Tag Archives: anak

Cheesecake Addict ! :D

Awalnya sih karena pengen coba-coba nerima pesanan kue. Dan pengennya perfect ! Iklan (email broadcast) kudu ada foto contoh kue-kue-nya. Dan kue-nya pun harus buatan sendiri. Bukan hasil googling dan cropping dari situs manapun (walaupun kalo’ kejadian juga sumber pasti disebutin sih..)

Tapi ternyata untuk jenis Tiramisu, Cheesecake gitu belum ada foto-nya yang bisa dipajang. Jadilah googling resep dengan kata kunci “resep cheesecake ncc”.
Nggak tau kenapa, untuk pencarian resep-resep kue, saya percaya dengan resep-resep-nya NCC. Padahal saya nggak terlalu selalu mengikuti perkembangan milis/forum-nya juga lho ! Sepertinya dengan pertimbangan, karena sesama emak-emak pasti tips dan trik-nya saat membuat kue itu pasti sama dan simple ! (seperti produk pengganti, cara-cara anti gagal, dll) jadilah saya percaya penuh kalo’ pake’ resep NCC. Thanks emaks… πŸ™‚

Akhirnya menemukan resep ini (dan juga sekaligus link ke website yang akhirnya jadi favorit juga) di Cakefever.com. Kelihatannya resep dan prosesnya mudah yaa.. Tips-tipsnya juga lengkap di website tersebut.

Yuks, berburu bahan-nya pas pulang kantor… (niat beneran kok iki !)

Ingredients

Crust
250 gr biskuit oreo (aku pakai 250 gram marie regal)
100 gr margarine lelehkan (aku pakai 100 gram unsalted butter)
1/2 sdt vanili bubuk (skip)
kopi instant (skip)

Blueberry Cheese Cake with whipcream

Cake:
200 gr gula pasir
4 butir telur
1 kg cheese cream (saya pakai Yummy)
250 gr sour cream (saya pakai Yummy)
1 sdt air jeruk lemon (saya skip ini, nggak ada waktu itu)
2 sdt kulit jeruk lemon parut (saya skip ini juga :D)

Topping:
250 ml whipped cream (skip)
1 sdm gula pasir (skip)
250 gr selai blueberry

How-To:

  1. Siapkan loyang bongkar pasang 22 cm olesi mentega, sisihkan. Hancurkan biskuit hingga halus, lalu tuang butter (atau margarine) yang sudah dilelehkan, aduk rata. Masukkan adonan biskuit pada loyang, ratakan dan tekan-tekan sampai padat, oven sebentar [5-10 menit] angkat, sisihkan.
  2. Kocok gula dan telur hingga kental, masukkan cheese cream dan sour cream bergantian sambil terus dikocok.
  3. Tuangkan adonan ini ke dalam loyang, di atas adonan biskuit, lalu oven dengan suhu 165C dengan cara au bain marie [diletakkan di atas loyang yang sudah diisi air] selama 90 menit.
  4. Angkat, dinginkan di suhu kamar, hingga benar-benar dingin.
  5. Kocok whipped cream dan gula pasir hingga kental, oleskan di atas cheese cake, lalu bekukan dalam kulkas selama minimal 4 jam (Aku ndak pakai whippedcream ya, langsung aja oles blueberry-nya)

Original Recipe by Fatmah Bahalwan (NCC)

Catatan:
Sour Cream bila tidak bisa menemukan, bisa diganti dengan yoghurt plain. Yoghurtnya yang kental itu ya, jangan pakai yang cair.

Read more: Resep Blueberry Cheese Cake | CakeFever.com

Pas tester-nya dibawa ke kantor, ludessss langsung ! Dan pada bilang “Enyaaakkkk”“Kuraaannngg”… Ya iya lah, wong cuma bikin 1/2 resep (pas banget untuk loyang D20 atau 18×18). Mahal boss ! :p

Hasil foto pun memuaskan, dan siap dipajang di iklan πŸ˜€
Dan sudah menuai pesanan perdana untuk kue anniversary seorang teman. #okesip !

Kemarin akhirnya memutuskan membuat Cheesecake untuk kue ulang tahunnya Ogie. Kali ini toppingnya Strawberry. Mantap juga lah… Anak-anak kecil pada suka ! Mungkin karena tekstur-nya yang mirip es krim dan memang lebih enak disajikan dingin kan…
Cream cheese-nya diganti sebagian dengan merek Anchor. Katanya sih membuat rasa keju-nya lebih maknyuss… (ini testimoni teman-teman kantor lho yaa)

Ogie's 1st Bday Cake

Ogie’s 1st Bday Cake

Happy birthday (again) Cah Bagus…

Everyone loves you, kid !

You are 1 Today !

Dear Ogie,

Ogie

Ogie 1 tahun

Anak mama yang paling ganteng…
Hari ini kamu 1 tahun. Aahh, sudah bukan hitungan bulan lagi nak usiamu sekarang πŸ™‚

Sudah bisa apa saja kamu di usia 1 tahun ?
Sudah senang dititah. Untungnya badanmu menjulang tinggi. Sehingga kami tidak perlu membungkuk untuk membuatmu berjalan πŸ™‚
Sudah bisa merangkak sejak usia 8-9 bulanan. Gesit ! Sehingga kami harus berlomba sebelum kamu tiba-tiba nyemplung di kolam ikan atau jatuh di undakan
Sudah merambat (bahkan merayap di lemari berpegangan ala Spiderman !) dengan sangat cepat !
Sudah bisa bilang “Achaa cha cha cha…” “Pa..pa..pa..” “Amama.. ma..ma..” Cerewet sangat ! Sampai mama nggak berani membayangkan ramainya rumah kita nanti dengan duet maut kamu dengan asha πŸ˜€
Sudah sangat mengenal siapa mama-mu ! Hahaha… sampai semua orang kesal karena sekali terdengar suara mama, kamu nggak akan bisa dibujuk dengan apapun juga untuk berpindah gendongan ! Good boy… πŸ™‚

Nggak sabar nak, menunggu waktunya kamu bisa berjalan, kita berlarian bersama asha berlomba menuju pagar saat ingin memanggil abang-abang lewat πŸ˜€
Nggak sabar juga, menunggu kamu bisa berceloteh menyuarakan apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu ingin tahu, dengan suara unyil-mu.
Akan kita bahas bersama kenapa pesawat yang lewat di atas rumah kita itu bisa membuat suara berisik yang membuat kamu mendongak setiap mendengarnya..
Akan kita cari tau, dengan apa kupu-kupu berpindah-pindah tempat membuat kamu sibuk memutar badan supaya tidak kehilangan dia.

Cepat besar anak-ku…
Bertumbuhlah sehat, cerdas, kuat.
Supaya kamu bisa menjadi anak soleh yang berguna bagi sesama-mu.
Mencerna kalam-kalam Allah di sekitarmu.
Menjadi “Ghiyath” bagi siapapun yang ada di sekitar-mu.

Love you, kiddo.

Menulis ? Nggak Susah kok…

Gaya banget yaa judulnya πŸ˜€ Nggak kok, menulis yang dimaksud dalam judul di atas itu, menulis dengan konteks sangat sederhana. Bukan menulis sebuah buku yang sampai diterbitin oleh penerbit terkenal gitu…
Kalo’ kaya’ gitu mah, tiwi juga belum pernah πŸ˜€

Jadi, tadi pagi, ada berkedip di Yahoo Messenger saya. Penanda ada window percakapan baru yang belum terbaca.
Saat saya baca, isinya cukup bisa membuat ngakak tapi juga ngenes
Begini :

“Mbak, bantuin dong.. Disuruh sekolahan anak nih bikin tulisan tentang profil si A. Gimana sih ?”

Balasan saya beneran nanya sih saat itu.

“Anak ? Anak siapa nih yang dimaksud ?”

Lansung disemprot :

“Yaaa, anak aku lah mbak… !”

Hah ! Gimana nggak takjub coba. Wong menuliskan profil anak sendiri, kok minta dibantuin orang lain.
Maksud tiwi, anak kita sendiri, seharusnya, yang lebih mengerti yaa kita sendiri tho ?
Tapi ternyata, bukan masalah dia nggak mengerti anaknya sih sebenernya. Cuma teman saya itu, tidak bisa menuangkannya ke dalam sebuah tulisan.

Mulailah bantuan didatangkan…
1. Saya bilang ke dia : “Kamu kan sering cerita ke aku, si A sekarang udah makan banyak lho, mbak.. si A kok susah nurutnya yaa, mbak…
Coba buka archive YM kamu ke aku, copy paste ke Ms Word. Yakin deh, itu udah bisa lebih dari 1 lembar A4″

2. “Dari lahir apa nggak yaa enaknya ? Abis pas baru lahir kan, selang dimana-mana waktu itu di badannya… Nanti aku sedih”
Supaya pembaca-nya nanti mengerti kenapa profil si A seperti itu, mending dituliskan tahap per tahap, dari sejak lahir sampai sekarang dia sebesar ini, nanti lak ada background, kenapa profil-nya bisa seperti itu…
3. Coba cari-cari foto si A yang paling berkesan buat kamu, terus cerita dari situ. Sertain juga ajah di tulisan untuk profil ini. Toh buat mading kan ? Nanti biar seru bacanya…

Belum sampai tuntas point-per-point dijembrengkan, datanglah berita bahagia itu…
“Nggak usah mbak, mas yang mau nulisin. Horee !”
Huuuu, dasar emang emak ndak mau repot :p

The moral of the story.
Menulis itu kan kadang menuliskan apa yang ada di kepala kita. Kalo’ bercerita ke teman itu menuangkan apa yang di kepala “orally”, nah menulis itu kan bercerita secara “writtenly” *embuh wis bener opo nggak grammar-nya, teuing nyak !*

Jangan bilang nggak bisa sebelum dicoba. Saat ini, banyak media belajar menulis yang bisa digunakan.
Facebook, Twitter, Foursquare. Semua bisa dijadikan tools untuk awal-awal belajar menulis. Menuangkan apa yang ada di kepala ke dalam bentuk tulisan.
Pernah tau ada nggak, ada lho, novel yang diterbitkan diambil dari “kicauan” sang penulis di media Twitter. Dikompilasi, diedit, voila, terbitlah novel yang tebalnya mengalahkan majalah mingguan πŸ™‚

Lagipula, hari gini. Kita nggak akan menghabiskan ber-rim-rim kertas kok untuk belajar menulis. Sudah ada Ms Word. Ada tombol [backspace] untuk men-delete.
Perkara-nya jaman sekarang ini, mau atau nggak. Itu ajah sih !

πŸ™‚

Anak Mandiri. Apa sih ?

Dari pagi, kangen sama asha tuh sampe mau nangis rasanya. Entah kenapa. Pas dicoba ditelepon, alhamdulillah anaknya baik-baik aja di sekolah. Di rumah, malah lagi bobo barusan. Trus kenapa kangennya sampe’ bikin kaya’ pengen pulang banget gini yaa..
Embuh wis… Mending kita cerita asha lagi aja yaa…

Jadi postingan kali ini dilatar belakangi kejadian saat saya mengambil raport asha beberapa waktu lalu. Ada pesan dari wali kelas asha : “mama asha, kepala sekolah mau ketemu.” Baiklah… paling masalah transportasi outbound seperti biasanya lah, begitu pikir saya saat itu.

Ternyata oh ternyata… hari itu, saya ditegur. Mmmhh, atau sebenernya itu curhat sang kepala sekolah ya ? Tapi nadanya sih menegur πŸ˜€
Karena asha selalu didampingi oleh pengasuhnya saat kegiatan di luar sekolah. Apakah itu kunjungan ke pabrik, ourbound, dll. Dan katanya, karena mobil asha selalu “ditumpangi” oleh orang tua yang juga ingin melakukan hal yang sama ke anak-anaknya. Mendampingi. “Tolong bunda, percaya sama sekolah ya. Besok-besok jangan didampingi lagi. Takutnya anak-anak nantinya malah tidak mandiri…”

Jujur, sampai sekarang kata-kata itu masih terngiang di telinga saya. “Takutnya anak-anak nantinya malah tidak mandiri”…

Pengen rasanya saya membuka KBBI-nya JS Badudu untuk mengetahui, apa sih arti kata mandiri itu ?
Parameter apa sih yang dipakai untuk menilai, si A itu mandiri atau nggak ?
Dan di usia berapa sih mau diukur tingkat kemandirian seseorang ?
Huhuhuhu… mulai emosi deh.

Saya memang cuma melihat dari sisi saya sebagai orang tua asha yang punya kewajiban menjaga dia sebagai “amanah”, dan saya sebagai anak hasil bentukan dari orang tua saya yang sudah terkenal “over-protective” sekali ke anak-anaknya.

Saya memang selalu menugaskan pengasuhnya untuk mengikuti kemanapun asha beraktifitas, di sekolah maupun di luar sekolah.
Kenapa ? Karena saya personally nggak bisa melakukan itu. Coba kalo’ saya FTM seperti mama saya dulu, pasti saya yang mendampingi dia kemana saja πŸ˜€ (tetep salah yaa kalo’ dari pandangan kepala sekolah mah yaa…)
Kenapa saya melakukan itu ? Karena cuma itu yang saya bisa lakukan maksimal buat asha karena status saya sebagai Ibu Bekerja. Meyakinkan dia baik-baik saja…

Saat itu kepada sang kepala sekolah, argumentasi saya, saya hanya berusaha meneruskan pola asuh yang saya dapat dari orang tua saya dan saya nilai baik hasilnya.

Dulu jaman SD, saat saya berkemah Perjusami di Cibubur, saya selalu bisa melihat orang tua saya kongkow-kongkow berkumpul di tendaΒ  guru-guru, ngobrol dengan mereka, sambil juga memastikan saya dan adik-adik baik-baik saja selama kegiatan di sana. Setiap hari-nya mereka datang, dan pulang saat kami sudah masuk ke tenda masing-masing.

Jangankan gitu, sampai saya kuliah di Bdg saja, setiap mama memasak makanan kesukaan saya, mama dan papa berkendara Jkt-Bdg dengan mobil, dan mengantarkan makanan itu ke saya. Catet yaa, belum ada tuh jalan tol yang saya masukkan ke inovasi paling edan selama abad ini ! Yang saya cintai sangat πŸ™‚
Bahkan saat saya sudah kerja, mereka suka datang ke kantor membawakan saya makan siang yang baru dimasak mama. Membelikan sepatu baru, dan bergegas mengantarkan ke kantor, karena mereka tahu setelah jam makan siang, saya harus menghadiri meeting dengan beberapa orang penting, padahal sepatu saya sudah mulai kusam.
Atau mengantar saya ke kantor polisi untuk perpanjangan SIM. Mama dan papa LENGKAP ! Sudah seperti mengambil raport saya saja… πŸ™‚

Yang heboh, saat saya sudah berkeluarga gini, karena nasib rumah cuma tinggal koprol ke rumah mama, kadang makanan buat asha, justru diantarkan oleh mama pagi-pagi sekali, supaya saya tidak perlu lagi menyiapkannya.

Hal-hal seperti itu yang saya dapatkan sebagai anak… Manja yaa kelihatannya ? Membuat nggak mandiri yaa ?
Silahkan nilai sendiri dari saya sekarang yang terlihat.

Saat saya punya rumah sendiri, saya bisa kok mencari tau cara menyalakan listrik melalui tata cara yang benar di rumah saya dengan pergi dan mempelajari proses di PLN, menyambungkan line telepon secara resmi ke Telkom, mengurus tetek bengek pengkreditan di bank yang bener-bener ngejelimet. Atau saat memang dibutuhkan “kelihaian” negosiasi ala preman supaya prosesnya lebih cepat, saya bisa merampungkan semua itu tanpa harus menyusahkan orang lain.

Bahkan, pertama kali saya pergi ke luar negeri, saya benar-benar seorang diri dan benar-benar pertama kali itu keluar dari wilayah NKRI. Tapi saya survive tuh seminggu di sana !

Hal seperti itu yang dicari dari kata “mandiri” kan ? Atau bukan ?

Satu quote yang selalu saya pegang dalam membesarkan anak-anak saya.
Mereka yang benar-benar merasa dicintai dan disayangi, akan lebih siap membagikan “sayang” dan “cinta”-nya kepada siapa saja di sekitarnya pada saat dia terjun ke masyarakat.
Buat saya, anak akan lebih merasa pede menjalani hidupnya, kalo’ dia selama memang belum waktunya untuk menjalani hidup sendirian, selalu bisa merasakan ketenangan, kenyamanan, dll.
Dan lagi, saya berusaha memberikan apa yang anak-anak butuhkan “mentally” supaya mereka nggak mencari ke luar rumah atau ke orang lain, karena mereka tahu, mereka akan bisa mendapatkan itu dari kedua orang tuanya.

Lagipula, untuk anak berusia 5 tahun, kemandirian seperti apa sih yang dituntut untuk bisa mereka lakukan ?
Bukan kemandirian kebablasan kan ? Mereka masih perlu pendampingan. Makanya ada orang-orang yang lebih tua di sekitar-nya selalu tho ?
Mereka perlu pengarahan… Yang jelas, mereka perlu yakin, bahwa mereka disayangi, dan keberadaan mereka selalu dianggap ada oleh orang tuanya.
Sesederhana itu sih tiwi berusaha membesarkan asha dan ogie sampai nanti mereka siap.
Love you, kiddos. Always.

Wallahu a’lam.

Gie

Nak, lagi pengen cerita ajah, asal muasalnya disusun nama kamu πŸ™‚
*dan kenapa kamu sepertinya tau, dengan bertingkah banyak di dalam perut, nak ?! :-)*

Nama kamu, Insya Allah, Ghiyath Arkananta Prastanto.

Ghiyath, artinya Succorer. Kalo’ browsing di internet atau kamus, Succorer (n) : someone who gives help in times of need or distress or difficulty (for me, you really are, son ! πŸ™‚ you are my succorer).

Arkananta itu kami pilih dari berbagai kandidat “A” lainnya.
Arkananta berasal dari bahasa Sansekerta. Artinya : “Selalu diterangi”. Dan sebagai calon anak soleh, kami berharap, kamu selalu diterangi oleh Cahaya Allah yaa nak.

Iya, buat kami, nama kamu adalah do’a nak. Supaya kamu kelak menjadi anak yang selalu bisa menolong orang-orang di sekitarmu yang membutuhkan dan senantiasa diterangi oleh cahaya Allah. Jadi Insya Allah, kamu nggak akan tersesat dalam menjalani hidupmu. You’ll be an Imaam someday, Son. Semoga kamu jadi Imaam yang selalu dibimbing Allah yaa…

Nama itu sudah ada sebelum kamu ada di dalam perut mama sebenarnya. Kami temukan sebelum kakak Asha lahir malahan πŸ™‚ Waktu itu, nggak sengaja, ada artikel tentang Omar Khayyam di harian Kompas (tuh, klipingnya mama simpan di folder-mu nak..).
Kamu tau siapa itu Omar Khayyam ? Dia itu, ahli matematika dan astronomi yang juga sastrawan Islam.
Nama kecil Omar Khayyam adalah : Ghiyath. Mama suka banget sama nama itu. Unik ! Dan papa mengamini. Jadilah… πŸ˜€
Do’a kami juga, supaya kami bisa sehebat beliau dalam mengkaji semua ilmu yaa, nak.

Kenapa Arkananta ?
Nama kamu dan saudara-saudaramu itu 3 kata nak. 1 kata dari mama, 1 kata dari papa, 1 kata “given“, Prastanto, gabungan mama dan papa. Dan pastinya, biar tambah unik, sebisa mungkin inisialnya GAP πŸ˜€

Ghiyath sudah dari mama. A-nya itu jatah papa.
Jadilah kami berdua browsing-browsing, baca-baca. Urusan nama, bagi kami itu urusan jangka panjang. Jadi kami sebisa mungkin tidak sembarangan dalam memberikan nama untuk Asha (kamu dan calon saudara kalian lainnya mungkin) πŸ™‚

Nah, selama kamu di dalem perut dan nama kamu belum publish, kami memanggilmu dengan Gie. Siapa itu Gie ? Gie itu aktivis mahasiswa UI; adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya.
Semoga yaa, Nak. Tapi mudah-mudahan kamu nggak hobi naek gunung yaa, bisa deg-deg-an mama nanti, nak ! πŸ™‚

Assalamu’alaykum our Ghiyath Arkananta Prastanto.
Born on July 23, 2011 06.50 WIB

23-weeks and still counting…

Alhamdulillah, sudah masuk minggu ke-23 untuk kehamilan ke-2 ini.
Udah bersiap apa ? Hehehe, jangan ditanya deh, bakalan ngerasa sedih banget, soalnya beneran belum sempat bersiap apa-apa. Tapi alhamdulillah, apapun yang kami lakukan untuk asha dulu, sudah dilakukan juga untuk GAP-2 ini, kecuali belanja perlengkapan sih memang πŸ˜€

Di kehamilan ke-2 ini, karena super duper agak rewel kehamilannya, makanya kemarin USG kami percepat. Bukan apa-apa, kami cuma ingin memastikan Gie bertumbuh dengan sehat, lengkap dan normal.
Dan alhamdulillah, saat USG, terlihat sangat jelas, lengkap, sehat, sama-sama tembem kaya’ asha… and It will be our BOY !! πŸ™‚
Seneng dong papa-nya ?! Pastinya !! Tambah bawel, nggak boleh ini, gak boleh itu… Kudu caesar lagi kalo’ perlu, biar lancar-lancar ajah :p Uenak’e… sing dibelek sopo yooo !

Waktu hamil asha, tiwi takjub di sekitar bulan ke-2-3 gitu, lupa, gara-gara lihat pertumbuhan tulang belakangnya yg “ajaib” banget… Subhanallah, di dalem perutku, beneran ada makhluk lain. Mungkin karena anak pertama yaa… masih newbie sama pengalaman USG
Kalo’ pas USG Gie, sampai kemarin, USG kaya’ sesuatu hal yg biasa… Udah pernah liat πŸ˜€ Tapi pas melihat organ genital-nya dia terlihat jelas, sampai sekarang masih suka ketawa… Kamu lagi pee di perut mama yaa nak ?! Hehehe…
Lucu banget !

Gerakan Gie agak lebih cepat bisa dirasakan, gak tau karena posisi dia yang melintang – dulu kan asha sungsang, jadi mungkin berasa gerakannya agak terbatas – atau memang karena dia cowok, jadi lincah ampun-ampunan…
Tapi gerakannya akan tambah menggila kalo’ dia denger suara kakak-nya. Beneran bikin ketawa deh pokok-nya kalo’ udah sampai rumah, karena asha berisik, ini yg di perut juga tambah gak bisa diem… Geli nak ! :p
Makanya kemarin pas USG, asha kita suruh cerewet terus di mobil, biar gak bobo adik-nya πŸ˜€

Anak bawa rejeki ? Insya Allah itu emang bener yaa… Waktu hamil asha 6 bulan, erwin diterima di kantor baru dengan posisi dan penghasilan yg alhamdulillah memungkinkan kami bisa membangun rumah. Sekarang Gie juga gitu. Anak ini hadir saat tiwi dapet tempat kerjaan baru. Tempat kerjanya berkah Insya Allah yaa ?! Lalu erwin juga bakalan sering dapet tugas training di beberapa negara saat kehamilan ini dan setelah lahiran. Rejeki bayi juga kan ?! Hehehe, iya kan jadi bisa beliin kamu maenan-maenan dari mana-mana nak πŸ˜€

Insya Allah rumah tumbuh kami saat kehamilan ini juga mengalami beberapa perubahan yang diniatkan supaya anak-anak nantinya bisa tambah puas lari-larian dan mengeksplore apapun yg mereka pengen lakuin deh ! Mau main air ? Monggo, sudah ada areanya.. Main pasir ?! Silahkan di belakang yaa… Mau main ayunan, perosotan ?! Sok nak… hati-hati tp yaa, jangan rebutan πŸ˜€ Mau naik pohon juga sudah mulai gede tuh pohon mangga-nya papa… Hehehe… Beneran bakal jadi rumah bermain deh pokoknya.

Nama untuk anak ke-2 ini ? Insya Allah sudah ada sejak hamil pertama dulu malahan kan ?! πŸ˜€ Mudah-mudahan akan dipakai kali ini πŸ™‚
Mudah-mudahan semuanya akan berjalan lancar yaa.. Bulan depan mari kita mulai perburuan perlengkapannya !!

Keputusannya…

Sebagai seorang perempuan yang sudah memiliki amanah dari Allah untuk dibesarkan, dididik menjadi seorang manusia yang berbudi baik,Β  tetapi masih bekerja di luar rumah, kadang membuat orang di sekitar (dan kadang malah diri sendiri) bertanya-tanya… apa sih yang sebenarnya menjadi prioritas tiwi dalam hidup ? πŸ™‚

Tiwi baru saja mengambil sebuah keputusan. Lumayan membuat pusing.
Jangan ditanya “maju mundurnya” hasil berpikir, perang batin yang harus dihadapi, fiuhhhh… sulit memang.
Tetapi mengambil keputusan, dari sebuah proses yang panjang, dan dengan tidak hanya memikirkan diri sendiri, ternyata memang lebih memuaskan.

It might be true that an opportunity never knocks twice at any man’s door. Tapi yang namanya “human life cycle” juga nggak pernah mengenal kata “can be rolled-back” kan ?

Mudah-mudahan dengan membuat satu keputusan seperti ini, merupakan langkah awal dalam membuat keputusan besar seperti mama 31 tahun lalu…

Yang jelas, selalu ada hikmah di setiap kejadian.
Dan kejadian kemarin, membuat tiwi semakin melihat dengan jelas, apa yang sebenarnya menjadi prioritas tiwi sekarang ini…
And i love knowing that my priority is still, and i am sure will always be, my kiddo !

A decision has been made. Bismillah.

PS :
For someone in that cubicle, kalo’ kata Ronan :Β  you say it best, when you say nothing at all… πŸ™‚
Btw, thank you yaa…

Good Time !

kapal perang

kapal perang

Paling menyenangkan, kalau bisa sampai di rumah belum terlalu malam. Masih bisa menemani asha memainkan mainan “jaman dulu” ini…

Cuma mainan kaki lima dari perempatan UKI. Tapi benar-benar bisa membuat mata asha berbinar karena mendengar suara kapalnya yang khas “tok..tok..tok…”, dan melihat kepulan asap yang keluar dari cerobong-nya.

Harga Rp 5000 menjadi semakin terasa murah !!

Seperti kata kaleng wadahnya… it’s really a “Good Time” after a tiring 8.30-5.30…!