Kata Bimbo, Berbuat Baik Janganlah Ditunda-tunda…

Udah lama juga yaa nggak diupdate blog ini 😀
Bahkan ulang tahun asha tahun ini pun belum sempat didokumentasikan di “rumah” sini. Duh, maaf yaa Nak… Mama-nya lagi banyak kerjaan males banget inih.

Tapi kali ini pengen banget bercerita kejadian tadi pagi.
Kejadian yang “biasa” banget sih. Cenderung memalukan malah. Tapi “ending”-nya beneran bikin kami berdua merenung di sisa perjalanan sepertinya 🙂

Jadi, tadi pagi motor yang kami tumpangi mogok di tengah jalan. Iya, mogok. Padahal motor ini terawat dengan service yang lumayan rutin. Ya wong mogoknya gara-gara kehabisan bensin :p Iya, iya.. motor masih tergolong “muda” kok. Indikator bensinnya juga masih berfungsi normal. Trus kenapa bisa sampe kehabisan bensin ? Wallahu a’lam lah itu yaa… Hanya pak Supir dan Allah yang bisa menjawabnya… 😀

Dan jujur aja, ini bukan pertama kali mengalami hal seperti ini. 1-2x sudah pernah lah. Tapi tadi pagi itu lumayan bikin keder juga. Bukan apa-apa.
Kalo’ mogoknya di tengah jalan model Gatot Subroto atau Casablanca mah mungkin lumayan tenang lah ya… Ada ojek, ada bus. Nyari bensin juga pasti jalan sedikit, ada lah pom bensin.
Nah, tadi pagi itu, mogoknya di dalam komplek AU Halim. Sekitar landasan lah. Yang punya akses lewat ke komplek Dwikora pasti tau medannya. Bener-bener jauh dari sarana publik pokoknya. Cuma da landasan, kantor-kantor TNI AU, dan komplek TNI. Sarana umum terdekat adalah Pasar Mini, yang jaraknya sekitar 5-7km lah dari lokasi mogok.

Jalanlah kami berdua.. Sambil menuntun motor, dan mengobrol supaya lupa sama capek-nya.
Sementara motor dan mobil war-wer di sebelah kami. Jalanan kosong, ngapain pelan-pelan kan ?! Jam sibuk di pagi hari pula. Pasti mereka bergegas ke tempat kerja masing-masing.

Ndilalah, ada seorang Bapak-bapak, memakai seragam tentara atribut lengkap, mengendarai sepeda ontel menyapa kami. “Gembos tha mas ban-nya ?”
“Ndak pak” sahut suami. “Mogok ini, kehabisan bensin”
Lanjutan penjelasan si Bapak selanjutnya benar-benar di luar dugaan. “Ooo, sampeyan belok kiri aja, satu belokan sebelum mentok, sampeyan belok kanan. Cari rumah yang ada sedan merah di depannya. Biasanya dia sedia bensin kok. Nggak bakal ada plang-nya, sampeyan ketok aja !”

WOW… Walaupun dengan sedikit keraguan keterangan itu akan membantu, kami berterima kasih kepada si Bapak karena sudah mau berhenti dan berniat membantu kami. Berjalanlah kami sesuai arahan beliau.
Dan yak, aba-abanya cukup jelas. Kami menemukan sedan merah terparkir di sebuah rumah yang tidak begitu besar. Dan tidak ada penanda apapun yang menerangkan rumah tersebut menjual bensin.

Dengan PD, kami ketok dan ucapkan salam. Seorang ibu yang sudah sepuh keluar.
[S] : “Ibu, mau tanya, ibu sedia bensin nggak ”
[I] : “Ooo, ada nak. Mau berapa botol ?”
[S] : “Dua saja bu, cukup kok kaya’nya. Asal jalan aja. Berapa bu ?”
[I] : “Sepuluh ribu saja nak…”

Dalam hati saya berpikir, dengan harga semurah itu (dengan lokasi yang ada jauh dari mana-mana, beliau bisa jadi spekulan yang menaikkan harga berapapun, saya yakin), nggak mungkin banget alasan beliau menyediakan stok bensin di rumahnya adalah untuk mencari keuntungan.

Si ibu bercerita sambil menuangkan bensin-nya.
“Memang ada saja mas yang suka mogok gini. Kadang malah anak sekolah, atau yang baru pulang main bola, atau petugas jaga. Jam 11 malem saja suka masih ada yang ngetok rumah. Kasian kan kalo’ mereka mogok di sini. Yaa, itung-itung menolong lah yaa… Ngebantuin mereka. Kadang sedih juga kalo’ bensin di rumah tinggal sebotol. Tapi asal nyala mesin aja sampe mereka nemuin pom lah yaa…”

Dueng…!! Rasanya nyesss gitu dengernya.
Niatnya itu mulia banget. Menolong orang. Bisa dibilang, semua orang yang diniatkan untuk ditolong ini orang yang belum dia kenal. Untuk menambah kenalan, katanya juga.

Ini Jakarta. Dan ternyata masih ada kok orang baik di sini. Walaupun dengan logat Jawa yang sangat medok.
Semoga keberkahan Allah selalu tercurah kepada Bapak dengan sepeda ontel-nya dan Ibu Penyedia Bensin sekeluarga yaa…
Jadi, kapan kita mau mulai berniat “Menolong Orang” yang bahkan belum kita kenal ? 🙂

Mudik 2012 (1433H)

Tahun ini jatahnya mudik ke rumah Erwin di Bondowoso. Karena tahun lalu kan di JKT, masih punya bayi merah kan tahun lalu… 😀
Lupakan sudah mudik dengan pesawat terbang dengan anggota tim resmi yang sudah 4 ini. Mihil aja deh ! Bisa abis THR buat tiket PP doang… 😀
Lupakan juga kereta, karena suasana mudik gini, pasti rusuh kan ? Padahal, kami sekeluarga belum pernah memakai kereta untuk bepergian luar kota. Mosok iya kudu trial justru di saat-saat hectic gini. Kasian anak-anak lah yaa…
Plus, BDWS itu masih sekitar 4-6 jam lagi dari SBY. Lumayan ribet kalo’ nggak ada yang menjemput di SBY.

Yups, seperti 2 tahun lalu, tahun ini kami Insya Allah akan mudik dengan berkendara mobil. Pantura, sambutlah kami…!
Mudik dengan 1 anak, alhamdulillah cukup santai dan lumayan sukses lah 2 tahun lalu itu. Asha sudah bisa menikmati perjalanan. Paling kami yang dewasa-dewasa yang disiksa dengan lagu “gili-gili” ala Asha 😀
Tahun ini, 2 anak aja dong.. Lumayan keder persiapannya. Apalagi yang satu masih 1 tahun. Masih bayi lah yaa itungannya. Kebayang kan perlengkapan yang harus dibawa…

Tapi tetap, karena prinsip hemat koper HARUS HANYA 2, bawaan sebisa mungkin diirit. Konsekuensi-nya, emaknya kudu cuci-mencuci di rumah Ibu dong nanti… Lupakan liburan lah !

Persiapannya apa aja nih supaya mudiknya Insya Allah lancar jaya ?
1. Anak-anak
Kemarin Minggu, semua sudah di-tune up ke dokter. Emang mobil doang yang kudu tune-up ?! Justru manusia-nya yang perlu di-cek-cek. Alhamdulillah, Ogie sehat, sampe bisa di-imunisasi dulu kemarin. Asha sedikit radang. Tapi diingetin supaya nggak minum es dulu, dokternya yang ngomong langsung ke anaknya, supaya dia mau nurut 😀

2. Pakaian
Sampai hari ini, justru tinggal baju saya yang belum dipilah-pilah. Baju Asha done, semalam. Baju Ogie juga done. Pas mau mudik gini baru sadar, ternyata pakaian sehari-hari anak-anak itu sudah sedikit yang masih muat *ibu macam apa dah…* Yaaa, kalo’ untuk kebutuhan mudik kan memang sengaja dilebihkan, supaya kalo’ nggak sempat mencuci-setrika, masih ada cadangan. Jadi emang harus punya stok banyak. Jadilah, mulai dari minggu kemarin kelilingan ITC dan Pasar 😀
Baju lebaran anak-anak ?! Ada lah 1-2 mah… Emak-nya nih malah yang belum punya ! #pencitraan

3. Mobil
Karena domestic squad semua berasal dari kampung yang sama dengan Erwin, jadi tahun ini lebih seru ! Insya Allah kami akan konvoy 2 mobil. Dua-dua-nya sudah masuk bengkel sejak awal Agustus. Karena berdasar pengalaman, bengkel-bengkel bagus menjelang lebaran suka sudah fully booked. Mending cari aman aja yaa… Biar diperiksa lebih detail juga kan.
Mobil yang nantinya akan diisi anak-anak, sudah digelar kasur sejak minggu lalu. Besarnya disesuaikan dengan space yang ada. Mudah-mudahan mereka akan bisa beristirahat yang enak di mobil. Perjalanan biasanya akan memakan waktu lebih dari 24 jam. Stamina mereka mudah-mudahan akan bisa di-charge dengan bobo nyenyak.

4. Logistik
Minuman dan makanan kecil, all are set ! Tinggal masalah termos air panas nih yang masih jadi PR buat saya. Belum nemu waktu buat kabur hunting termos yang saya mau euy… 🙁
Peta mudik juga sudah di tangan. Jaman sih memang udah jaman GPS, tapi kalo’ nggak megang peta mudik tetep berasa nggak pede pas nyetirnya 😀

Sampe hari ini, euforia mudik sih masih terjaga yaa di rumah. Printilan yang tiap hari kaya’nya ada aja yang kurang, tetep dicicil untuk diadakan.
Doakan semua lancar hingga nanti kami balik lagi ke JKT yaa..

Mohon maaf lahir batin.
Selamat Idul Fitri !

Kuat Mental ? Nanti dulu…

Ini posting nggak penting banget sebenernya. Tapi bikin saya senyam-senyum beberapa hari ini karena berhasil memecahkan masalahnya !

Jadi latar belakangnya gini… 3 perempuan dan 1 laki-laki sebagai supir, menjalani perjalanan di Jum’at malam menuju tengah kota Jakarta, yang… mmmhhh, tau dong Jum’at malam ? Muaceteeeee poll ! Tapi apa daya, kudu dijalanin. Karena ada cara Farewell si Bapak supir tersayang se-ruangan itu 🙂 *mudah-mudahan beliau nggak baca, GR nanti*

Bertanyalah seorang teman tentang training motivasi yang diadakan kantor bagi GM level up. Karena konon, keluar dari ruangan itu, semua pesertanya mengaku (kepengen atau malah ada yang kebablasan) menangis.
“Kenapa sih, Pak ?” gitu pertanyaannya.

Jawabannya…
“Yaaa, trainingnya itu penutupnya kaya’ waktu kita-kita sekolah dulu gitu lho… Persami gitu. Yang disuruh membayangkan, jasa-jasa orang tuamu… Membayangkan, gimana kalo’ ternyata pas pulang Persami, ibu bapakmu sudah nggak ada lagi… gitu-gitu deh !”

Nah, jadinya kan malah nostalgia tuh di mobil. Lumayan, mengisi kebosanan di tengah macet.
Termasuk pengalaman saya diberi balsem di sekitar mata karena saya tidak kunjung menangis saat jurit malam 😀 *nguap iya adanya mah… ngantuk !*

Tapi cerita-cerita itu jadi membuat saya berpikir, apakah sekeras itu hati saya dulu, sampai tidak menangis saat jurit malam, yang dipikir-pikir, membuat teman-teman saya terisak-isak bahkan meraung-raung…
Asli, semalaman itu saya berpikir (setelah acara farewel yang berhasil membuat saya berkaca-kaca. Everything won’t be the same again without you, sam…) dan baru berhasil mendapatkan jawabannya keesokan harinya…

Kenapa saya tidak pernah bisa menangis saat jurit malam saat SD ? Hehehe, jawabannya simple kok.
Bukan karena saya nggak sayang kedua orang tua saya. Bukan jugak karena saya kuat mental. Bukan karena hati saya keras (untungnya !). Tapi kenapaa ??

Karena mama dan papa selalu ada di tenda panitia !! Dan saya tau itu !
Hahahaha…

Yups. They can be so over protective for some condition. But i love it !
And i love them.

Siap-siap aja yaa, asha.. ogie.. I’ll treat you both the same ! 🙂

Resep : How to Live a Life

Background-nya gini…
Weekend kemarin, saya iseng di rumah. Buka-buka resep.
Tling, terpikirlah mencoba membuat kue kering favorit saya. Sagu Keju.
Iya, saya kalo’ lagi iseng pengen nekat-nekat coba resep, pasti nyobain resep yang saya memang sudah tau rasanya. Biar tau, berhasil atau tidak…

Timbang, aduk, kocok, cetak, jadilah kue-nya.
Dicicipin satu, “Lho kok enak…”
Nantangin suami buat nyobain, “enak ma !” katanya. #okesip. #keren.

Sampai malamsaya masih merasa takjub sendiri.
Saya baru sekali nyoba bikin kue itu. Tapi alhamdulillah kok langsung enak.
Resep-nya OK nih. Anti gagal. Untung saya nurut poll sama resep.
Nggak sok tau, nekat-nekat ganti, atau kurang-tambah.
Semua orang pasti bisa lah bikin kue ini. Asal manut sama resep.
Dueengg.. dan datanglah lintasan pemikiran yang serius itu.

Kalo’ saat mau bikin kue enak saja, kita harus mau manut sama resep yang biasanya sumbernya sudah kita percaya supaya kita yakin kue-nya bakalan enak.
Kalo’ saat saya mau merangkai LEGO saja saya mau telaten membaca dan melihat gambar di Manual Instruction yang diberikan supaya hasil jadinya sesuai dengan gambar besar di box yang sudah menarik minat saya untuk membeli.
Kalo’ saat mau mulai mengoperasikan mixer yang karena harganya mahal, saya harus mau rela “ngerenyit-ngerenyit” membaca Owner’s Manual yang tulisannya kecil-kecil itu supaya tidak rusak.

Kenapa dalam menjalani hidup yang sukses atau nggak-nya justru bakal dialami oleh kita sendiri, kita masih enggan yaa membaca manual yang jelas-jelas sudah dikirimkan oleh yang Maha Mengirimkan kita ke dunia… 🙂

Tanya kenapa.

Cheesecake Addict ! :D

Awalnya sih karena pengen coba-coba nerima pesanan kue. Dan pengennya perfect ! Iklan (email broadcast) kudu ada foto contoh kue-kue-nya. Dan kue-nya pun harus buatan sendiri. Bukan hasil googling dan cropping dari situs manapun (walaupun kalo’ kejadian juga sumber pasti disebutin sih..)

Tapi ternyata untuk jenis Tiramisu, Cheesecake gitu belum ada foto-nya yang bisa dipajang. Jadilah googling resep dengan kata kunci “resep cheesecake ncc”.
Nggak tau kenapa, untuk pencarian resep-resep kue, saya percaya dengan resep-resep-nya NCC. Padahal saya nggak terlalu selalu mengikuti perkembangan milis/forum-nya juga lho ! Sepertinya dengan pertimbangan, karena sesama emak-emak pasti tips dan trik-nya saat membuat kue itu pasti sama dan simple ! (seperti produk pengganti, cara-cara anti gagal, dll) jadilah saya percaya penuh kalo’ pake’ resep NCC. Thanks emaks… 🙂

Akhirnya menemukan resep ini (dan juga sekaligus link ke website yang akhirnya jadi favorit juga) di Cakefever.com. Kelihatannya resep dan prosesnya mudah yaa.. Tips-tipsnya juga lengkap di website tersebut.

Yuks, berburu bahan-nya pas pulang kantor… (niat beneran kok iki !)

Ingredients

Crust
250 gr biskuit oreo (aku pakai 250 gram marie regal)
100 gr margarine lelehkan (aku pakai 100 gram unsalted butter)
1/2 sdt vanili bubuk (skip)
kopi instant (skip)

Blueberry Cheese Cake with whipcream

Cake:
200 gr gula pasir
4 butir telur
1 kg cheese cream (saya pakai Yummy)
250 gr sour cream (saya pakai Yummy)
1 sdt air jeruk lemon (saya skip ini, nggak ada waktu itu)
2 sdt kulit jeruk lemon parut (saya skip ini juga :D)

Topping:
250 ml whipped cream (skip)
1 sdm gula pasir (skip)
250 gr selai blueberry

How-To:

  1. Siapkan loyang bongkar pasang 22 cm olesi mentega, sisihkan. Hancurkan biskuit hingga halus, lalu tuang butter (atau margarine) yang sudah dilelehkan, aduk rata. Masukkan adonan biskuit pada loyang, ratakan dan tekan-tekan sampai padat, oven sebentar [5-10 menit] angkat, sisihkan.
  2. Kocok gula dan telur hingga kental, masukkan cheese cream dan sour cream bergantian sambil terus dikocok.
  3. Tuangkan adonan ini ke dalam loyang, di atas adonan biskuit, lalu oven dengan suhu 165C dengan cara au bain marie [diletakkan di atas loyang yang sudah diisi air] selama 90 menit.
  4. Angkat, dinginkan di suhu kamar, hingga benar-benar dingin.
  5. Kocok whipped cream dan gula pasir hingga kental, oleskan di atas cheese cake, lalu bekukan dalam kulkas selama minimal 4 jam (Aku ndak pakai whippedcream ya, langsung aja oles blueberry-nya)

Original Recipe by Fatmah Bahalwan (NCC)

Catatan:
Sour Cream bila tidak bisa menemukan, bisa diganti dengan yoghurt plain. Yoghurtnya yang kental itu ya, jangan pakai yang cair.

Read more: Resep Blueberry Cheese Cake | CakeFever.com

Pas tester-nya dibawa ke kantor, ludessss langsung ! Dan pada bilang “Enyaaakkkk”“Kuraaannngg”… Ya iya lah, wong cuma bikin 1/2 resep (pas banget untuk loyang D20 atau 18×18). Mahal boss ! :p

Hasil foto pun memuaskan, dan siap dipajang di iklan 😀
Dan sudah menuai pesanan perdana untuk kue anniversary seorang teman. #okesip !

Kemarin akhirnya memutuskan membuat Cheesecake untuk kue ulang tahunnya Ogie. Kali ini toppingnya Strawberry. Mantap juga lah… Anak-anak kecil pada suka ! Mungkin karena tekstur-nya yang mirip es krim dan memang lebih enak disajikan dingin kan…
Cream cheese-nya diganti sebagian dengan merek Anchor. Katanya sih membuat rasa keju-nya lebih maknyuss… (ini testimoni teman-teman kantor lho yaa)

Ogie's 1st Bday Cake

Ogie’s 1st Bday Cake

Happy birthday (again) Cah Bagus…

Everyone loves you, kid !

You are 1 Today !

Dear Ogie,

Ogie

Ogie 1 tahun

Anak mama yang paling ganteng…
Hari ini kamu 1 tahun. Aahh, sudah bukan hitungan bulan lagi nak usiamu sekarang 🙂

Sudah bisa apa saja kamu di usia 1 tahun ?
Sudah senang dititah. Untungnya badanmu menjulang tinggi. Sehingga kami tidak perlu membungkuk untuk membuatmu berjalan 🙂
Sudah bisa merangkak sejak usia 8-9 bulanan. Gesit ! Sehingga kami harus berlomba sebelum kamu tiba-tiba nyemplung di kolam ikan atau jatuh di undakan
Sudah merambat (bahkan merayap di lemari berpegangan ala Spiderman !) dengan sangat cepat !
Sudah bisa bilang “Achaa cha cha cha…” “Pa..pa..pa..” “Amama.. ma..ma..” Cerewet sangat ! Sampai mama nggak berani membayangkan ramainya rumah kita nanti dengan duet maut kamu dengan asha 😀
Sudah sangat mengenal siapa mama-mu ! Hahaha… sampai semua orang kesal karena sekali terdengar suara mama, kamu nggak akan bisa dibujuk dengan apapun juga untuk berpindah gendongan ! Good boy… 🙂

Nggak sabar nak, menunggu waktunya kamu bisa berjalan, kita berlarian bersama asha berlomba menuju pagar saat ingin memanggil abang-abang lewat 😀
Nggak sabar juga, menunggu kamu bisa berceloteh menyuarakan apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu ingin tahu, dengan suara unyil-mu.
Akan kita bahas bersama kenapa pesawat yang lewat di atas rumah kita itu bisa membuat suara berisik yang membuat kamu mendongak setiap mendengarnya..
Akan kita cari tau, dengan apa kupu-kupu berpindah-pindah tempat membuat kamu sibuk memutar badan supaya tidak kehilangan dia.

Cepat besar anak-ku…
Bertumbuhlah sehat, cerdas, kuat.
Supaya kamu bisa menjadi anak soleh yang berguna bagi sesama-mu.
Mencerna kalam-kalam Allah di sekitarmu.
Menjadi “Ghiyath” bagi siapapun yang ada di sekitar-mu.

Love you, kiddo.

Tekad

Semalem baru saja saya menamatkan buku mantan Menteri Kesehatan, (Almh) Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih 🙂
Mbrebes mili membacanya. Karena sebenarnya, bukunya lebih merupakan blog (versi cetak) yang dibuat kejar tayang karena beliau merasa waktu berpulangnya yang sudah dekat.

Di buku itu, kita bisa membaca perasaan-perasaan, curhat-curhat sang Menkes, sebagai seorang ibu. Kenangan beliau, perasaan beliau terhadap anak-anaknya, dituliskan satu per satu di buku itu.

Membuat saya berpikir, saya saja yang orang di luar keluarganya, suka membaca buku itu. Apalagi anak-anaknya yaa…
Pasti perasaan mereka campur aduk dalam mengenang ibu mereka.

Aaahh, membuat saya sedikit tersentil, Ibu diberi tanda-tanda akan berpulangnya dengan sakit kanker-nya. Makanya, beliau bisa menuliskan semua itu dalam jangka waktu yang sebenarnya sedikit sekali.
Sedangkan saya ? Wallahu a’lam kan ?

Kapan saya akan sempat menuliskan kenangan-kenangan saya tentang anak-anak saya jika tidak dimulai dari sekarang secara rutin ?
Kasian Asha dan Ogie kalo’ memang saya nantinya tidak akan sempat me-rewind memory tentang masa kecil mereka dengan cara yang sama dengan mama dan mbah menceritakan bagaimana saya waktu kecil dengan bercerita sebelum tidur.

Yuk ah, ingatkan saya untuk rutin menuliskan milestone mereka, perasaan saya terhadap mereka di blog ini…
Jangan sampai ada yang tercecer.
Karena yang kadang remeh dari anak-anak, itu yang sudah membuat hidup saya begitu terberkahi 🙂

Analyze(r) !

Kalo’ pagi-pagi nggak heboh, itu mungkin rumah itu rumahnya penganten baru yg masih bulan madu, atau rumahnya pensiunan yang anak-anaknya sudah mandiri semua.
Karena rumah dengan 2 anak unyils, dengan Bapak dan Ibu yang bekerja, bisa dipastikan pagi hari – bahkan mulai sebelum adzan Subuh, sudah dipastikan harinya diawali dengan kehebohan.

Ada yang lucu dengan kehebohan di rumah kami kemarin.
Diawali dengan saya membangunkan asha untuk mandi, dan bersiap ke sekolah.

S : “Sha, bangun nak… Ayo mandi. Udah jam 7 lho, nanti kamu diabaikan. Udah siang ini, Nak…”

Dan jawaban asha adalah…
A : *dengan mata terpejam* “Ini masih pagi, ma… Tuh, papa aja masih tidur ! Artinya masih pagi !” (iya, memang saat itu Erwin masih tidur karena memang niat datang agak siang.)

See, kebiasaan asha ngeyel memang begini. Disertai dengan fakta. Zzzzz…
Dengan sedikit pemaksaan, saya gendong dia ke depan kamar mandi. Dan seperti biasa, kalo’ asha ngambek, dia nggak bakal mau dimandikan oleh saya. Maka pengasuh-nya yang mengambil tanggung jawab itu.

Dialog di kamar mandi :
A : “Kenapa sih Wi, asha harus sekolah ?”
Pengasuh (Uwi) : “Yaa anak-anak emang harus sekolah, nak.. Biar pinter. Kan asha mau jadi dokter kan ?” (ini doktrin dia lho, bukan saya !)
A : *diem sebentar* “Emang Uwi dulu juga sekolah ?”
Uwi : “Iya dong, Uwi dulu sekolah pas masih kecil” *dengan nada bangga*
A : “Terus, sekarang Uwi jadi apa ??” *dengan nada tinggi pengen tau !”

Asli deh.. saya yang mendengarkan di luar sudah nggak sanggup nahan sakit perut karena ketawaan.
Dan emang pada dasarnya pengasuhnya juga Ratu Ngeyel, masih diladenin itu anak kecil…
Uwi : “Sekarang kan Uwi jadi PA nih, Sha… Pengasuh Anak ! Sama PD, Pengurus Dapur !”

Hahaha… Makin ngakak nggak karu-karuan deh saya.
Duh nak… nak…
Dengan tingkat ke-kritisan dan analisa kamu yang kadang di luar perkiraan, mama doain yaa Nak. Suatu saat kamu baca ini, mama mau kamu tau.
Insya Allah, kamu akan jadi anak pintar yang disayang Allah, yang berguna buat membantu orang banyak di sekelilingmu yaa. Mau jadi apapun itu.
Jangan bikin kecerdasanmu itu untuk “minteri” orang lain yaa, Nak. Bukan seperti itu anak mama…

Love you, Kiddo.