Category Archives: Daily

Kualat

Yang namanya kualat itu, kaya’nya bisa digambarkan seperti percakapan pagi tadi antara saya dengan asha.
Setting-nya pagi hari. Hujan di luar. Saya sedang ngedusel-dusel asha supaya bangun dan mandi sebenarnya. Tapi saya menggoda dia dengan gini :

“Sha, dingin yaa..?! Hujan lho nak di luar. Enak yaa sha buat bobo-an lagi.” sambil peluk dia.

sambil senyum, dijawab gini sama anak unyil-nya :

“Ma, tapi kan asha harus SEKOLAH !” yang terus bergegas bangun dah ngambil susu UHT jatah pagi harinya.

#jleb #jleb #jleb

Analyze(r) !

Kalo’ pagi-pagi nggak heboh, itu mungkin rumah itu rumahnya penganten baru yg masih bulan madu, atau rumahnya pensiunan yang anak-anaknya sudah mandiri semua.
Karena rumah dengan 2 anak unyils, dengan Bapak dan Ibu yang bekerja, bisa dipastikan pagi hari – bahkan mulai sebelum adzan Subuh, sudah dipastikan harinya diawali dengan kehebohan.

Ada yang lucu dengan kehebohan di rumah kami kemarin.
Diawali dengan saya membangunkan asha untuk mandi, dan bersiap ke sekolah.

S : “Sha, bangun nak… Ayo mandi. Udah jam 7 lho, nanti kamu diabaikan. Udah siang ini, Nak…”

Dan jawaban asha adalah…
A : *dengan mata terpejam* “Ini masih pagi, ma… Tuh, papa aja masih tidur ! Artinya masih pagi !” (iya, memang saat itu Erwin masih tidur karena memang niat datang agak siang.)

See, kebiasaan asha ngeyel memang begini. Disertai dengan fakta. Zzzzz…
Dengan sedikit pemaksaan, saya gendong dia ke depan kamar mandi. Dan seperti biasa, kalo’ asha ngambek, dia nggak bakal mau dimandikan oleh saya. Maka pengasuh-nya yang mengambil tanggung jawab itu.

Dialog di kamar mandi :
A : “Kenapa sih Wi, asha harus sekolah ?”
Pengasuh (Uwi) : “Yaa anak-anak emang harus sekolah, nak.. Biar pinter. Kan asha mau jadi dokter kan ?” (ini doktrin dia lho, bukan saya !)
A : *diem sebentar* “Emang Uwi dulu juga sekolah ?”
Uwi : “Iya dong, Uwi dulu sekolah pas masih kecil” *dengan nada bangga*
A : “Terus, sekarang Uwi jadi apa ??” *dengan nada tinggi pengen tau !”

Asli deh.. saya yang mendengarkan di luar sudah nggak sanggup nahan sakit perut karena ketawaan.
Dan emang pada dasarnya pengasuhnya juga Ratu Ngeyel, masih diladenin itu anak kecil…
Uwi : “Sekarang kan Uwi jadi PA nih, Sha… Pengasuh Anak ! Sama PD, Pengurus Dapur !”

Hahaha… Makin ngakak nggak karu-karuan deh saya.
Duh nak… nak…
Dengan tingkat ke-kritisan dan analisa kamu yang kadang di luar perkiraan, mama doain yaa Nak. Suatu saat kamu baca ini, mama mau kamu tau.
Insya Allah, kamu akan jadi anak pintar yang disayang Allah, yang berguna buat membantu orang banyak di sekelilingmu yaa. Mau jadi apapun itu.
Jangan bikin kecerdasanmu itu untuk “minteri” orang lain yaa, Nak. Bukan seperti itu anak mama…

Love you, Kiddo.

Perpanjangan SIM C itu Mudah ! #gaya [@Polres Metro Bekasi]

Menunaikan amanah dari suami nih… Disuruh “menyebarkan” kemudahan proses perpanjangan SIM di Twitter, blog, status FB, dll πŸ˜€
Supaya nggak lagi ada percalo-an di lembaga-lembaga pemerintahan, katanya… πŸ™‚

Iyaaa, karena tanggal 5 April ini SIM C saya habis masa berlakunya… (iyaa…. ma kasihhh buat ucapannya :p), jadilah “terpaksa” kudu sowan ke Polres Metro Bekasi.
Kenapa saya bilang “terpaksa” ? Karena jujur, saya nggak pernah suka berurusan dengan lembaga pemerintahan. Apapun jenisnya. Apalagi berhubungan dengan instansi berseragam πŸ™ Keder duluan bawaannya…

Dari pertama kali saya punya SIM, itu tahun 1995 kalo’ nggak salah; proses pembuatan SIM saya baik yang baruΒ  maupun perpanjangan selalu memakai jasa calo ! :p (mau itu calo “cabutan pas udah di lokasi, atau pake’ kebaikan agen biro jasa :D).
Gitu kok yaa bangga yaa πŸ˜€ Yaa abis, mau gimana lagi… Waktu saya terbatas soalnya.

Nah, kemarin itu saya juga sudah koordinasi dengan agen biro jasa tempat saya biasa minta tolong. Sudah janjian juga jam 9 pagi di Polres. Tapi ternyata siang-siang agen-nya telepon, dan bilang kalo’ Sabtu itu, kepolisian statusnya “steril”. Artinya, bahkan biro jasa pun nggak boleh “nongkrong” di situ.

Tapi dipikir-pikir… weekend kemarin kami nggak ada rencana yang serius. Dan kata-kata “steril” sepertinya bermakna, kantor polisi bakal lebih sepi kan… Karena bakal nggak ada biro jasa, calo, dll.
Ngajuin proposal ke suami deh, kalo’ Sabtu pagi bakalan ngilang sebentar ke Polres. Tapi ternyata beliau malah menyanggupi mengantar πŸ˜€ Alhamdulillah…

Dari Jum’at malam saya udah browsing-browsing, bagaimana situasi yang akan saya hadapi, berapa biaya yang kira-kira harus saya bayar, dll.
Ada satu link yang bikin saya optimis, bahwa pembuatan SIM perpanjangan itu cuma akan memakan waktu “40 menit” dihitung dari memarkir motor. Makin optimis deh ! Berangkaaaatt !

Polres Metro Bekasi

Polres Metro Bekasi

Polres buka pukul 08.00 WIB. Saya berusaha supaya jam 8 sudah ada di sana. Tapi ternyata meleset, 45 menit πŸ˜€
8.45 baru masuk ke area pelayanan SIM.
Itu juga, karena nggak tau alur prosedur yang harus dijalankan, saya terpaksa memutar kembali ke luar. Karena ternyata, sebelum membeli formulir di BRI, kita harus berbekal Surat Keterangan Kesehatan dari Dokter Polisi. Di Polres Bekasi letaknya kok yaa terpisah dari komplek pelayanan SIM. Harus keluar pagar dulu, lalu melewati jalan kecil. Padahal kalo’ pagar di sebelah loket dibuka, letak dokter-nya itu deket banget lho !
O iya, jangan lupa juga, siapkan fotocopy KTP yang masih berlaku dan SIM C lama yang mau diperpanjang. Untuk KTP, boleh agak banyak dibanding SIM-nya copy-annya.

Setelah membayar Rp 22K, kita akan diberi kwitansi dan keterangan “lolos” screening. Karena memang kita ditest juga oleh dokternya, minimal test buta warna pake’ lembaran bulet-bulet yang beda warna itu lho…

Sumpah deh, kalo’ kemarin nggak sama Erwin, mungkin saya sudah memakai jasa calo yang ternyata masih seliweran di sekitar dokter polisi itu. Ditawarkan Rp 200K + 1 jam, SIM C saya sudah jadi. Tapi diomelin suami πŸ˜€ “Katanya mau nyoba bikin sendiri… udah nggak usah pake’ calo lah. Nggak buru-buru juga kan kita ?!” Baeklah… Mundur teraturlah saya… :p

Masuk kembali ke lokasi pembuatan SIM. Langsung menuju loket BRI untuk membeli formulir. Tapi lagi-lagi dialihkan dulu ke loket sebelah, untuk membeli “premi” asuransi. Huduww, semalem sih baca-baca, asuransi ini seharusnya bisa kita abaikan yaa, karena nggak wajib. Tapi daripada kudu bersitegang, mari dijalani. Rp 30K untuk premi asuransi SIM C. Baru setelah itu kita boleh membeli formulir perpanjangan SIM C di BRI. Rp 75K. Sesuai sama gambar yang memang dipajang di ruang tunggu.

Tarif Pembuatan SIM - Image : http://bloggercikarang.com

Tarif Pembuatan SIM - - Image : http://bloggercikarang.com

Setelah mendapat formulir, lalu dilengkapi sesuai petunjuk yang ditempel di meja pengisian. Tapi isi-nya memang sederhana banget kok. Saya cuma butuh sekitar 10 menit untuk sampai memastikan isian saya sudah benar.
Setelah itu, diserahkan ke loket Penyerahan Formulir sesuai tipe SIM yang mau kita urus.
Lalu kita akan dapat nomor antrian foto, dan setelah itu bisa menunggu dipanggil pak polisi (biasanya yang manggil ibu polisi nih, karena dari pengalaman mengurus SIM yang jedanya 5 tahunan, selalu beliau terus. Tapi kali ini udah pensiun sepertinya yang bersangkutan)

Saya menunggu sekitar 10-15 menit sebelum dipanggil foto. Lumayan ramai padahal hari Sabtu kemarin. Tapi sepertinya kebanyakan pembuatan SIM baru. Karena antrian foto-nya cuma sebentar.
Setelah masuk ke ruang foto, penyamaan identitas berlangsung secara dialog. Pastikan alamat, tanggal lahir, dan data-data lain sudah benar. “Klik” foto diambil, tanda tangan di scanner, cap jempol kedua tangan. Lalu keluar lagi ke ruang tunggu untuk menunggu SIM-nya jadi.

10 menit kemudian saya sudah dipanggil lagi. Voila… Jadilah SIM C baru saya untuk 5 tahun ke depan.
Hanya Rp 127K, dan total jenderal waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 45 menit dari pertama saya datang (sudah termasuk jalan memutar itu) !! Wohohoho.. ini SIM saya yang termurah dan tercepat ! Beda-nya lumayan yaa dibanding memakai biro jasa !
Nggak henti-henti hari Sabtu kemarin, saya senyum-senyum ke Bapak-bapak polisi yang saya lewati pas keluar. Dan bilang terima kasih nggak ada habisnya πŸ˜€
Ini “keajaiban” buat saya ! Hehehe… Setelah melalui sendiri, saya dan Erwin memutuskan, besok-besok pengen perpanjang SIM A maupun SIM C kami sendiri lagi :p
Mudah-mudahan pas lagi “steril” lagi kepolisiannya yaa…

Terima kasih, PolRI !!

PS : Back drop foto-nya tuh bakalan kain berwarna biru tua ! Jadi pastikan memakai baju atau jilbab (kalo’ yang pake’) itu yang berwarna terang yaa… Supaya muka-nya keliatan :p

Hargai Profesor ya, Nak !

Asli, culun banget deh percakapan virtual satu ini. Obrolan antara Bapak 2 anak yang sedang berulang tahun dengan anak lelaki-nya yang sedang tidur nyenyak. Lha wong udah jam 11 malem gitu. Tapi lucu beneran. Makanya pengen ditulis.

Tadinya saya dan Erwin sedang membicarakan salah seorang teman yang sedang liburan ke Wakatobi untuk diving. Menyenangkan yaa ! Tapi tau-tau, terjadi adegan seperti ini :

Papa : “Nak, kalo’ nanti kamu pengen belajar menyelam, papa bayarin yaa.. Gpp deh mau kemana kek tinggal bilang aja sama papa !” *sambil usap-usap Ogie* “Kalo’ kakak-nya nggak usah. Bahaya jauh-jauh pergi nanti…”

Emaknya protes dong. Wong anak perempuannya sekarang malah udah ketauan cinta renang banget ! “Ih, kamu ngebeda-bedain !” Nyengir doang bapaknya πŸ˜€

Abis itu lanjut.

“Kalo’ kamu mau ikut balapan juga nggak apa-apa nak. Biar aja sama mama gak boleh. Tapi sama papa nanti papa modalin ! Beli motor yang bagus yaa nanti !”

Emaknya nyeletuk : “Iya nak, beli Kawasaki Ninja 250cc, nanti kamu modif yaa” *ini mah emang niat ngegodain Bapaknya, secara dia baru ngedumel, nggak ngerti pikirannya orang-orang yang pada hobi modif itu, buang-buang duit katanya*

“Jangan yaa, Nak. Papa beliin yang bagus sekalian. Tapi jangan dimodif. Yang bikin motor itu tuh Profesor tau ! Dia bikin udah susah payah. Mosok kamu modif di pinggir jalan ! Nggak mau papa kalo’ kamu kaya’ gitu..”

Emaknya udah nggak tahan dah akhirnya… Ini yang bobo nyenyak anak bayinya, kok yang ngigo papa-nya sepertinya πŸ˜€

Celoteh Anak Sayang Mama

Setting : Malam hari sepulang bekerja, bertiga-an sama Ogie dan Asha rebahan di tempat tidur.

Nggak tau ada angin apa, tiba-tiba anak perempuannya bilang :
A : “Mama, nggak boleh ada lagi yaa ma, adek setelah Ghiyath ini ma.. Nggak boleh !”
S : *bengong* karena emang sebelumnya sama sekali sedang tidak membicarakan adik πŸ˜€
S : “Lho, bukannya kamu mau adik lagi, Sha ? Katanya waktu itu mau adik laki-laki lagi..”
A : “Mama, emang nanti asha bobo sama siapa ?”
S : “Papa lah nak.. Kan biasanya gitu ?!”
A : “Lho, adek Gie bobo sama siapa ?”
S : “Yaa sama mama dong..” *asli sambil bingung, arah pembicaraan dia ini kemana sih sebenernya. no clue !*
A : “Tuh kaann.. trus kalo’ ada adek lagi, nanti mau bobo sama siapa. He ?!!!”
S : *ngakak sampe ngejengkang*

Subhanallah nak… Sampe segitu-nya kamu udah mikirin ? Nggak nak, Insya Allah kalopun ada adek lagi, mudah-mudahan saat itu kamu sudah berani pisah kamar dari kami yaa..

Lalu ada lagi cerita tentang asha yang bisa bikin kangen dia terus tiap hari.

Setting tetap sama, di tempat tidur. Malam hari.

S : “Sha, garukan yang waktu itu kita beli di Asemka tuh dimana sih nak ?” (itu lho.. garukan yg model jari-jari kecil di ujungnya)
A : “Ada di atas lemari, ma ! Emang kenapa, mama gatal ya ?”
S : “Iya nak. Punggung nih gatel banget…”
A : “Emang mama gak bisa garuk sendiri. Dicoba sendiri dulu coba ma…” *ini pasti kata-kata dari guru dia di sekolah deh. Tua beneeuuurrr*
S : “Nggak sampe sha tangan mama. Jauh banget di bawah nih..”
A : “Sini ma, asha ajah yang garukin ajah ma. Yang mana yang gatal ma ?”
S : *speechless*

Love you full, kiddo !

Petualangan #asha & Papa

asha + Papa

asha + papa

Kalo’ yang baca tulisan ini ber-gender perempuan dan sudah dipercaya menjadi ibu, mari mengaku, apakah akan bisa percaya melepas anak jalan berdua saja sama papa-nya dengan rentang waktu lebih dari 2-3 jam plus tau bahwa akan beredar di area publik (bukan ngendon di rumah saja) ?
Berani bertaruh deh tiwi mah… most will quitely whisper : uuhhmmm, actually, BIG NO ! πŸ˜€

Hehehe, dulu tiwi juga gitu kok ! (sebenernya sekarang masih juga sih, tp kalo’ diprosentase, mungkin tingkat kepercayaan itu akan naik seiring usia pernikahan dan usia anak kali yaa).

Awal-awal “terpaksa” harus percaya asha akan baik-baik saja pergi hanya berdua Erwin adalah saat tiwi hamil kemarin. Kondisi hamil membuat tubuh lebih cepet capek pasti yaa, plus bentuk fisik kan juga sedang berubah ya. Mengendut πŸ˜€ Sedikit menghalangi kelincahan gerak pastinya. Sedangkan asha sedang di usia 4-5 tahun sedang masa-masanya exploring things ! Kasian kan kalo’ malah asha yang mengalah nggak melakukan apa-apa atau mengurangi waktu jalan-jalannya cuma karena tiwi capek πŸ˜€

Pertama kali asha dan papa-nya pergi berdua saja, itu saat tiwi sedang “skripsi” kursus foto. Mengharuskan berterik-terik di daerah Kota dan bundaran HI, berburu gambar untuk tugas akhir selama 2 hari full !! Kasian kan kalo’ asha harus menunggu di tempat saja. Museum Fatahilah dan Kafe Batavia mah udah khatam oleh mereka berdua saking memang lama beneran proses hunting tiwi saat itu.
Jadi, berkelana-lah dia bersama Erwin. Naik Trans Jakarta ke Blok M dari halte Kota Tua, bolak-balik. Berkeliling di Plaza Indonesia, Blok M Plaza, dll. Sampe ending-nya nongkrong selepas Maghrib di bunderan HI πŸ˜€

Sejak saat itu, asha seperti keranjingan moda transportasi Trans Jakarta. Setiap terlewat halte ditanya namanya, dihafalkan. Kalo’ weekend nggak ada acara apapun, dan #asha ditanya pengen apa, jawabnya pasti “naek busway, ma !”
Hedehhh… Bahkan choo-choo yang ada di mall-mall itu kalah sama busway ! Dia akan tetap konsisten memilih busway jika kami memberikan pilihan πŸ˜€
Biasanya, kalo’ akhirnya memang naik busway, tiwi memilih menunggu di tempat terdekat dengan halte tujuan turun mereka. Membiarkan asha dan Erwin menghabiskan papa and daughter time… πŸ˜€

Yang keren kemarin dong. Baru banget kemarin Kamis. Kebetulan di rumah sedang ada ibu Bondowoso. Semua juga tau kan, kalo’ perempuan di belahan dunia manapun, sangat identik dengan BELANJA ! Plus, apa-apa di Bondowoso itu mahal sekali dibanding JKT. Terutama untuk baju. Udah jadi agenda rutin, kalo’ orang rumah Bondowoso ke JKT itu pasti belanja tekstil. Belanja tekstil di JKT itu identik dengan Tenabang kan ?
Berhubung Erwin memang sudah mengambil cuti, diputuskan Kamis kemarin aja deh ibu dibawa ke Tenabang. Mumpung bukan weekend, yang pastinya penuh atau toko-nya terbatas. Solusi-nya, tiwi ijin setengah hari di kantor.
Erwin & asha bersama rombongan start dari rumah. Tiwi dari kantor. Meeting point-nya di Thamrin City dengan pertimbangan tempat parkir.

Dari awal memang asha tidak akan tiwi perbolehkan ikut ke ThamCit atau Tenabang. Tau sendiri kan, penuhnya kedua tempat itu seperti apa. Blom deh, blom se-percaya itu melepas asha bersama orang lain πŸ˜€

Dan petualangan asha dan papa-nya pun dimulai…
Mereka diturunkan di Grand Indonesia [1], karena ada tas yang diincar Erwin. Tapi ternyata nggak ada model yang dia mau-in di sana. Diajaklah anak perempuan-ku itu ke Senayan City [2], naik taksi-lah mereka ke sana. Karena memang tengah hari bolong, Erwin nggak tega ke anaknya. Tas-nya dapet di SenCi. Perjalanan dilanjut ke Ratu Plaza, karena ada CD Game yang jadi incaran Erwin berikutnya. SenCi ke Ratu Plaza [3], berjalan kaki dan menyebrang jalan πŸ™
Dari Ratu Plaza, mereka naek TransJakarta balik lagi ke daerah terdekat dengan Thamrin City. Karena saya dan ibu memang “cuma” bertujuan ke ThamCit dan Tenabang saja. Tapi pastinya mah bakal lebih lama proses hunting-nya kami… πŸ˜€
Turunlah mereka di halte Plaza Indonesia [4].
Karena anak kecil-nya lapar, akhirnya mereka berdua makan di Chopstix, PI. Mie Goreng lah, tetep andalan di kala asha lapar dan bisa dipastikan habis dengan cepat πŸ˜€
Sudah selesai makan siang, dan sholat Dzuhur di musholla favorit asha di Lt. 3 PI, tetap belum ada kabar dari rombongan emaks, Erwin mutusin untuk menunggu di ThamCit [5] saja supaya cepat pulang kalo’ urusan perempuan sudah selesai πŸ˜€ PI-Thamrin City mereka tempuh dengan Ojek (ini kali kedua asha naik ojek lho ! Yang pertama itu waktu mereka berkelana ITC Kuningan-Ratu Plaza untuk urusan service notebook dan game console ! Bayangin deh jaraknya…! Bikin stress pas dikasih tau dulu itu)

Waktu akhirnya ketemu asha di Thamrin City, anak kecil-nya lari-lari dengan wajah kucel tapi ekspresi riang gembira !! Hedeehh… kasian tapi ngeliat dia seneng gitu yaa ikut seneng juga sih πŸ˜€
Pas ditanya, asha ngapain aja sama papa ? Berceritalah mulut ngecepres itu dengan cepatnya.
Dan jujur, tiwi nggak menduga sama sekali segitu banyak-nya tempat yang mereka mampiri πŸ˜€
Keren-nya lagi (sekaligus ngenes sebenarnya), nggak ada fisik barang apapun yang dia minta selama bertualang selama itu ! πŸ˜€ Hebat ya ? Nggak ngerengek apapun sama sekali πŸ˜€ Bahkan ditawarin apa-apa, dia nggak mau πŸ˜€
Cukup jalan-jalan saja. Anak manis…

Selama terpisah dengan mereka berdua, memang BBM jadi alat komunikasi yang ampuh buat bikin lebih tenang sih…
Erwin selalu ngabarin sudah ada dimana posisi. Begitu juga tiwi. Kecuali kalo’ memang cuma sebentar seperti di GI dan Ratu Plaza gitu… Makanya sempet kaget-kaget waktu denger cerita asha. Hehehe…

Overall, sepertinya melihat kesuksesan kemarin, kapan-kapan bisa diagendakan dengan sengaja untuk me-time melarikan diri refleksi saat weekend-an sama mereka yaa :p
Proud of you, mas… Love you, sha.

Tiwi & Gadget

Absen dulu yaa nulis tentang anak-anak… Sekarang tiwi mau cerita yang enteng-enteng ajah deh; mau dibilang review, yaa monggo, mau dibilang cerita biasa yaa emang cuma pengen cerita ajah πŸ˜€

Saat ini, kalo’ liat case hape tiwi, bakal keliatan ada barang baru di dalem-nya… Iyaaa, akhirnya bercokol juga itu iPhone4 yang lagi rame diomongin orang-orang di forum-lah, di blog, atau bahkan direview oleh media itu di case hape tiwi.

“Hooo, gaye pake’ iPhone ! Tipe terbaru pula” :p
Nggak… gak berniat gaya kok ini. Asli ini mah kado dari pak boss πŸ™‚ Kado ulang tahun, dan mungkin juga kado karena sudah bersedia “ngebawa-bawa” anak dia selama 9 bulan lebih sampai due-nya nanti. Hehehe…. Namanya dikasih, yaa disyukuri ajah yaa, alhamdulillah πŸ˜€

Kenapa bisa kado-nya iPhone4 ? Hehehe, Erwin gitu lho ! Suami satu itu, selalu mau yang terkeren kalo’ mampu. Atau mungkin juga ini mah karena nggak tahan juga kali yaa tiap malem ngeliatin tiwi browsing-browsing produk Apple sebelum tidur, ntah itu iPod Touch, atau iPhone 3Gs. “Browsing doang kamu mah… Dibeli kenapa !” pasti gitu sindirannya πŸ˜€
Tenang boss, kalo’ yang ini pasti dibeli sih sepertinya. Kenapa ? Karena kameranya… Hehehe…

Sepanjang Januari-Februari kemarin kan juga dihadiahi Erwin untuk ngambil kursus photography basic di Oktagon/Neumatt (‘ma kasih yaa mas, emang enak kok jadi orang hamil itu… :D) Sejak itu tuh, napsu untuk foto-foto apapun di sekitaran jadi makin merajalela. Karena udah tau teknik, dan alhamdulillah kalo’ secara feeling kan emang sepertinya natural hasil foto tiwi selalu dibilang bagus angle dan momen-nya sama orang-orang.. (catet yaa, kata orang-orang, bukan ngaku-ngaku sendiri ini mah !)
Nah, ngebawa-bawa kamera pocket, udah males banget kan karena kebanyakan automatic. Kecuali pocketnya tipe prosumer macem Lumix GF2 atau Sony yg terbaru mungkin yaa, yang bisa diset diafragma dan speed-nya, boleh lah. Tapi ke kantor bawa-bawa gituan ? Males juga kali… terlalu ribet kalo’ harus makan siang bawa-bawa kamera walaupun kecil.

Ndilalah, suatu hari tuh ada temen kantor yang pake’ iPhone tanya-tanya tentang teknik-teknik dasar photography untuk diset di kamera iPhone-nya ! Panik dong. Keren banget ini hape, mosok kameranya bisa ngeset diafragma mau di setelan berapa, mau speed-nya di berapa juga bisa. Langsung deh, di kepala tuh kaya’ ketanem, kudu punya ! πŸ˜€ Makanya browsing-browsing terus…

Yang kepikiran cuma, nanti kalo’ nanti pas Gie lahir, pengen udah punya iPod Touch atau iPhone ini. Supaya bisa puas fotoin dia pas masih unyil, tentunya dengan teknik-teknik yang cihuy, supaya keren kan si anak ganteng :- dan tanpa flash kan. Mau ngandelin kamera BB Gemini ? Nggak mungkin banget deh… Blurek gitu resolusinya. Bluun namanya kalo’ ngandelin kamera Gemini mah…
Dulu pas asha, masih rela bawa-bawa kamera pocket ke RS. Kalo’ sekarang, secara sepertinya akan lebih banyak bawaan asha yang pasti akan seperti pindahan rumah ke RS, makanya bakal butuh gadget yang bisa meminimalisir printilan milik pribadi.

Jadilah sang suami nggak tega sepertinya… Dieksekusinya-lah sang iPhone4 yang secara bentuk emang udah tiwi banget. Kotak, Tegas !! Nggak ada basa-basi πŸ™‚ Plus, ini persiapan buat Juni nanti dia bakal sering dinas ke luar kota dan luar negeri. Alasannya : “Biar bisa Facetime-an sama asha !” Baeklah boss !

Maka dimulailah episode ngopreknya sampai sekarang. Mantep lho emang ternyata iPhone4 ini. Berhari-hari ngoprek, tapi masih ada ajah nemuin hal-hal baru dari gadget ini tiap harinya. Tergantikanlah posisi Nokia E63 yang udah lebih dari 3 tahun nemenin (itu juga dulu kado ulang tahun dari Erwin kok juga kalo’ nggak salah mah…)
Emang pada dasarnya tiwi nggak gitu suka gonta-ganti gadget cuma karena sedang trend πŸ˜€ Kalo’ butuh, marilah kita kejar beli dah… Tapi kalo’ cuma buat ikut-ikutan, nanti dulu lah. Mending beli perlengkapan mixer πŸ˜€

Hehehe, alhamdulillah, rejeki pas hamil Gie ini memang sepertinya bagus banget. Kami berdua sudah mulai bisa santai, karena kondisi keuangan juga sudah mulai stabil (dengan itungan anak 1 yaa, mudah-mudahan nanti pas anak udah nambah, tetap bisa dijaga ritme-nya seperti ini). Barang-barang yang selama ini “cuma” masuk daftar incaran, satu per satu mulai bisa dibeli. Kaya’ lensa, flash, game console buat erwin.. Seperti itu lah.

Liburan keluarga juga mulai rutin. Bahkan liburan yang seperti kurang kerjaan, ngedadak kaya’ ke SBY kemarin hanya selama weekend, alhamdulillah bisa dilakoni. Apalagi kalo’ cuma BDG-JKT, nyaris tiap bulan sekarang itu mah… πŸ˜€
Refreshing dulu lah sebelum terkaget-kaget lagi nanti dengan ritme adanya “unyil” baru πŸ™‚

Memang benar kata orang-orang. Menyambut anak kedua itu akan jauh lebih tenang… Mungkin karena kami sudah berpengalaman, atau mungkin juga kami sudah bertambah dewasa ? Wallahu a’lam.
Yang jelas, alhamdulillah ya Allah atas semua nikmat-Mu selama ini….

23-weeks and still counting…

Alhamdulillah, sudah masuk minggu ke-23 untuk kehamilan ke-2 ini.
Udah bersiap apa ? Hehehe, jangan ditanya deh, bakalan ngerasa sedih banget, soalnya beneran belum sempat bersiap apa-apa. Tapi alhamdulillah, apapun yang kami lakukan untuk asha dulu, sudah dilakukan juga untuk GAP-2 ini, kecuali belanja perlengkapan sih memang πŸ˜€

Di kehamilan ke-2 ini, karena super duper agak rewel kehamilannya, makanya kemarin USG kami percepat. Bukan apa-apa, kami cuma ingin memastikan Gie bertumbuh dengan sehat, lengkap dan normal.
Dan alhamdulillah, saat USG, terlihat sangat jelas, lengkap, sehat, sama-sama tembem kaya’ asha… and It will be our BOY !! πŸ™‚
Seneng dong papa-nya ?! Pastinya !! Tambah bawel, nggak boleh ini, gak boleh itu… Kudu caesar lagi kalo’ perlu, biar lancar-lancar ajah :p Uenak’e… sing dibelek sopo yooo !

Waktu hamil asha, tiwi takjub di sekitar bulan ke-2-3 gitu, lupa, gara-gara lihat pertumbuhan tulang belakangnya yg “ajaib” banget… Subhanallah, di dalem perutku, beneran ada makhluk lain. Mungkin karena anak pertama yaa… masih newbie sama pengalaman USG
Kalo’ pas USG Gie, sampai kemarin, USG kaya’ sesuatu hal yg biasa… Udah pernah liat πŸ˜€ Tapi pas melihat organ genital-nya dia terlihat jelas, sampai sekarang masih suka ketawa… Kamu lagi pee di perut mama yaa nak ?! Hehehe…
Lucu banget !

Gerakan Gie agak lebih cepat bisa dirasakan, gak tau karena posisi dia yang melintang – dulu kan asha sungsang, jadi mungkin berasa gerakannya agak terbatas – atau memang karena dia cowok, jadi lincah ampun-ampunan…
Tapi gerakannya akan tambah menggila kalo’ dia denger suara kakak-nya. Beneran bikin ketawa deh pokok-nya kalo’ udah sampai rumah, karena asha berisik, ini yg di perut juga tambah gak bisa diem… Geli nak ! :p
Makanya kemarin pas USG, asha kita suruh cerewet terus di mobil, biar gak bobo adik-nya πŸ˜€

Anak bawa rejeki ? Insya Allah itu emang bener yaa… Waktu hamil asha 6 bulan, erwin diterima di kantor baru dengan posisi dan penghasilan yg alhamdulillah memungkinkan kami bisa membangun rumah. Sekarang Gie juga gitu. Anak ini hadir saat tiwi dapet tempat kerjaan baru. Tempat kerjanya berkah Insya Allah yaa ?! Lalu erwin juga bakalan sering dapet tugas training di beberapa negara saat kehamilan ini dan setelah lahiran. Rejeki bayi juga kan ?! Hehehe, iya kan jadi bisa beliin kamu maenan-maenan dari mana-mana nak πŸ˜€

Insya Allah rumah tumbuh kami saat kehamilan ini juga mengalami beberapa perubahan yang diniatkan supaya anak-anak nantinya bisa tambah puas lari-larian dan mengeksplore apapun yg mereka pengen lakuin deh ! Mau main air ? Monggo, sudah ada areanya.. Main pasir ?! Silahkan di belakang yaa… Mau main ayunan, perosotan ?! Sok nak… hati-hati tp yaa, jangan rebutan πŸ˜€ Mau naik pohon juga sudah mulai gede tuh pohon mangga-nya papa… Hehehe… Beneran bakal jadi rumah bermain deh pokoknya.

Nama untuk anak ke-2 ini ? Insya Allah sudah ada sejak hamil pertama dulu malahan kan ?! πŸ˜€ Mudah-mudahan akan dipakai kali ini πŸ™‚
Mudah-mudahan semuanya akan berjalan lancar yaa.. Bulan depan mari kita mulai perburuan perlengkapannya !!

Asha [2]

Udah lama juga ternyata gak update yaa… Kaget sendiri ngeliat last posting-nya udah dari bulan Maret.

Banyak yang menanyakan, polah apa lagi yang asha lakukan akhir-akhir ini… Hehehe, ternyata menghibur banyak orang yaa tingkah asha, kirain mah buat tiwi doang πŸ˜€

Asha sekarang sudah menjadi sahabat tiwi. Sudah bisa diajak ngobrol… Sudah suka cerita banyak tentang dia sendiri πŸ™‚ Bener-bener sudah kaya’ punya teman perempuan yg bisa diajak ngopi bareng sambil ngobrolin banyak hal…

Kemarin kami dari bandara, berdua saja di mobil. Kalo’ menyetir, kadang tiwi memang terkesan “nyuekin” dia. Tiba-tiba di bangku sebelah dia ngomong…

A : “Mama, nanti kalo’ asha udah bisa setir, mama asha tanya yaa.. Mama mau kemana ?” *dengan nada maniisss banget sampe tiwi terharu sejadi-jadinya…
T : “Iyaa, nak. Ma kasih yaa.. Asha baik banget sih !”
A : “Iyaaaa.. mama mau kemana ?”
T : nada jail “London, nak”
A : *tampang bingung
A : “Oohh iyah nanti yaa, ma. Sekarang tapi mama setirin asha dulu yaa ke ambassador. Asha mau beli Dendon (nama boneka-nay dia – red), ma !”
T : *glek

Pemalakan oleh anak kecil berusia 3,5 tahun. Tapi beneran deh, kata-kata asha sekarang suka bikin menye-menye ataupun terpingkal-pingkal…

Semalem lagi… dia sedang manja banget.
Di kamar tidur utama kami, ada 2 tempat tidur. Tempat tidur besar, dan tempat tidur asha, yang ukurannya lebih kecil.
Walaupun satu ruangan, tapi kami sudah mulai membiasakan asha tidur sendiri. Semalem gagal total tapi.

A : “Mama… mama bobo di sini ajah !! Jangan di tempat tidur mama, di sini ajah ma…” *sambil tepuk-tepuk tempat di sebelah-nya
T : “Iya, sha. Kenapa emang nak ?!”
A : “Asha mau peluk mama… peluk-peluk-peluk maa…”

Whuaa… She really knows how to cheer me up ! How to re-charged my energy πŸ™‚ Love you, kiddo !! More and more in everyday.