Category Archives: Gie

2012 – Tahun Jalan-jalan…

Hehehe… Udah ganti tahun lagi aja yaa. Sayangnya, belum juga ada kalender dinding baru di rumah kami… :p #curcol

2012 buat kami – Tiwi dan keluarga – bisa dibilang sebagai tahun jalan-jalan πŸ˜€ Dan seru-nya, diantara jalan-jalan itu, 2 event adalah jalan-jalan yang pertama untuk kami semua.

Di bulan Juni, seperti yang sudah diceritakan di posting sebelumnya, kami memang merencanakan jalan-jalan “nebeng” di kamar hotel acara dinas Erwin. Sekeluarga tentu saja. Dan ini menjadi jalan-jalan pertama ogie ke luar negeri πŸ™‚ Hehehehe, alhamdulillah, ada kemajuan dibanding kakaknya. Dulu asha pertama kali berkesempatan “mencap” paspor di usia 4 tahun, sekarang adiknya, di usia 11 bulan sajah.

Perjalanan tersebut bisa dibilang lancar. Itinerary yang nggak terlalu padat, berhasil dilalui kami ber-4 dengan menyenangkan. Anak-anak sehat, dan sepertinya mah sangat menikmati. Ya iya lah, wong hampir tiap hari mereka “setor muka” sama kolam renang. Gimana nggak bisa dibilang menikmati. Ada air, anak-anak mah cukup… (Itinerary di Singapore dengan 2 anak kecil akan diceritakan lain kali yaa)

Di bulan Agustus, kami sekeluarga + asisten, mudik rombongan untuk pertama kali. Konvoy 2 mobil, dengan 2 supir standby di tiap mobil. Seruuuu !! Benar-benar pengalaman yang nggak akan terlupakan. Perjalanan 1010km (one way lho yaa), 32 jam ! Gimana nggak berkesan banget ! Mudah-mudahan akan membekas juga di ingatan asha (kalo’ ogie sih sepertinya masih terlalu kecil untuk mengerti yaa…)
Alhamdulillah di rumah Bondowoso, kami bisa menggelar syukuran ulang tahun asha + ogie bersama teman-temannya !

Di bulan September, ceritanya kami centil sih kaya’nya. Pengen aja jalan-jalan. Dan pengen banget nyenengin asha. Pergi jalan-jalan lagi lah kami… πŸ™‚ Kali ini, bertiga saja. Tanpa ogie. Dengan pertimbangan, short trip kali ini hanya akan bikin dia capek saja takutnya.
Tujuannya memang cuma tetirah. Pergi dari semua keseharian. Menyenangkan asha… Kalo’ udah jadi orang tua, sepertinya melihat anak senang itu sudah hiburan paling top kan ?!
Short trip-nya beneran short trip. Nggak diburu-buru waktu waktu, nggak diburu-buru jadwal. Mengalir sebangunnya kita saja πŸ™‚

Di bulan Desember, awal bulan, Tiwi dan teman-teman melakukan Runaway Moms. Perjalanan yang sudah kami agendakan sejak 2 bulan sebelumnya. SERRUUUUU !! Beneran liburan ini mah. Sama sekali nggak kepikiran urusan apapun (kecuali urusan keluarga). Beneran yang Fresh banget deh pas pulangnya. Untuk sementara, kalo’ mau lebih lengkap, silahkan klik link ini yaa !

Dan di akhir bulan (apa akhir tahun ya ?!), lagi-lagi menyebrang. Kali ini menunaikan janji Erwin kepada Ibu. Alhamdulillah lunas πŸ˜€
Itinerary kali ini, beneran itinerary turis πŸ˜€ Sampe pada teklok kakinya, saking kejar foto-foto di setiap sudut kota.

Alhamdulillah, banyak cerita di 2012. Tiwi mah berniat mendetailkan semua-nya. Karena asha dan Singapore bagi Tiwi dan Erwin itu sekarang identik banget. Beda rasanya ke sana tanpa asha. Setiap sudut, setiap mall, setiap alat transportasi, semua ada cerita bersama asha. Saking dia mencintai hampir semua hal yang berhubungan dengan SIN. Heran kadang dengan kekuatan kaki asha menjelajahi semua tempat tanpa bantuan stroller ! You’re tough indeed kiddo !
When you grow up and you read this, believe me kiddo, you are superb masalah jalan-jalan mah πŸ˜€

2012 merupakan awal bagi beberapa hal. Termasuk asha masuk SD ada di tahun ini ! (belom cerita juga yaa… :D)
Mudah-mudahan kami berkesempatan mengisi 2013 dengan cerita yang lebih serrruuu lagi !
Insya Allah.

Pembuatan Paspor Anak

Sebenarnya prosesnya sudah lewat lama banget. Nyaris setengah tahun kaya’nya. Tapi karena sudah niat, dan mumpung lagi ada waktu, monggo disimak proses pembuatan paspor untuk anak-anak yaa.. Mudah-mudahan berguna. (lagipula DeΒ hari ini bikin paspor juga, nanti keduluan dia lagi update-nya ! hahaha..)

Jadi sekitar bulan Mei 2012 yang lalu, kami merencanakan jalan-jalan lagi di pertengahan tahun. Sekeluarga. Hmm, tapi Ogie kan belum punya paspor yaa… Kudu bikin dong artinya !? Untungnya, saat itu saya sedang menjalani dinas luar πŸ˜€ Jualan di outlet dekat rumah. Insya Allah waktunya lebih flexibel lah yaa…

Persiapan untuk membuat paspor Ogie kali ini benar-benar bikin jantung deg-deg-an abis lah… Maklum, urusan dengan birokrasi selalu membuat tiwi sakit perut sejak berhari-hari persiapan. Kalo’ waktu pembuatan paspor asha kan memang mendadak, jadi pilihannya waktu itu “nebeng” sama kakak-nya teman yang bekerja di Kantor Imigrasi. Alhamdulillah, sehari jadi. Walaupun memang nggak tahan di sisi kantong πŸ˜€

Untuk Ogie kali ini, kan masih ada sebulan lah persiapan. Lagian kakak-nya teman sudah pensiun. Hehehehe… Belajar dari pembuatan SIM yang lalu, birokrasi tidak sesulit yang dibayangkan kok ternyata yaa… Mari Googling !
Hasil Googling cukup banget membantu. Walaupun masih kecolongan di tahap akhir.

Prosesnya sebagai berikut :

    1. Daftar online diΒ http://ipass.imigrasi.go.id:8080/xpasinet/faces/InetMenu.jsp
    2. Isi semua field yang ada di formulir online. Ikuti petunjuk-nya yaa…
    3. O iya, untuk pendaftaran online, siapkan terlebih dahulu hasil scan dokumen-dokumen yang disyaratkan. Karena nanti akan diminta untuk di-upload. Untuk anak-anak :
      • Akte Kelahiran Anak
      • KTP Orang Tua
      • Surat Nikah Orang Tua
      • Kartu Keluarga
      • Paspor Orang Tua
    4. Setelah semua persyaratan diupload, akan diminta untuk memilihΒ Kantor Imigrasi yang diinginkan untuk penentuan jadwal proses wawancara dan foto serta pemeriksaan berkas asli (yang tadi di-scan, siapkan fotocopy-nya 1 bundle, lalu dibawa juga asli-nya saat wawancara).Untuk pemilihan Kantor Imigrasi ini, usahakan piliha Kantor Imigrasi yang sudah memiliki loket pendaftaran online yang terpisah. Contohnya, Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Karena akan sangat membantu saat pengambilan nomor antrian pendaftaran dokumen. Nomor antrian online cenderung lebih sedikit. BELUM SEMUA Kantor Imigrasi memiliki loket online yang terpisah. Teman saya di KanIm Depok, tetap harus mengantri bersamaan dengan yang proses reguler. Akibatnya ?! Tetap lammmmaaaaaa…
    5. Kalo’ sudah selesai proses kita akan mendapatkan nomor proses yang harus dijadikan satu dengan dokumen yang harus dibawa ke KanIm yang sudah dipilih sesuai jadwal. Pastikan bentuk-nya seperti ini yaa…Nomor Pendaftarandan belum sah kalo’ masih seperti ini outputnya :Form Permohonan ErrorItu artinya prosesnya belum berhasil sempurna. Ada kemungkinan, ada sesuatu di PC kita yang mem-block suatu fungsi. Coba cek browser yang digunakan deh. Monggo diulang lagi… Karena output yang seperti itu akan ditolak oleh petugas. Jadi percuma coba-coba… Cukup saya aja yang mengalaminya yaa..
    6. Kalo’ sudah mendapatkan nomor permohonan dan jadwal, datanglah pada hari yang sudah dipilih (kalo’ di KanIm yang tidak sibuk, biasanya hari ini kita mengisi online, besok sudah dapat jadwal untuk hadir di KanIm. Kalo’ KanIm yang sibuk seperti JakSel, waktu itu saya mengisi di bulan Mei, baru bisa memilih hari di Agustus πŸ˜€ Lama yaa…). Bawa : copy dokumen yang di-upload, materai Rp 6.000 satu lembar untuk Surat Pernyataan yang nanti didapat di KanIm, dokumen asli untuk dicek. Pada tahap ini, anak-nya belum perlu dibawa.
    7. Di KanIm, kita harus membeli lagi map+formulir yang harus diisi (padahal mah sama saja isian-nya seperti saat mengisi proses online, cukup nyebelin sih !). Dan kalo’ paspor-nya untuk anak-anak, akan ada Surat Pernyataan yang harus ditandatangani di atas materai oleh salah satu orang tua. Saya lupa harga map+formulirnya berapa. Tapi tidak terlalu mahal kok !
    8. Setelah diisi, baru kita boleh mengambil nomor antrian yang akan dilekatkan di map berkas kita.
      antrian

      Antrian

      Berkas Formulir

      Berkas Formulir

      Tunggu yaa sampai nomor kita muncul di layar panggil.

      Ruang Tunggu

      Ruang Tunggu

    9. Setelah dipanggil ke loket online, akan dilakukan verifikasi data. Ini enaknya pendaftaran online, karena pada saat upload, itu sebenarnya proses sudah dimulai sejak kita belum hadir. Data-data kita sudah ada di server Imigrasi. Makanya bisa lebih cepat prosesnya sepertinya. Setelah tahap ini, kita dibeli undangan untuk proses wawancara + foto.Waktu itu, Tiwi datang sekitar jam 7.30 pagi. Dipanggil sekitar jam 8.15. Lalu diberi seperti kupon untuk wawancara + foto jam 2 siang (14.00) di hari yang sama.
    10. Alhamdulillah, karena saat dinas luar, ada kesempatan OFF satu hari, jadi hari itu langsung balik ke rumah. Istirahat sebentar. Setelah asha pulang sekolah, langsung berangkat lagi ke KanIm. Kali ini Ogie dibawa.
    11. Setelah sampai di KanIm, lagi-lagi harus mengambil nomor antrian. Kali ini untuk membayar. Alhamdulillah, nggak terlalu lama menunggu panggilan bayarnya. Biaya resmi pembuatan paspor adalah Rp 255.000 yaa…Siapkan uang pas !Loket Pembayaran
    12. Setelah selesai bayar, akan dapat lagi nomor antrian untuk foto + wawancara (nggak go-green yaa… berkali-kali print nomor ituuhh… !)
      Bukti Bayar + Nomor Antri Foto

      Bukti Bayar + Nomor Antri Foto

      Ruang Foto + Wawancara

      Ruang Foto + Wawancara

      Di tahap ini Ogie mendapatkan kemudahan, Alhamdulillah. Hekekekeke… Karena nomor tunggu yang kami dapat lumayan masih cukup lama saat itu, dan dia udah capek banget sepertinya nunggu, jadi pas diajak main sudah nggak mood. Plus juga, jam-jam segitu adalah jam bobo siang-nya. Jadi sempet ada pak Petugas yang melihat kepala dia jatuh-jatuh susah payah nahan kantuk πŸ˜€ Akhirnya kami disuruh masuk duluan. Sudah nolak-nolak dulu sih, menghargai sistem antrian. Tapi sekitar 3 orang yang akan kami lewati juga nggak berkeberatan dilangkahi prosesnya oleh seorang anak unyil πŸ˜€ *ma kasih yaa pak, bu !* Tapi dasarnya emang nggak boleh nyelak yaa… sampe di depan petugas foto-nya, PC-nya hang ajah dong ! Hahahaha… Tetep ajah akhirnya barengan yang nomor sebelum kami akhirnya. Hedeehh… Dan Ogie sukses bobo saat wawancara πŸ™‚ Syukur aja udah lewat sesi foto-nya…

    13. Setelah selesai foto+wawancara, sebenarnya sudah selesai juga proses pembuatan paspor. Untuk menunggu buku paspor, dibutuhkan 3 hari kerja. Kita hanya harus menyerahkan bukti bayar untuk mengambilnya. Saran saya : datang lebih pagi untuk mengambil, karena biasanya ada antrian juga… πŸ˜€

Jadi gitu ceritanya pembuatan pasopor Ogie ! Nggak sulit kan ?!
Pokoknya, setelah menjalani ini, Tiwi sih bertekad, nggak akan mau lagi memanfaatkan jasa calo. Konsekuensinya, paspor diperlakukan seperti KTP sih seharusnya. Setelah masa berlakunya akan habis, segera perpanjang. Jadi nggak keburu-buru pas butuh ! Kesan-nya boros ya ? Tapi kan Rp 255.000… Borosan mana sama Rp 1juta hayo ?! :p

Yuks, jalan-jalan… !

Cheesecake Addict ! :D

Awalnya sih karena pengen coba-coba nerima pesanan kue. Dan pengennya perfect ! Iklan (email broadcast) kudu ada foto contoh kue-kue-nya. Dan kue-nya pun harus buatan sendiri. Bukan hasil googling dan cropping dari situs manapun (walaupun kalo’ kejadian juga sumber pasti disebutin sih..)

Tapi ternyata untuk jenis Tiramisu, Cheesecake gitu belum ada foto-nya yang bisa dipajang. Jadilah googling resep dengan kata kunci “resep cheesecake ncc”.
Nggak tau kenapa, untuk pencarian resep-resep kue, saya percaya dengan resep-resep-nya NCC. Padahal saya nggak terlalu selalu mengikuti perkembangan milis/forum-nya juga lho ! Sepertinya dengan pertimbangan, karena sesama emak-emak pasti tips dan trik-nya saat membuat kue itu pasti sama dan simple ! (seperti produk pengganti, cara-cara anti gagal, dll) jadilah saya percaya penuh kalo’ pake’ resep NCC. Thanks emaks… πŸ™‚

Akhirnya menemukan resep ini (dan juga sekaligus link ke website yang akhirnya jadi favorit juga) di Cakefever.com. Kelihatannya resep dan prosesnya mudah yaa.. Tips-tipsnya juga lengkap di website tersebut.

Yuks, berburu bahan-nya pas pulang kantor… (niat beneran kok iki !)

Ingredients

Crust
250 gr biskuit oreo (aku pakai 250 gram marie regal)
100 gr margarine lelehkan (aku pakai 100 gram unsalted butter)
1/2 sdt vanili bubuk (skip)
kopi instant (skip)

Blueberry Cheese Cake with whipcream

Cake:
200 gr gula pasir
4 butir telur
1 kg cheese cream (saya pakai Yummy)
250 gr sour cream (saya pakai Yummy)
1 sdt air jeruk lemon (saya skip ini, nggak ada waktu itu)
2 sdt kulit jeruk lemon parut (saya skip ini juga :D)

Topping:
250 ml whipped cream (skip)
1 sdm gula pasir (skip)
250 gr selai blueberry

How-To:

  1. Siapkan loyang bongkar pasang 22 cm olesi mentega, sisihkan. Hancurkan biskuit hingga halus, lalu tuang butter (atau margarine) yang sudah dilelehkan, aduk rata. Masukkan adonan biskuit pada loyang, ratakan dan tekan-tekan sampai padat, oven sebentar [5-10 menit] angkat, sisihkan.
  2. Kocok gula dan telur hingga kental, masukkan cheese cream dan sour cream bergantian sambil terus dikocok.
  3. Tuangkan adonan ini ke dalam loyang, di atas adonan biskuit, lalu oven dengan suhu 165C dengan cara au bain marie [diletakkan di atas loyang yang sudah diisi air] selama 90 menit.
  4. Angkat, dinginkan di suhu kamar, hingga benar-benar dingin.
  5. Kocok whipped cream dan gula pasir hingga kental, oleskan di atas cheese cake, lalu bekukan dalam kulkas selama minimal 4 jam (Aku ndak pakai whippedcream ya, langsung aja oles blueberry-nya)

Original Recipe by Fatmah Bahalwan (NCC)

Catatan:
Sour Cream bila tidak bisa menemukan, bisa diganti dengan yoghurt plain. Yoghurtnya yang kental itu ya, jangan pakai yang cair.

Read more: Resep Blueberry Cheese Cake | CakeFever.com

Pas tester-nya dibawa ke kantor, ludessss langsung ! Dan pada bilang “Enyaaakkkk”“Kuraaannngg”… Ya iya lah, wong cuma bikin 1/2 resep (pas banget untuk loyang D20 atau 18×18). Mahal boss ! :p

Hasil foto pun memuaskan, dan siap dipajang di iklan πŸ˜€
Dan sudah menuai pesanan perdana untuk kue anniversary seorang teman. #okesip !

Kemarin akhirnya memutuskan membuat Cheesecake untuk kue ulang tahunnya Ogie. Kali ini toppingnya Strawberry. Mantap juga lah… Anak-anak kecil pada suka ! Mungkin karena tekstur-nya yang mirip es krim dan memang lebih enak disajikan dingin kan…
Cream cheese-nya diganti sebagian dengan merek Anchor. Katanya sih membuat rasa keju-nya lebih maknyuss… (ini testimoni teman-teman kantor lho yaa)

Ogie's 1st Bday Cake

Ogie’s 1st Bday Cake

Happy birthday (again) Cah Bagus…

Everyone loves you, kid !

You are 1 Today !

Dear Ogie,

Ogie

Ogie 1 tahun

Anak mama yang paling ganteng…
Hari ini kamu 1 tahun. Aahh, sudah bukan hitungan bulan lagi nak usiamu sekarang πŸ™‚

Sudah bisa apa saja kamu di usia 1 tahun ?
Sudah senang dititah. Untungnya badanmu menjulang tinggi. Sehingga kami tidak perlu membungkuk untuk membuatmu berjalan πŸ™‚
Sudah bisa merangkak sejak usia 8-9 bulanan. Gesit ! Sehingga kami harus berlomba sebelum kamu tiba-tiba nyemplung di kolam ikan atau jatuh di undakan
Sudah merambat (bahkan merayap di lemari berpegangan ala Spiderman !) dengan sangat cepat !
Sudah bisa bilang “Achaa cha cha cha…” “Pa..pa..pa..” “Amama.. ma..ma..” Cerewet sangat ! Sampai mama nggak berani membayangkan ramainya rumah kita nanti dengan duet maut kamu dengan asha πŸ˜€
Sudah sangat mengenal siapa mama-mu ! Hahaha… sampai semua orang kesal karena sekali terdengar suara mama, kamu nggak akan bisa dibujuk dengan apapun juga untuk berpindah gendongan ! Good boy… πŸ™‚

Nggak sabar nak, menunggu waktunya kamu bisa berjalan, kita berlarian bersama asha berlomba menuju pagar saat ingin memanggil abang-abang lewat πŸ˜€
Nggak sabar juga, menunggu kamu bisa berceloteh menyuarakan apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu ingin tahu, dengan suara unyil-mu.
Akan kita bahas bersama kenapa pesawat yang lewat di atas rumah kita itu bisa membuat suara berisik yang membuat kamu mendongak setiap mendengarnya..
Akan kita cari tau, dengan apa kupu-kupu berpindah-pindah tempat membuat kamu sibuk memutar badan supaya tidak kehilangan dia.

Cepat besar anak-ku…
Bertumbuhlah sehat, cerdas, kuat.
Supaya kamu bisa menjadi anak soleh yang berguna bagi sesama-mu.
Mencerna kalam-kalam Allah di sekitarmu.
Menjadi “Ghiyath” bagi siapapun yang ada di sekitar-mu.

Love you, kiddo.

Hargai Profesor ya, Nak !

Asli, culun banget deh percakapan virtual satu ini. Obrolan antara Bapak 2 anak yang sedang berulang tahun dengan anak lelaki-nya yang sedang tidur nyenyak. Lha wong udah jam 11 malem gitu. Tapi lucu beneran. Makanya pengen ditulis.

Tadinya saya dan Erwin sedang membicarakan salah seorang teman yang sedang liburan ke Wakatobi untuk diving. Menyenangkan yaa ! Tapi tau-tau, terjadi adegan seperti ini :

Papa : “Nak, kalo’ nanti kamu pengen belajar menyelam, papa bayarin yaa.. Gpp deh mau kemana kek tinggal bilang aja sama papa !” *sambil usap-usap Ogie* “Kalo’ kakak-nya nggak usah. Bahaya jauh-jauh pergi nanti…”

Emaknya protes dong. Wong anak perempuannya sekarang malah udah ketauan cinta renang banget ! “Ih, kamu ngebeda-bedain !” Nyengir doang bapaknya πŸ˜€

Abis itu lanjut.

“Kalo’ kamu mau ikut balapan juga nggak apa-apa nak. Biar aja sama mama gak boleh. Tapi sama papa nanti papa modalin ! Beli motor yang bagus yaa nanti !”

Emaknya nyeletuk : “Iya nak, beli Kawasaki Ninja 250cc, nanti kamu modif yaa” *ini mah emang niat ngegodain Bapaknya, secara dia baru ngedumel, nggak ngerti pikirannya orang-orang yang pada hobi modif itu, buang-buang duit katanya*

“Jangan yaa, Nak. Papa beliin yang bagus sekalian. Tapi jangan dimodif. Yang bikin motor itu tuh Profesor tau ! Dia bikin udah susah payah. Mosok kamu modif di pinggir jalan ! Nggak mau papa kalo’ kamu kaya’ gitu..”

Emaknya udah nggak tahan dah akhirnya… Ini yang bobo nyenyak anak bayinya, kok yang ngigo papa-nya sepertinya πŸ˜€

Bali… Bali… Bali… [1]

Hehehe, mumpung baru pulang banget dari liburan, mudah-mudahan masih semangat nulisnya πŸ˜€

Iyaa, jadi minggu lalu, kami baru saja Family Gathering ke Bali ! Sak omah ! πŸ˜€ Alhamdulillah, ini Family Gathering RumahSemeru yang ke-2 kali-nya. Mudah-mudahan bisa diberi rejeki lebih supaya bisa rame-rame jalan-jalan terus πŸ˜€

Buat saya dan Erwin, setelah 6 tahun lebih menikah, ini kali pertama kami ke Bali bareng-bareng. Hehehe… Iyaa, biasanya ke Bali kan buat urusan kantor. Honeymoon ?! Waktu selesai nikah itu masih “kere” banget. Jadi, ketimbang buat honeymoon ke Bali, uangnya dipake’ buat beli jemuram, rak piring, dll :p

Lagipula, buat saya, ke Bali itu identik dengan berlarian di pasir pantai, main ombak di laut, membuat istana pasir, dan beberapa permainan seru lainnya. Yang artinya, harus menunggu Asha agak lebih besar dulu kan ? Pas nih, dia berusia 5 tahun, yuk mari ke Bali. Kasian lah Asha kalo’ harus nunggu Ogie besar lagi πŸ˜€

Kamis, 23 Februari 2012

departureKarena alasan harga, kami membeli tiket Batavia Air. Rombongan lumayan besar. Dengan 1 bayi, 1 toddler. 1 pasukan belum pernah sama sekali naik pesawat πŸ˜€ *senyum jail* Pesawatnya dijadwalkan take-off pukul 06.00 WIB. Penerbangan pertama.
Alhamdulillah, Ogie memang mempunyai jam biologis yang cukup pagi buat ukuran manusia dewasa. Tidak perlu lagi alarm sholat subuh sejak dia lahir. Range jam 3-4 pagi itu jam seger-segernya dia. Hasilnya, jam 3.30 pagi dia sudah siap berpakaian rapi, dan sudah mandi ! Uedan deh bocah….
Sementara kakak-nya, walaupun memang selalu heboh kalo’ dibangunkan dengan kata-kata “Kan kita mau terbang…” Tapi prosesnya masih ada bujuk-membujuk yang bikin “lumayan stress” pagi-pagi ya…

Jam 4 teng, alhamdulillah sesuai jadwal, kami berangkat dari rumah. Kali ini, 1 pasukan tinggal di Jkt. Katanya, bosen ke Bali. Gaya yaa… Tp lumayan lah, satu amanah ke sekolah asha nggak terbengkalai.

Saat check in, keberangkatan pagi itu ternyata malah poll penuh-nya yaa…
Lumayan bikin ribet rombongan. Karena dengan 6 dewasa, 1 bayi, 1 anak kecil dan 3 koper sedang, manuver yang dijalankan tidak bisa terlalu luwes. Tapi alhamdulillah, bisa boarding tepat waktu.

Penerbangan ini adalah penerbangan Ogie pertama. Persis di usia dia 7 bulan πŸ˜€ Harusnya turun tanah yaa Ogie. Ini malah “turun pasir”. Hehehe…
Anak bayi-nya lumayan rewel di dalam pesawat, karena memang dia tipe pembosan. 30 menit pertama, lumayan stress karena dia tidak mau disusui, tidak mau merespon bercandanya Asha (yang biasanya senjata ampuh buat menenangkan Ogie), tidak mau diam di posisi duduk. Huuffttt..
1 jam selanjutya, Alhamdulillah anak bayi-nya tidur nyenyak πŸ˜€

Tiba di Bali, kami dijemput oleh Kijang Innova sewaan yang sudah diatur sejak dari Jakarta. Kontak-nya kami dapatkan melalui Kaskus. Dan ternyata memang RECOMMENDED sekali pelayanannya ! TOB Gan…

(bersambung)

Anak Mandiri. Apa sih ?

Dari pagi, kangen sama asha tuh sampe mau nangis rasanya. Entah kenapa. Pas dicoba ditelepon, alhamdulillah anaknya baik-baik aja di sekolah. Di rumah, malah lagi bobo barusan. Trus kenapa kangennya sampe’ bikin kaya’ pengen pulang banget gini yaa..
Embuh wis… Mending kita cerita asha lagi aja yaa…

Jadi postingan kali ini dilatar belakangi kejadian saat saya mengambil raport asha beberapa waktu lalu. Ada pesan dari wali kelas asha : “mama asha, kepala sekolah mau ketemu.” Baiklah… paling masalah transportasi outbound seperti biasanya lah, begitu pikir saya saat itu.

Ternyata oh ternyata… hari itu, saya ditegur. Mmmhh, atau sebenernya itu curhat sang kepala sekolah ya ? Tapi nadanya sih menegur πŸ˜€
Karena asha selalu didampingi oleh pengasuhnya saat kegiatan di luar sekolah. Apakah itu kunjungan ke pabrik, ourbound, dll. Dan katanya, karena mobil asha selalu “ditumpangi” oleh orang tua yang juga ingin melakukan hal yang sama ke anak-anaknya. Mendampingi. “Tolong bunda, percaya sama sekolah ya. Besok-besok jangan didampingi lagi. Takutnya anak-anak nantinya malah tidak mandiri…”

Jujur, sampai sekarang kata-kata itu masih terngiang di telinga saya. “Takutnya anak-anak nantinya malah tidak mandiri”…

Pengen rasanya saya membuka KBBI-nya JS Badudu untuk mengetahui, apa sih arti kata mandiri itu ?
Parameter apa sih yang dipakai untuk menilai, si A itu mandiri atau nggak ?
Dan di usia berapa sih mau diukur tingkat kemandirian seseorang ?
Huhuhuhu… mulai emosi deh.

Saya memang cuma melihat dari sisi saya sebagai orang tua asha yang punya kewajiban menjaga dia sebagai “amanah”, dan saya sebagai anak hasil bentukan dari orang tua saya yang sudah terkenal “over-protective” sekali ke anak-anaknya.

Saya memang selalu menugaskan pengasuhnya untuk mengikuti kemanapun asha beraktifitas, di sekolah maupun di luar sekolah.
Kenapa ? Karena saya personally nggak bisa melakukan itu. Coba kalo’ saya FTM seperti mama saya dulu, pasti saya yang mendampingi dia kemana saja πŸ˜€ (tetep salah yaa kalo’ dari pandangan kepala sekolah mah yaa…)
Kenapa saya melakukan itu ? Karena cuma itu yang saya bisa lakukan maksimal buat asha karena status saya sebagai Ibu Bekerja. Meyakinkan dia baik-baik saja…

Saat itu kepada sang kepala sekolah, argumentasi saya, saya hanya berusaha meneruskan pola asuh yang saya dapat dari orang tua saya dan saya nilai baik hasilnya.

Dulu jaman SD, saat saya berkemah Perjusami di Cibubur, saya selalu bisa melihat orang tua saya kongkow-kongkow berkumpul di tendaΒ  guru-guru, ngobrol dengan mereka, sambil juga memastikan saya dan adik-adik baik-baik saja selama kegiatan di sana. Setiap hari-nya mereka datang, dan pulang saat kami sudah masuk ke tenda masing-masing.

Jangankan gitu, sampai saya kuliah di Bdg saja, setiap mama memasak makanan kesukaan saya, mama dan papa berkendara Jkt-Bdg dengan mobil, dan mengantarkan makanan itu ke saya. Catet yaa, belum ada tuh jalan tol yang saya masukkan ke inovasi paling edan selama abad ini ! Yang saya cintai sangat πŸ™‚
Bahkan saat saya sudah kerja, mereka suka datang ke kantor membawakan saya makan siang yang baru dimasak mama. Membelikan sepatu baru, dan bergegas mengantarkan ke kantor, karena mereka tahu setelah jam makan siang, saya harus menghadiri meeting dengan beberapa orang penting, padahal sepatu saya sudah mulai kusam.
Atau mengantar saya ke kantor polisi untuk perpanjangan SIM. Mama dan papa LENGKAP ! Sudah seperti mengambil raport saya saja… πŸ™‚

Yang heboh, saat saya sudah berkeluarga gini, karena nasib rumah cuma tinggal koprol ke rumah mama, kadang makanan buat asha, justru diantarkan oleh mama pagi-pagi sekali, supaya saya tidak perlu lagi menyiapkannya.

Hal-hal seperti itu yang saya dapatkan sebagai anak… Manja yaa kelihatannya ? Membuat nggak mandiri yaa ?
Silahkan nilai sendiri dari saya sekarang yang terlihat.

Saat saya punya rumah sendiri, saya bisa kok mencari tau cara menyalakan listrik melalui tata cara yang benar di rumah saya dengan pergi dan mempelajari proses di PLN, menyambungkan line telepon secara resmi ke Telkom, mengurus tetek bengek pengkreditan di bank yang bener-bener ngejelimet. Atau saat memang dibutuhkan “kelihaian” negosiasi ala preman supaya prosesnya lebih cepat, saya bisa merampungkan semua itu tanpa harus menyusahkan orang lain.

Bahkan, pertama kali saya pergi ke luar negeri, saya benar-benar seorang diri dan benar-benar pertama kali itu keluar dari wilayah NKRI. Tapi saya survive tuh seminggu di sana !

Hal seperti itu yang dicari dari kata “mandiri” kan ? Atau bukan ?

Satu quote yang selalu saya pegang dalam membesarkan anak-anak saya.
Mereka yang benar-benar merasa dicintai dan disayangi, akan lebih siap membagikan “sayang” dan “cinta”-nya kepada siapa saja di sekitarnya pada saat dia terjun ke masyarakat.
Buat saya, anak akan lebih merasa pede menjalani hidupnya, kalo’ dia selama memang belum waktunya untuk menjalani hidup sendirian, selalu bisa merasakan ketenangan, kenyamanan, dll.
Dan lagi, saya berusaha memberikan apa yang anak-anak butuhkan “mentally” supaya mereka nggak mencari ke luar rumah atau ke orang lain, karena mereka tahu, mereka akan bisa mendapatkan itu dari kedua orang tuanya.

Lagipula, untuk anak berusia 5 tahun, kemandirian seperti apa sih yang dituntut untuk bisa mereka lakukan ?
Bukan kemandirian kebablasan kan ? Mereka masih perlu pendampingan. Makanya ada orang-orang yang lebih tua di sekitar-nya selalu tho ?
Mereka perlu pengarahan… Yang jelas, mereka perlu yakin, bahwa mereka disayangi, dan keberadaan mereka selalu dianggap ada oleh orang tuanya.
Sesederhana itu sih tiwi berusaha membesarkan asha dan ogie sampai nanti mereka siap.
Love you, kiddos. Always.

Wallahu a’lam.