang tulisannya kecil-kecil itu supaya tidak rusak.

Kenapa dalam menjalani hidup yang sukses atau nggak-nya justru bakal dialami oleh kita sendiri, kita masih enggan yaa membaca manual yang jelas-jelas sudah dikirimkan oleh yang Maha Mengirimkan kita ke dunia… πŸ™‚

Tanya kenapa.

Tekad

Semalem baru saja saya menamatkan buku mantan Menteri Kesehatan, (Almh) Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih πŸ™‚
Mbrebes mili membacanya. Karena sebenarnya, bukunya lebih merupakan blog (versi cetak) yang dibuat kejar tayang karena beliau merasa waktu berpulangnya yang sudah dekat.

Di buku itu, kita bisa membaca perasaan-perasaan, curhat-curhat sang Menkes, sebagai seorang ibu. Kenangan beliau, perasaan beliau terhadap anak-anaknya, dituliskan satu per satu di buku itu.

Membuat saya berpikir, saya saja yang orang di luar keluarganya, suka membaca buku itu. Apalagi anak-anaknya yaa…
Pasti perasaan mereka campur aduk dalam mengenang ibu mereka.

Aaahh, membuat saya sedikit tersentil, Ibu diberi tanda-tanda akan berpulangnya dengan sakit kanker-nya. Makanya, beliau bisa menuliskan semua itu dalam jangka waktu yang sebenarnya sedikit sekali.
Sedangkan saya ? Wallahu a’lam kan ?

Kapan saya akan sempat menuliskan kenangan-kenangan saya tentang anak-anak saya jika tidak dimulai dari sekarang secara rutin ?
Kasian Asha dan Ogie kalo’ memang saya nantinya tidak akan sempat me-rewind memory tentang masa kecil mereka dengan cara yang sama dengan mama dan mbah menceritakan bagaimana saya waktu kecil dengan bercerita sebelum tidur.

Yuk ah, ingatkan saya untuk rutin menuliskan milestone mereka, perasaan saya terhadap mereka di blog ini…
Jangan sampai ada yang tercecer.
Karena yang kadang remeh dari anak-anak, itu yang sudah membuat hidup saya begitu terberkahi πŸ™‚

Menulis ? Nggak Susah kok…

Gaya banget yaa judulnya πŸ˜€ Nggak kok, menulis yang dimaksud dalam judul di atas itu, menulis dengan konteks sangat sederhana. Bukan menulis sebuah buku yang sampai diterbitin oleh penerbit terkenal gitu…
Kalo’ kaya’ gitu mah, tiwi juga belum pernah πŸ˜€

Jadi, tadi pagi, ada berkedip di Yahoo Messenger saya. Penanda ada window percakapan baru yang belum terbaca.
Saat saya baca, isinya cukup bisa membuat ngakak tapi juga ngenes
Begini :

“Mbak, bantuin dong.. Disuruh sekolahan anak nih bikin tulisan tentang profil si A. Gimana sih ?”

Balasan saya beneran nanya sih saat itu.

“Anak ? Anak siapa nih yang dimaksud ?”

Lansung disemprot :

“Yaaa, anak aku lah mbak… !”

Hah ! Gimana nggak takjub coba. Wong menuliskan profil anak sendiri, kok minta dibantuin orang lain.
Maksud tiwi, anak kita sendiri, seharusnya, yang lebih mengerti yaa kita sendiri tho ?
Tapi ternyata, bukan masalah dia nggak mengerti anaknya sih sebenernya. Cuma teman saya itu, tidak bisa menuangkannya ke dalam sebuah tulisan.

Mulailah bantuan didatangkan…
1. Saya bilang ke dia : “Kamu kan sering cerita ke aku, si A sekarang udah makan banyak lho, mbak.. si A kok susah nurutnya yaa, mbak…
Coba buka archive YM kamu ke aku, copy paste ke Ms Word. Yakin deh, itu udah bisa lebih dari 1 lembar A4″

2. “Dari lahir apa nggak yaa enaknya ? Abis pas baru lahir kan, selang dimana-mana waktu itu di badannya… Nanti aku sedih”
Supaya pembaca-nya nanti mengerti kenapa profil si A seperti itu, mending dituliskan tahap per tahap, dari sejak lahir sampai sekarang dia sebesar ini, nanti lak ada background, kenapa profil-nya bisa seperti itu…
3. Coba cari-cari foto si A yang paling berkesan buat kamu, terus cerita dari situ. Sertain juga ajah di tulisan untuk profil ini. Toh buat mading kan ? Nanti biar seru bacanya…

Belum sampai tuntas point-per-point dijembrengkan, datanglah berita bahagia itu…
“Nggak usah mbak, mas yang mau nulisin. Horee !”
Huuuu, dasar emang emak ndak mau repot :p

The moral of the story.
Menulis itu kan kadang menuliskan apa yang ada di kepala kita. Kalo’ bercerita ke teman itu menuangkan apa yang di kepala “orally”, nah menulis itu kan bercerita secara “writtenly” *embuh wis bener opo nggak grammar-nya, teuing nyak !*

Jangan bilang nggak bisa sebelum dicoba. Saat ini, banyak media belajar menulis yang bisa digunakan.
Facebook, Twitter, Foursquare. Semua bisa dijadikan tools untuk awal-awal belajar menulis. Menuangkan apa yang ada di kepala ke dalam bentuk tulisan.
Pernah tau ada nggak, ada lho, novel yang diterbitkan diambil dari “kicauan” sang penulis di media Twitter. Dikompilasi, diedit, voila, terbitlah novel yang tebalnya mengalahkan majalah mingguan πŸ™‚

Lagipula, hari gini. Kita nggak akan menghabiskan ber-rim-rim kertas kok untuk belajar menulis. Sudah ada Ms Word. Ada tombol [backspace] untuk men-delete.
Perkara-nya jaman sekarang ini, mau atau nggak. Itu ajah sih !

πŸ™‚

Anak Mandiri. Apa sih ?

Dari pagi, kangen sama asha tuh sampe mau nangis rasanya. Entah kenapa. Pas dicoba ditelepon, alhamdulillah anaknya baik-baik aja di sekolah. Di rumah, malah lagi bobo barusan. Trus kenapa kangennya sampe’ bikin kaya’ pengen pulang banget gini yaa..
Embuh wis… Mending kita cerita asha lagi aja yaa…

Jadi postingan kali ini dilatar belakangi kejadian saat saya mengambil raport asha beberapa waktu lalu. Ada pesan dari wali kelas asha : “mama asha, kepala sekolah mau ketemu.” Baiklah… paling masalah transportasi outbound seperti biasanya lah, begitu pikir saya saat itu.

Ternyata oh ternyata… hari itu, saya ditegur. Mmmhh, atau sebenernya itu curhat sang kepala sekolah ya ? Tapi nadanya sih menegur πŸ˜€
Karena asha selalu didampingi oleh pengasuhnya saat kegiatan di luar sekolah. Apakah itu kunjungan ke pabrik, ourbound, dll. Dan katanya, karena mobil asha selalu “ditumpangi” oleh orang tua yang juga ingin melakukan hal yang sama ke anak-anaknya. Mendampingi. “Tolong bunda, percaya sama sekolah ya. Besok-besok jangan didampingi lagi. Takutnya anak-anak nantinya malah tidak mandiri…”

Jujur, sampai sekarang kata-kata itu masih terngiang di telinga saya. “Takutnya anak-anak nantinya malah tidak mandiri”…

Pengen rasanya saya membuka KBBI-nya JS Badudu untuk mengetahui, apa sih arti kata mandiri itu ?
Parameter apa sih yang dipakai untuk menilai, si A itu mandiri atau nggak ?
Dan di usia berapa sih mau diukur tingkat kemandirian seseorang ?
Huhuhuhu… mulai emosi deh.

Saya memang cuma melihat dari sisi saya sebagai orang tua asha yang punya kewajiban menjaga dia sebagai “amanah”, dan saya sebagai anak hasil bentukan dari orang tua saya yang sudah terkenal “over-protective” sekali ke anak-anaknya.

Saya memang selalu menugaskan pengasuhnya untuk mengikuti kemanapun asha beraktifitas, di sekolah maupun di luar sekolah.
Kenapa ? Karena saya personally nggak bisa melakukan itu. Coba kalo’ saya FTM seperti mama saya dulu, pasti saya yang mendampingi dia kemana saja πŸ˜€ (tetep salah yaa kalo’ dari pandangan kepala sekolah mah yaa…)
Kenapa saya melakukan itu ? Karena cuma itu yang saya bisa lakukan maksimal buat asha karena status saya sebagai Ibu Bekerja. Meyakinkan dia baik-baik saja…

Saat itu kepada sang kepala sekolah, argumentasi saya, saya hanya berusaha meneruskan pola asuh yang saya dapat dari orang tua saya dan saya nilai baik hasilnya.

Dulu jaman SD, saat saya berkemah Perjusami di Cibubur, saya selalu bisa melihat orang tua saya kongkow-kongkow berkumpul di tendaΒ  guru-guru, ngobrol dengan mereka, sambil juga memastikan saya dan adik-adik baik-baik saja selama kegiatan di sana. Setiap hari-nya mereka datang, dan pulang saat kami sudah masuk ke tenda masing-masing.

Jangankan gitu, sampai saya kuliah di Bdg saja, setiap mama memasak makanan kesukaan saya, mama dan papa berkendara Jkt-Bdg dengan mobil, dan mengantarkan makanan itu ke saya. Catet yaa, belum ada tuh jalan tol yang saya masukkan ke inovasi paling edan selama abad ini ! Yang saya cintai sangat πŸ™‚
Bahkan saat saya sudah kerja, mereka suka datang ke kantor membawakan saya makan siang yang baru dimasak mama. Membelikan sepatu baru, dan bergegas mengantarkan ke kantor, karena mereka tahu setelah jam makan siang, saya harus menghadiri meeting dengan beberapa orang penting, padahal sepatu saya sudah mulai kusam.
Atau mengantar saya ke kantor polisi untuk perpanjangan SIM. Mama dan papa LENGKAP ! Sudah seperti mengambil raport saya saja… πŸ™‚

Yang heboh, saat saya sudah berkeluarga gini, karena nasib rumah cuma tinggal koprol ke rumah mama, kadang makanan buat asha, justru diantarkan oleh mama pagi-pagi sekali, supaya saya tidak perlu lagi menyiapkannya.

Hal-hal seperti itu yang saya dapatkan sebagai anak… Manja yaa kelihatannya ? Membuat nggak mandiri yaa ?
Silahkan nilai sendiri dari saya sekarang yang terlihat.

Saat saya punya rumah sendiri, saya bisa kok mencari tau cara menyalakan listrik melalui tata cara yang benar di rumah saya dengan pergi dan mempelajari proses di PLN, menyambungkan line telepon secara resmi ke Telkom, mengurus tetek bengek pengkreditan di bank yang bener-bener ngejelimet. Atau saat memang dibutuhkan “kelihaian” negosiasi ala preman supaya prosesnya lebih cepat, saya bisa merampungkan semua itu tanpa harus menyusahkan orang lain.

Bahkan, pertama kali saya pergi ke luar negeri, saya benar-benar seorang diri dan benar-benar pertama kali itu keluar dari wilayah NKRI. Tapi saya survive tuh seminggu di sana !

Hal seperti itu yang dicari dari kata “mandiri” kan ? Atau bukan ?

Satu quote yang selalu saya pegang dalam membesarkan anak-anak saya.
Mereka yang benar-benar merasa dicintai dan disayangi, akan lebih siap membagikan “sayang” dan “cinta”-nya kepada siapa saja di sekitarnya pada saat dia terjun ke masyarakat.
Buat saya, anak akan lebih merasa pede menjalani hidupnya, kalo’ dia selama memang belum waktunya untuk menjalani hidup sendirian, selalu bisa merasakan ketenangan, kenyamanan, dll.
Dan lagi, saya berusaha memberikan apa yang anak-anak butuhkan “mentally” supaya mereka nggak mencari ke luar rumah atau ke orang lain, karena mereka tahu, mereka akan bisa mendapatkan itu dari kedua orang tuanya.

Lagipula, untuk anak berusia 5 tahun, kemandirian seperti apa sih yang dituntut untuk bisa mereka lakukan ?
Bukan kemandirian kebablasan kan ? Mereka masih perlu pendampingan. Makanya ada orang-orang yang lebih tua di sekitar-nya selalu tho ?
Mereka perlu pengarahan… Yang jelas, mereka perlu yakin, bahwa mereka disayangi, dan keberadaan mereka selalu dianggap ada oleh orang tuanya.
Sesederhana itu sih tiwi berusaha membesarkan asha dan ogie sampai nanti mereka siap.
Love you, kiddos. Always.

Wallahu a’lam.

Life with 2 kiddos

Let’s enjoy the roller coaster !!

Baiklah… berakhir juga liburan 3 bulan yang (ternyata) sangat menyenangkan !! Enak yaa libur lama itu… πŸ™‚
Maklum, anak sudah 2, tapi soal pengalaman cuti melahirkan yg full, yaa baru kali ini dialamin.
Jangan tanya kenapa. Karena sempet nyesel juga kenapa waktu itu memilih me-lembur. Hehehe…

Gimana ceritanya punya anak 2 ? Repot, sudah kebayang lah itu. Resiko ! Asha cemburu, sudah pasti lah…

Yang nggak kebayang tuh, cemburunya Asha alhamdulillah berbeda dengan cemburu-cemburu anak-anak seumur dia kebanyakan kepada saudara kandungnya. Cemburunya asha syukurnya nggak dilampiaskan dengan nge-jailin adiknya atau menyakiti adiknya.. Dia malah sayaaaaanngg banget sama Gie. Bangun tidur, yang ditanya duluan pasti Gie. Mau bobo, pasti bilangnya, “mama jagain adek yaa”. Kalau saya sudah berseragam perlengkapan memandikan, dia sudah siaga dekat-dekat ke tempat tidur untuk menyiapkan handuk yang memang dijadikan tanggung jawabnya. Gitu..

Cemburunya asha yang lumayan menyita pikiran kami karena caranya lebih ke “cari perhatian” ke kami berdua. Ke papa dan mama-nya. Jadi, kalau kami sedang mau menggantikan pampers atau memberi susu ke adiknya, saat itu biasanya ada ajah yang dia minta lakukan ke dirinya. Yang minta tolong ambilkan mainan lah.. yang minta cariin tontonan apa di YouTube lah, ngajak main Angry Bird lah.. Seperti itu πŸ™‚

Saat punya Gie, saya jadi mengerti ungkapan orang tua dulu. Bahwa beda anak, beda karakter. Beda pula caranya membesarkan.
Dengan tingkah laku asha yang menunjukkan cemburu justru dengan cari perhatian, saya jadi semakin paham, bahwa dia tipe anak yang introvert. Sukar menunjukkan secara terang-terangan apa yang dia suka atau yang dia tidak suka.
PR bagi kami sebagai orang tuanya untuk lebih bisa memahami dia, masuk ke dunia dia. Supaya dia terbiasa menganggap kami sebagai teman, membagi apapun yang dia rasakan kepada kami, dan bukan orang lain.

Sebisa mungkin sekarang dihindari kata-kata : “jangan gitu dong sha, kasian adik !” karena jujur, asha tuh maniisssss banget terhadap adiknya. Hanya kadang cara dia menunjukkan kasih sayangnya yg masih suka kebablasan πŸ˜€

Sudah 3 bulan Gie hadir melengkapi keluarga kecil ini. Tapi kami semua masih belajar.
Saya belajar. Erwin belajar. Asha belajar. Bahkan Gie sepertinya kadang juga “terpaksa” belajar menunggu. Hehehe…
Indeed, naik turunnya ritme keseharian kami masih berlangsung. Seru dan bikin kami menjadi lebih dinamis… πŸ™‚
Mudah-mudahan segera dapat menciptakan harmoni yang membuat rumah kami menjadi “pelarian terakhir” bagi semua penghuninya… Tempat yang selalu ngangenin.

gerombolan si berat πŸ™‚

Just an Afternoon Thought

Sore-sore gini, paling enak emang ngelamun. Apalagi kubikel di tempat kerja sekarang letaknya di deket kaca jendela yang lebar banget… Enak buat mikir ngelindur… :p

Hehehe, udah lama nggak ditengokin. Nggak tau-nya, lumayan banyak juga yaa yang suka mampir, dan kadang malah meninggalkan jejak di sini… Thank you yaa, semoga memang apa yang berusaha tiwi share di sini bermanfaat.

Sayangnya, kemarin ada satu “jejak” yang lumayan membuat berpikir… “Emang salah yaa menulis apa yang pengen kita tulis di halaman yang jelas-jelas dimaintain untuk kepentingan sendiri, dan keluarga juga (kelak anak-anak besar, dll) ?”

Masih nggak abis pikir dengan do’a yang diucapkan di akhir komen itu. Seperti ini : “ntar rejekinya ditarik ama Alloh baru tau rasa loe”.

Nggak, bukannya memikirkan karena takut rejeki kami bakalan dicabut oleh Allah.. Tiwi Insya Allah paham, konsep rejeki itu sudah diatur oleh Allah bahkan sejak sebelum kita dilahirkan. Di dunia kan amanah untuk kita hanya membuat bagaimana rejeki itu dijemput, dan bagaimana rejeki itu diolah dan disalurkan lagi. Iya tho ?! Nggak bakalan takut sama doa di komen seperti itu, apalagi yang dilantunkan oleh orang yang nggak jelas identitasnya. Dan pastinya, mudah-mudahan bukan orang yang pernah terdzolimi oleh kami πŸ™‚

Seumur-umur menjalani hidup, yaa hidup tiwi memang begini ini. Ngoyo juga nggak buat “maksain” mendapat rejeki lebih dengan nyari-nyari jalan yang nggak bener misalnya, atau malah pasrah nggak ngejemput sama sekali yaa juga nggak πŸ˜€ Buktinya masih jadi “kroco mumet” gini statusnya. Hehehe… Tiwi cuma sedang berusaha “ngejemput” mimpi-mimpi kami. Buat keluarga, buat anak-anak… Buat kami juga sih berpulangnya.

Apa yang tiwi tulis, apa yang tiwi bagi di sini, itu benar-benar apa yang sedang tiwi rasakan, pikirkan, atau alami..
Kalo’ tiwi lagi senang banget kaya’ kemarin karena dibelikan sesuatu sama Erwin, apalagi memang yang tiwi pengen banget, yaa tiwi tulis…

Katanya kan yaa, kalo’ kita mendapatkan nikmat, atau kebahagiaan, lebih baik memang dibagi-bagi. Kalo’ liat oranglain seneng, seharusnya tuh kita emang ikut seneng lho ! Makanya, sering-sering deh cari temen yang seneng, biar ketularan ! πŸ™‚
Kalo’ lagi sedih tuh, baru deh… Kontemplasi ajah sendirian, interospeksi. Jangan dibagi-bagi… Nanti bikin orang lain sedih juga, itu gak baek… Everybody has their own problems, right ?

Lagian, tiwi pengen, kalo’ sewaktu-waktu tiwi dibuat senang sama orang, apalagi itu suami sendiri; terus suatu saat orang itu berkunjung ke sini dan ngebaca cerita tiwi mnceritakan itu di sini, tiwi pengen orang itu (dalam blog tiwi sih kebanyakan emang Erwin yaa) jadi seneng juga, karena sudah bisa membuat tiwi senang. Mereka merasa dihargain tho, karena pemberiannya dihargai dengan dituliskan di sini… πŸ™‚

Yo wis lah, ini cuma pemikiran tiwi yang pengen tiwi tegaskan di sini. Monggo mampir, monggo ambil manfaat yang dirasa bisa diambil, monggo pergi lagi tanpa tinggalin jejak, yo sumonggo ajah. Asal jangan pada nyampah di sini yaa. Apalagi tanpa identitas yang jelas πŸ™‚
Jangan bilang “nggak kaya’ dulu” karena kalo’ ngerasa tiwi berubah, itu artinya bukan orang yang kenal tiwi secara keseluruhan dulunya…
Dalam hidup, kita harus berusaha untuk selalu “maju” kan ? Bukan malah “mundur”. Dan maju dan mundur dalam konteks ini, nggak akan pernah ada hubungannya sedikitpun dengan materi.

For us, materi will always be only one of tools, untuk berterima kasih kepada Sang Pemberi Kehidupan… πŸ™‚
Alhamdulillah.

WHY ?! – Inspiring [1]

Ada artikel bagus yang layak untuk direnungi, makanya Tiwi coba share di sini :

Arthur Ashe, the legendary Wimbledon player from USA was dying of AIDS which he got due to infected blood he received during a heart surgery in 1983. From world over, he received letters from his fans, one of which conveyed: β€œWhy does GOD have to select you for such a bad disease ?”

To this Arthur Ashe replied:

β€œThe world over – 50 million children start playing tennis,
5 million learn to play tennis,
500,000 learn professional tennis,
50,000 come to the circuit,
5000 reach the grand slam,
50 reach Wimbledon,
4 to semi final,
2 to the finals,
when I was holding a cup I never asked GOD β€˜Why me?’.

And today in pain I should not be asking GOD β€˜Why me?’ β€œ

Happiness keeps you Sweet,
Trials keep you Strong,
Sorrow keeps you Human,
Failure keeps you Humble &
Success keeps you Glowing,

but only

Faith & Attitude Keeps you Going…

β€œHave great hopes and dare to go all out for them, Have great dreams and dare to live them, Have tremendous expectations and believe in them – Arthur Ashe.”

Kalo’ dalam versi singkatnya isi surat itu, dituliskannya dalam bentuk quotes :

If I were to say, “God, why me?” about the bad things, then I should have said, “God, why me?” about the good things that happened in my life.

CERDAS !! πŸ™‚