Category Archives: Personal

Tentang (ber)Pindah Kantor

Judulnya tumben banget ya ?! Wong nggak pernah nulis tentang pekerjaan (di kantor) di sini, tiba-tiba ngomongin (ber)pindah kantor…
Tenang aja, nggak bakalan jadi tulisan yang berat dan formil kok. Tetap tentang keseharian, yang kebetulan berhubungan dengan kantor aja… πŸ™‚

Hadiah ulang tahun di 2014 ini dari tiwi sendiri adalah memutuskan untuk (kembali) pindah kantor. Kembali ke lingkungan dimana asha mengalami masa-masa di dalam perut hingga lahir… Hehehe…
Banyak pertanyaan maupun penyataan seperti, “Dasar KUTUUUU, senengnya kok loncat-loncatan ?!”
Ih, perasaan tiwi nggak pindah-pindah sering-sering juga sih… Wong, jumlah kantor yang pernah di”singgahi” juga masih cukup kok dihitung dengan jari tangan (apalagi kalo’ ditambah sama jari kaki, masih boleh kok pindah-pindah kayanya.. :p)

Pindah kantor, berarti ganti atasan. Alhamdulillah, alasan Tiwi pindah tuh nggak pernah karena masalah atasan.
Malah seringnya ragu-ragu, bingung mau ngambil kesempatan itu apa nggak, justru karena faktor “nggak tega” atau “takut nggak bisa dapet” atasan Tiwi saat itu. Artinya, Insya Allah mah anak baik-baik lah yaa… Nggak musuhan sama bos-nya πŸ˜€

Berganti atasan lumayan sering (karena di satu kantor kan bisa jadi ada beberapa pindah bagian tho ?!), banyak pelajaran yang secara nggak langsung ikut membentuk Tiwi sehingga seperti menjadi yang sekarang ini.
Makanya, Tiwi pengen berbagi, apa saja yang bisa “dipelajari” dari beberapa atasan yang pernah Tiwi kerja bareng.

Nih diantaranya… Nggak berdasarkan urutan kantornya ya, seinget Tiwi aja ini mah…

Atasan A : Selalu catat apa yang kamu kerjakan, kerjakan semua yang kamu catat ! (efeknya, tanya Tiwi tentang dokumentasi apapun… Insya Allah mah lumayan ada oret-oretannya, kecuali lagi males kebangetan)
Atasan B : Kalo’ nggak ngerti, TANYA ! Jangan buang-buang waktu ngerjain sesuatu yang kamu gak yakin bener (efeknya, kesannya mah jadi “bego” di awal ya karena bawel… Tapi Insya Allah yang dideliver itu selalu sesuai ekspektasi)
Atasan C : Jangan pernah takut ngajak senang-senang tim lah… Asal bener ajah, kaya makan-makan. Insya Allah, kalo’ bisa bikin orang lain senang, rejeki mah pasti balik lagi ke kita kok ! (ini mengagetkan lho ! karena yang ngomong itu atasan yang tidak terlihat akan berperisip seperti itu dari luar :D)
Atasan D : Tiwi pernah berada di beberapa atasan dengan tipe ini. Menjadi tim beliau-beliau ini, Tiwi belajar untuk bisa percaya penuh ke orang lain. Karena bekerja dengan atasan macem begini, supervisi yang Tiwi dapatkan minimal banget lah… Malah jadi “pakewuh” kan mau “macem-macem” sama kepercayaannya, dan tertantang untuk bisa memberikan yang terbaik
Atasan E : The very Detail Person ! Asli, kagum poll pernah bekerja dengan model yang begini. Jangan pernah macem-macem lah… Semua hal diketahui. Gimana mo ngeles. Makanya, belajar belajar dan belajar, baru menghadap dan present apa yang dia mau, itu udah kudu banget lah ! Rajin baca, it’s a must !
Atasan F : Sepertinya mah nggak ada yang bisa dipelajari dari tipe begini… At least, Tiwi bisa belajar, bahwa
Tiwi pasti bisa menjadi atasan yang lebih baik kalo’ ada di posisi beliau. Hehehe…

Kualat

Yang namanya kualat itu, kaya’nya bisa digambarkan seperti percakapan pagi tadi antara saya dengan asha.
Setting-nya pagi hari. Hujan di luar. Saya sedang ngedusel-dusel asha supaya bangun dan mandi sebenarnya. Tapi saya menggoda dia dengan gini :

“Sha, dingin yaa..?! Hujan lho nak di luar. Enak yaa sha buat bobo-an lagi.” sambil peluk dia.

sambil senyum, dijawab gini sama anak unyil-nya :

“Ma, tapi kan asha harus SEKOLAH !” yang terus bergegas bangun dah ngambil susu UHT jatah pagi harinya.

#jleb #jleb #jleb

Kata Bimbo, Berbuat Baik Janganlah Ditunda-tunda…

Udah lama juga yaa nggak diupdate blog ini πŸ˜€
Bahkan ulang tahun asha tahun ini pun belum sempat didokumentasikan di “rumah” sini. Duh, maaf yaa Nak… Mama-nya lagi banyak kerjaan males banget inih.

Tapi kali ini pengen banget bercerita kejadian tadi pagi.
Kejadian yang “biasa” banget sih. Cenderung memalukan malah. Tapi “ending”-nya beneran bikin kami berdua merenung di sisa perjalanan sepertinya πŸ™‚

Jadi, tadi pagi motor yang kami tumpangi mogok di tengah jalan. Iya, mogok. Padahal motor ini terawat dengan service yang lumayan rutin. Ya wong mogoknya gara-gara kehabisan bensin :p Iya, iya.. motor masih tergolong “muda” kok. Indikator bensinnya juga masih berfungsi normal. Trus kenapa bisa sampe kehabisan bensin ? Wallahu a’lam lah itu yaa… Hanya pak Supir dan Allah yang bisa menjawabnya… πŸ˜€

Dan jujur aja, ini bukan pertama kali mengalami hal seperti ini. 1-2x sudah pernah lah. Tapi tadi pagi itu lumayan bikin keder juga. Bukan apa-apa.
Kalo’ mogoknya di tengah jalan model Gatot Subroto atau Casablanca mah mungkin lumayan tenang lah ya… Ada ojek, ada bus. Nyari bensin juga pasti jalan sedikit, ada lah pom bensin.
Nah, tadi pagi itu, mogoknya di dalam komplek AU Halim. Sekitar landasan lah. Yang punya akses lewat ke komplek Dwikora pasti tau medannya. Bener-bener jauh dari sarana publik pokoknya. Cuma da landasan, kantor-kantor TNI AU, dan komplek TNI. Sarana umum terdekat adalah Pasar Mini, yang jaraknya sekitar 5-7km lah dari lokasi mogok.

Jalanlah kami berdua.. Sambil menuntun motor, dan mengobrol supaya lupa sama capek-nya.
Sementara motor dan mobil war-wer di sebelah kami. Jalanan kosong, ngapain pelan-pelan kan ?! Jam sibuk di pagi hari pula. Pasti mereka bergegas ke tempat kerja masing-masing.

Ndilalah, ada seorang Bapak-bapak, memakai seragam tentara atribut lengkap, mengendarai sepeda ontel menyapa kami. “Gembos tha mas ban-nya ?”
“Ndak pak” sahut suami. “Mogok ini, kehabisan bensin”
Lanjutan penjelasan si Bapak selanjutnya benar-benar di luar dugaan. “Ooo, sampeyan belok kiri aja, satu belokan sebelum mentok, sampeyan belok kanan. Cari rumah yang ada sedan merah di depannya. Biasanya dia sedia bensin kok. Nggak bakal ada plang-nya, sampeyan ketok aja !”

WOW… Walaupun dengan sedikit keraguan keterangan itu akan membantu, kami berterima kasih kepada si Bapak karena sudah mau berhenti dan berniat membantu kami. Berjalanlah kami sesuai arahan beliau.
Dan yak, aba-abanya cukup jelas. Kami menemukan sedan merah terparkir di sebuah rumah yang tidak begitu besar. Dan tidak ada penanda apapun yang menerangkan rumah tersebut menjual bensin.

Dengan PD, kami ketok dan ucapkan salam. Seorang ibu yang sudah sepuh keluar.
[S] : “Ibu, mau tanya, ibu sedia bensin nggak ”
[I] : “Ooo, ada nak. Mau berapa botol ?”
[S] : “Dua saja bu, cukup kok kaya’nya. Asal jalan aja. Berapa bu ?”
[I] : “Sepuluh ribu saja nak…”

Dalam hati saya berpikir, dengan harga semurah itu (dengan lokasi yang ada jauh dari mana-mana, beliau bisa jadi spekulan yang menaikkan harga berapapun, saya yakin), nggak mungkin banget alasan beliau menyediakan stok bensin di rumahnya adalah untuk mencari keuntungan.

Si ibu bercerita sambil menuangkan bensin-nya.
“Memang ada saja mas yang suka mogok gini. Kadang malah anak sekolah, atau yang baru pulang main bola, atau petugas jaga. Jam 11 malem saja suka masih ada yang ngetok rumah. Kasian kan kalo’ mereka mogok di sini. Yaa, itung-itung menolong lah yaa… Ngebantuin mereka. Kadang sedih juga kalo’ bensin di rumah tinggal sebotol. Tapi asal nyala mesin aja sampe mereka nemuin pom lah yaa…”

Dueng…!! Rasanya nyesss gitu dengernya.
Niatnya itu mulia banget. Menolong orang. Bisa dibilang, semua orang yang diniatkan untuk ditolong ini orang yang belum dia kenal. Untuk menambah kenalan, katanya juga.

Ini Jakarta. Dan ternyata masih ada kok orang baik di sini. Walaupun dengan logat Jawa yang sangat medok.
Semoga keberkahan Allah selalu tercurah kepada Bapak dengan sepeda ontel-nya dan Ibu Penyedia Bensin sekeluarga yaa…
Jadi, kapan kita mau mulai berniat “Menolong Orang” yang bahkan belum kita kenal ? πŸ™‚

Kuat Mental ? Nanti dulu…

Ini posting nggak penting banget sebenernya. Tapi bikin saya senyam-senyum beberapa hari ini karena berhasil memecahkan masalahnya !

Jadi latar belakangnya gini… 3 perempuan dan 1 laki-laki sebagai supir, menjalani perjalanan di Jum’at malam menuju tengah kota Jakarta, yang… mmmhhh, tau dong Jum’at malam ? Muaceteeeee poll ! Tapi apa daya, kudu dijalanin. Karena ada cara Farewell si Bapak supir tersayang se-ruangan itu πŸ™‚ *mudah-mudahan beliau nggak baca, GR nanti*

Bertanyalah seorang teman tentang training motivasi yang diadakan kantor bagi GM level up. Karena konon, keluar dari ruangan itu, semua pesertanya mengaku (kepengen atau malah ada yang kebablasan) menangis.
“Kenapa sih, Pak ?” gitu pertanyaannya.

Jawabannya…
“Yaaa, trainingnya itu penutupnya kaya’ waktu kita-kita sekolah dulu gitu lho… Persami gitu. Yang disuruh membayangkan, jasa-jasa orang tuamu… Membayangkan, gimana kalo’ ternyata pas pulang Persami, ibu bapakmu sudah nggak ada lagi… gitu-gitu deh !”

Nah, jadinya kan malah nostalgia tuh di mobil. Lumayan, mengisi kebosanan di tengah macet.
Termasuk pengalaman saya diberi balsem di sekitar mata karena saya tidak kunjung menangis saat jurit malam πŸ˜€ *nguap iya adanya mah… ngantuk !*

Tapi cerita-cerita itu jadi membuat saya berpikir, apakah sekeras itu hati saya dulu, sampai tidak menangis saat jurit malam, yang dipikir-pikir, membuat teman-teman saya terisak-isak bahkan meraung-raung…
Asli, semalaman itu saya berpikir (setelah acara farewel yang berhasil membuat saya berkaca-kaca. Everything won’t be the same again without you, sam…) dan baru berhasil mendapatkan jawabannya keesokan harinya…

Kenapa saya tidak pernah bisa menangis saat jurit malam saat SD ? Hehehe, jawabannya simple kok.
Bukan karena saya nggak sayang kedua orang tua saya. Bukan jugak karena saya kuat mental. Bukan karena hati saya keras (untungnya !). Tapi kenapaa ??

Karena mama dan papa selalu ada di tenda panitia !! Dan saya tau itu !
Hahahaha…

Yups. They can be so over protective for some condition. But i love it !
And i love them.

Siap-siap aja yaa, asha.. ogie.. I’ll treat you both the same ! πŸ™‚

Resep : How to Live a Life

Background-nya gini…
Weekend kemarin, saya iseng di rumah. Buka-buka resep.
Tling, terpikirlah mencoba membuat kue kering favorit saya. Sagu Keju.
Iya, saya kalo’ lagi iseng pengen nekat-nekat coba resep, pasti nyobain resep yang saya memang sudah tau rasanya. Biar tau, berhasil atau tidak…

Timbang, aduk, kocok, cetak, jadilah kue-nya.
Dicicipin satu, “Lho kok enak…”
Nantangin suami buat nyobain, “enak ma !” katanya. #okesip. #keren.

Sampai malamsaya masih merasa takjub sendiri.
Saya baru sekali nyoba bikin kue itu. Tapi alhamdulillah kok langsung enak.
Resep-nya OK nih. Anti gagal. Untung saya nurut poll sama resep.
Nggak sok tau, nekat-nekat ganti, atau kurang-tambah.
Semua orang pasti bisa lah bikin kue ini. Asal manut sama resep.
Dueengg.. dan datanglah lintasan pemikiran yang serius itu.

Kalo’ saat mau bikin kue enak saja, kita harus mau manut sama resep yang biasanya sumbernya sudah kita percaya supaya kita yakin kue-nya bakalan enak.
Kalo’ saat saya mau merangkai LEGO saja saya mau telaten membaca dan melihat gambar di Manual Instruction yang diberikan supaya hasil jadinya sesuai dengan gambar besar di box yang sudah menarik minat saya untuk membeli.
Kalo’ saat mau mulai mengoperasikan mixer yang karena harganya mahal, saya harus mau rela “ngerenyit-ngerenyit” membaca Owner’s Manual yang tulisannya kecil-kecil itu supaya tidak rusak.

Kenapa dalam menjalani hidup yang sukses atau nggak-nya justru bakal dialami oleh kita sendiri, kita masih enggan yaa membaca manual yang jelas-jelas sudah dikirimkan oleh yang Maha Mengirimkan kita ke dunia… πŸ™‚

Tanya kenapa.

Tekad

Semalem baru saja saya menamatkan buku mantan Menteri Kesehatan, (Almh) Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih πŸ™‚
Mbrebes mili membacanya. Karena sebenarnya, bukunya lebih merupakan blog (versi cetak) yang dibuat kejar tayang karena beliau merasa waktu berpulangnya yang sudah dekat.

Di buku itu, kita bisa membaca perasaan-perasaan, curhat-curhat sang Menkes, sebagai seorang ibu. Kenangan beliau, perasaan beliau terhadap anak-anaknya, dituliskan satu per satu di buku itu.

Membuat saya berpikir, saya saja yang orang di luar keluarganya, suka membaca buku itu. Apalagi anak-anaknya yaa…
Pasti perasaan mereka campur aduk dalam mengenang ibu mereka.

Aaahh, membuat saya sedikit tersentil, Ibu diberi tanda-tanda akan berpulangnya dengan sakit kanker-nya. Makanya, beliau bisa menuliskan semua itu dalam jangka waktu yang sebenarnya sedikit sekali.
Sedangkan saya ? Wallahu a’lam kan ?

Kapan saya akan sempat menuliskan kenangan-kenangan saya tentang anak-anak saya jika tidak dimulai dari sekarang secara rutin ?
Kasian Asha dan Ogie kalo’ memang saya nantinya tidak akan sempat me-rewind memory tentang masa kecil mereka dengan cara yang sama dengan mama dan mbah menceritakan bagaimana saya waktu kecil dengan bercerita sebelum tidur.

Yuk ah, ingatkan saya untuk rutin menuliskan milestone mereka, perasaan saya terhadap mereka di blog ini…
Jangan sampai ada yang tercecer.
Karena yang kadang remeh dari anak-anak, itu yang sudah membuat hidup saya begitu terberkahi πŸ™‚

Analyze(r) !

Kalo’ pagi-pagi nggak heboh, itu mungkin rumah itu rumahnya penganten baru yg masih bulan madu, atau rumahnya pensiunan yang anak-anaknya sudah mandiri semua.
Karena rumah dengan 2 anak unyils, dengan Bapak dan Ibu yang bekerja, bisa dipastikan pagi hari – bahkan mulai sebelum adzan Subuh, sudah dipastikan harinya diawali dengan kehebohan.

Ada yang lucu dengan kehebohan di rumah kami kemarin.
Diawali dengan saya membangunkan asha untuk mandi, dan bersiap ke sekolah.

S : “Sha, bangun nak… Ayo mandi. Udah jam 7 lho, nanti kamu diabaikan. Udah siang ini, Nak…”

Dan jawaban asha adalah…
A : *dengan mata terpejam* “Ini masih pagi, ma… Tuh, papa aja masih tidur ! Artinya masih pagi !” (iya, memang saat itu Erwin masih tidur karena memang niat datang agak siang.)

See, kebiasaan asha ngeyel memang begini. Disertai dengan fakta. Zzzzz…
Dengan sedikit pemaksaan, saya gendong dia ke depan kamar mandi. Dan seperti biasa, kalo’ asha ngambek, dia nggak bakal mau dimandikan oleh saya. Maka pengasuh-nya yang mengambil tanggung jawab itu.

Dialog di kamar mandi :
A : “Kenapa sih Wi, asha harus sekolah ?”
Pengasuh (Uwi) : “Yaa anak-anak emang harus sekolah, nak.. Biar pinter. Kan asha mau jadi dokter kan ?” (ini doktrin dia lho, bukan saya !)
A : *diem sebentar* “Emang Uwi dulu juga sekolah ?”
Uwi : “Iya dong, Uwi dulu sekolah pas masih kecil” *dengan nada bangga*
A : “Terus, sekarang Uwi jadi apa ??” *dengan nada tinggi pengen tau !”

Asli deh.. saya yang mendengarkan di luar sudah nggak sanggup nahan sakit perut karena ketawaan.
Dan emang pada dasarnya pengasuhnya juga Ratu Ngeyel, masih diladenin itu anak kecil…
Uwi : “Sekarang kan Uwi jadi PA nih, Sha… Pengasuh Anak ! Sama PD, Pengurus Dapur !”

Hahaha… Makin ngakak nggak karu-karuan deh saya.
Duh nak… nak…
Dengan tingkat ke-kritisan dan analisa kamu yang kadang di luar perkiraan, mama doain yaa Nak. Suatu saat kamu baca ini, mama mau kamu tau.
Insya Allah, kamu akan jadi anak pintar yang disayang Allah, yang berguna buat membantu orang banyak di sekelilingmu yaa. Mau jadi apapun itu.
Jangan bikin kecerdasanmu itu untuk “minteri” orang lain yaa, Nak. Bukan seperti itu anak mama…

Love you, Kiddo.

Perpanjangan SIM C itu Mudah ! #gaya [@Polres Metro Bekasi]

Menunaikan amanah dari suami nih… Disuruh “menyebarkan” kemudahan proses perpanjangan SIM di Twitter, blog, status FB, dll πŸ˜€
Supaya nggak lagi ada percalo-an di lembaga-lembaga pemerintahan, katanya… πŸ™‚

Iyaaa, karena tanggal 5 April ini SIM C saya habis masa berlakunya… (iyaa…. ma kasihhh buat ucapannya :p), jadilah “terpaksa” kudu sowan ke Polres Metro Bekasi.
Kenapa saya bilang “terpaksa” ? Karena jujur, saya nggak pernah suka berurusan dengan lembaga pemerintahan. Apapun jenisnya. Apalagi berhubungan dengan instansi berseragam πŸ™ Keder duluan bawaannya…

Dari pertama kali saya punya SIM, itu tahun 1995 kalo’ nggak salah; proses pembuatan SIM saya baik yang baruΒ  maupun perpanjangan selalu memakai jasa calo ! :p (mau itu calo “cabutan pas udah di lokasi, atau pake’ kebaikan agen biro jasa :D).
Gitu kok yaa bangga yaa πŸ˜€ Yaa abis, mau gimana lagi… Waktu saya terbatas soalnya.

Nah, kemarin itu saya juga sudah koordinasi dengan agen biro jasa tempat saya biasa minta tolong. Sudah janjian juga jam 9 pagi di Polres. Tapi ternyata siang-siang agen-nya telepon, dan bilang kalo’ Sabtu itu, kepolisian statusnya “steril”. Artinya, bahkan biro jasa pun nggak boleh “nongkrong” di situ.

Tapi dipikir-pikir… weekend kemarin kami nggak ada rencana yang serius. Dan kata-kata “steril” sepertinya bermakna, kantor polisi bakal lebih sepi kan… Karena bakal nggak ada biro jasa, calo, dll.
Ngajuin proposal ke suami deh, kalo’ Sabtu pagi bakalan ngilang sebentar ke Polres. Tapi ternyata beliau malah menyanggupi mengantar πŸ˜€ Alhamdulillah…

Dari Jum’at malam saya udah browsing-browsing, bagaimana situasi yang akan saya hadapi, berapa biaya yang kira-kira harus saya bayar, dll.
Ada satu link yang bikin saya optimis, bahwa pembuatan SIM perpanjangan itu cuma akan memakan waktu “40 menit” dihitung dari memarkir motor. Makin optimis deh ! Berangkaaaatt !

Polres Metro Bekasi

Polres Metro Bekasi

Polres buka pukul 08.00 WIB. Saya berusaha supaya jam 8 sudah ada di sana. Tapi ternyata meleset, 45 menit πŸ˜€
8.45 baru masuk ke area pelayanan SIM.
Itu juga, karena nggak tau alur prosedur yang harus dijalankan, saya terpaksa memutar kembali ke luar. Karena ternyata, sebelum membeli formulir di BRI, kita harus berbekal Surat Keterangan Kesehatan dari Dokter Polisi. Di Polres Bekasi letaknya kok yaa terpisah dari komplek pelayanan SIM. Harus keluar pagar dulu, lalu melewati jalan kecil. Padahal kalo’ pagar di sebelah loket dibuka, letak dokter-nya itu deket banget lho !
O iya, jangan lupa juga, siapkan fotocopy KTP yang masih berlaku dan SIM C lama yang mau diperpanjang. Untuk KTP, boleh agak banyak dibanding SIM-nya copy-annya.

Setelah membayar Rp 22K, kita akan diberi kwitansi dan keterangan “lolos” screening. Karena memang kita ditest juga oleh dokternya, minimal test buta warna pake’ lembaran bulet-bulet yang beda warna itu lho…

Sumpah deh, kalo’ kemarin nggak sama Erwin, mungkin saya sudah memakai jasa calo yang ternyata masih seliweran di sekitar dokter polisi itu. Ditawarkan Rp 200K + 1 jam, SIM C saya sudah jadi. Tapi diomelin suami πŸ˜€ “Katanya mau nyoba bikin sendiri… udah nggak usah pake’ calo lah. Nggak buru-buru juga kan kita ?!” Baeklah… Mundur teraturlah saya… :p

Masuk kembali ke lokasi pembuatan SIM. Langsung menuju loket BRI untuk membeli formulir. Tapi lagi-lagi dialihkan dulu ke loket sebelah, untuk membeli “premi” asuransi. Huduww, semalem sih baca-baca, asuransi ini seharusnya bisa kita abaikan yaa, karena nggak wajib. Tapi daripada kudu bersitegang, mari dijalani. Rp 30K untuk premi asuransi SIM C. Baru setelah itu kita boleh membeli formulir perpanjangan SIM C di BRI. Rp 75K. Sesuai sama gambar yang memang dipajang di ruang tunggu.

Tarif Pembuatan SIM - Image : http://bloggercikarang.com

Tarif Pembuatan SIM - - Image : http://bloggercikarang.com

Setelah mendapat formulir, lalu dilengkapi sesuai petunjuk yang ditempel di meja pengisian. Tapi isi-nya memang sederhana banget kok. Saya cuma butuh sekitar 10 menit untuk sampai memastikan isian saya sudah benar.
Setelah itu, diserahkan ke loket Penyerahan Formulir sesuai tipe SIM yang mau kita urus.
Lalu kita akan dapat nomor antrian foto, dan setelah itu bisa menunggu dipanggil pak polisi (biasanya yang manggil ibu polisi nih, karena dari pengalaman mengurus SIM yang jedanya 5 tahunan, selalu beliau terus. Tapi kali ini udah pensiun sepertinya yang bersangkutan)

Saya menunggu sekitar 10-15 menit sebelum dipanggil foto. Lumayan ramai padahal hari Sabtu kemarin. Tapi sepertinya kebanyakan pembuatan SIM baru. Karena antrian foto-nya cuma sebentar.
Setelah masuk ke ruang foto, penyamaan identitas berlangsung secara dialog. Pastikan alamat, tanggal lahir, dan data-data lain sudah benar. “Klik” foto diambil, tanda tangan di scanner, cap jempol kedua tangan. Lalu keluar lagi ke ruang tunggu untuk menunggu SIM-nya jadi.

10 menit kemudian saya sudah dipanggil lagi. Voila… Jadilah SIM C baru saya untuk 5 tahun ke depan.
Hanya Rp 127K, dan total jenderal waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 45 menit dari pertama saya datang (sudah termasuk jalan memutar itu) !! Wohohoho.. ini SIM saya yang termurah dan tercepat ! Beda-nya lumayan yaa dibanding memakai biro jasa !
Nggak henti-henti hari Sabtu kemarin, saya senyum-senyum ke Bapak-bapak polisi yang saya lewati pas keluar. Dan bilang terima kasih nggak ada habisnya πŸ˜€
Ini “keajaiban” buat saya ! Hehehe… Setelah melalui sendiri, saya dan Erwin memutuskan, besok-besok pengen perpanjang SIM A maupun SIM C kami sendiri lagi :p
Mudah-mudahan pas lagi “steril” lagi kepolisiannya yaa…

Terima kasih, PolRI !!

PS : Back drop foto-nya tuh bakalan kain berwarna biru tua ! Jadi pastikan memakai baju atau jilbab (kalo’ yang pake’) itu yang berwarna terang yaa… Supaya muka-nya keliatan :p

Hargai Profesor ya, Nak !

Asli, culun banget deh percakapan virtual satu ini. Obrolan antara Bapak 2 anak yang sedang berulang tahun dengan anak lelaki-nya yang sedang tidur nyenyak. Lha wong udah jam 11 malem gitu. Tapi lucu beneran. Makanya pengen ditulis.

Tadinya saya dan Erwin sedang membicarakan salah seorang teman yang sedang liburan ke Wakatobi untuk diving. Menyenangkan yaa ! Tapi tau-tau, terjadi adegan seperti ini :

Papa : “Nak, kalo’ nanti kamu pengen belajar menyelam, papa bayarin yaa.. Gpp deh mau kemana kek tinggal bilang aja sama papa !” *sambil usap-usap Ogie* “Kalo’ kakak-nya nggak usah. Bahaya jauh-jauh pergi nanti…”

Emaknya protes dong. Wong anak perempuannya sekarang malah udah ketauan cinta renang banget ! “Ih, kamu ngebeda-bedain !” Nyengir doang bapaknya πŸ˜€

Abis itu lanjut.

“Kalo’ kamu mau ikut balapan juga nggak apa-apa nak. Biar aja sama mama gak boleh. Tapi sama papa nanti papa modalin ! Beli motor yang bagus yaa nanti !”

Emaknya nyeletuk : “Iya nak, beli Kawasaki Ninja 250cc, nanti kamu modif yaa” *ini mah emang niat ngegodain Bapaknya, secara dia baru ngedumel, nggak ngerti pikirannya orang-orang yang pada hobi modif itu, buang-buang duit katanya*

“Jangan yaa, Nak. Papa beliin yang bagus sekalian. Tapi jangan dimodif. Yang bikin motor itu tuh Profesor tau ! Dia bikin udah susah payah. Mosok kamu modif di pinggir jalan ! Nggak mau papa kalo’ kamu kaya’ gitu..”

Emaknya udah nggak tahan dah akhirnya… Ini yang bobo nyenyak anak bayinya, kok yang ngigo papa-nya sepertinya πŸ˜€

Menulis ? Nggak Susah kok…

Gaya banget yaa judulnya πŸ˜€ Nggak kok, menulis yang dimaksud dalam judul di atas itu, menulis dengan konteks sangat sederhana. Bukan menulis sebuah buku yang sampai diterbitin oleh penerbit terkenal gitu…
Kalo’ kaya’ gitu mah, tiwi juga belum pernah πŸ˜€

Jadi, tadi pagi, ada berkedip di Yahoo Messenger saya. Penanda ada window percakapan baru yang belum terbaca.
Saat saya baca, isinya cukup bisa membuat ngakak tapi juga ngenes
Begini :

“Mbak, bantuin dong.. Disuruh sekolahan anak nih bikin tulisan tentang profil si A. Gimana sih ?”

Balasan saya beneran nanya sih saat itu.

“Anak ? Anak siapa nih yang dimaksud ?”

Lansung disemprot :

“Yaaa, anak aku lah mbak… !”

Hah ! Gimana nggak takjub coba. Wong menuliskan profil anak sendiri, kok minta dibantuin orang lain.
Maksud tiwi, anak kita sendiri, seharusnya, yang lebih mengerti yaa kita sendiri tho ?
Tapi ternyata, bukan masalah dia nggak mengerti anaknya sih sebenernya. Cuma teman saya itu, tidak bisa menuangkannya ke dalam sebuah tulisan.

Mulailah bantuan didatangkan…
1. Saya bilang ke dia : “Kamu kan sering cerita ke aku, si A sekarang udah makan banyak lho, mbak.. si A kok susah nurutnya yaa, mbak…
Coba buka archive YM kamu ke aku, copy paste ke Ms Word. Yakin deh, itu udah bisa lebih dari 1 lembar A4″

2. “Dari lahir apa nggak yaa enaknya ? Abis pas baru lahir kan, selang dimana-mana waktu itu di badannya… Nanti aku sedih”
Supaya pembaca-nya nanti mengerti kenapa profil si A seperti itu, mending dituliskan tahap per tahap, dari sejak lahir sampai sekarang dia sebesar ini, nanti lak ada background, kenapa profil-nya bisa seperti itu…
3. Coba cari-cari foto si A yang paling berkesan buat kamu, terus cerita dari situ. Sertain juga ajah di tulisan untuk profil ini. Toh buat mading kan ? Nanti biar seru bacanya…

Belum sampai tuntas point-per-point dijembrengkan, datanglah berita bahagia itu…
“Nggak usah mbak, mas yang mau nulisin. Horee !”
Huuuu, dasar emang emak ndak mau repot :p

The moral of the story.
Menulis itu kan kadang menuliskan apa yang ada di kepala kita. Kalo’ bercerita ke teman itu menuangkan apa yang di kepala “orally”, nah menulis itu kan bercerita secara “writtenly” *embuh wis bener opo nggak grammar-nya, teuing nyak !*

Jangan bilang nggak bisa sebelum dicoba. Saat ini, banyak media belajar menulis yang bisa digunakan.
Facebook, Twitter, Foursquare. Semua bisa dijadikan tools untuk awal-awal belajar menulis. Menuangkan apa yang ada di kepala ke dalam bentuk tulisan.
Pernah tau ada nggak, ada lho, novel yang diterbitkan diambil dari “kicauan” sang penulis di media Twitter. Dikompilasi, diedit, voila, terbitlah novel yang tebalnya mengalahkan majalah mingguan πŸ™‚

Lagipula, hari gini. Kita nggak akan menghabiskan ber-rim-rim kertas kok untuk belajar menulis. Sudah ada Ms Word. Ada tombol [backspace] untuk men-delete.
Perkara-nya jaman sekarang ini, mau atau nggak. Itu ajah sih !

πŸ™‚