Tag Archives: belajar

Tentang (ber)Pindah Kantor

Judulnya tumben banget ya ?! Wong nggak pernah nulis tentang pekerjaan (di kantor) di sini, tiba-tiba ngomongin (ber)pindah kantor…
Tenang aja, nggak bakalan jadi tulisan yang berat dan formil kok. Tetap tentang keseharian, yang kebetulan berhubungan dengan kantor aja… 🙂

Hadiah ulang tahun di 2014 ini dari tiwi sendiri adalah memutuskan untuk (kembali) pindah kantor. Kembali ke lingkungan dimana asha mengalami masa-masa di dalam perut hingga lahir… Hehehe…
Banyak pertanyaan maupun penyataan seperti, “Dasar KUTUUUU, senengnya kok loncat-loncatan ?!”
Ih, perasaan tiwi nggak pindah-pindah sering-sering juga sih… Wong, jumlah kantor yang pernah di”singgahi” juga masih cukup kok dihitung dengan jari tangan (apalagi kalo’ ditambah sama jari kaki, masih boleh kok pindah-pindah kayanya.. :p)

Pindah kantor, berarti ganti atasan. Alhamdulillah, alasan Tiwi pindah tuh nggak pernah karena masalah atasan.
Malah seringnya ragu-ragu, bingung mau ngambil kesempatan itu apa nggak, justru karena faktor “nggak tega” atau “takut nggak bisa dapet” atasan Tiwi saat itu. Artinya, Insya Allah mah anak baik-baik lah yaa… Nggak musuhan sama bos-nya 😀

Berganti atasan lumayan sering (karena di satu kantor kan bisa jadi ada beberapa pindah bagian tho ?!), banyak pelajaran yang secara nggak langsung ikut membentuk Tiwi sehingga seperti menjadi yang sekarang ini.
Makanya, Tiwi pengen berbagi, apa saja yang bisa “dipelajari” dari beberapa atasan yang pernah Tiwi kerja bareng.

Nih diantaranya… Nggak berdasarkan urutan kantornya ya, seinget Tiwi aja ini mah…

Atasan A : Selalu catat apa yang kamu kerjakan, kerjakan semua yang kamu catat ! (efeknya, tanya Tiwi tentang dokumentasi apapun… Insya Allah mah lumayan ada oret-oretannya, kecuali lagi males kebangetan)
Atasan B : Kalo’ nggak ngerti, TANYA ! Jangan buang-buang waktu ngerjain sesuatu yang kamu gak yakin bener (efeknya, kesannya mah jadi “bego” di awal ya karena bawel… Tapi Insya Allah yang dideliver itu selalu sesuai ekspektasi)
Atasan C : Jangan pernah takut ngajak senang-senang tim lah… Asal bener ajah, kaya makan-makan. Insya Allah, kalo’ bisa bikin orang lain senang, rejeki mah pasti balik lagi ke kita kok ! (ini mengagetkan lho ! karena yang ngomong itu atasan yang tidak terlihat akan berperisip seperti itu dari luar :D)
Atasan D : Tiwi pernah berada di beberapa atasan dengan tipe ini. Menjadi tim beliau-beliau ini, Tiwi belajar untuk bisa percaya penuh ke orang lain. Karena bekerja dengan atasan macem begini, supervisi yang Tiwi dapatkan minimal banget lah… Malah jadi “pakewuh” kan mau “macem-macem” sama kepercayaannya, dan tertantang untuk bisa memberikan yang terbaik
Atasan E : The very Detail Person ! Asli, kagum poll pernah bekerja dengan model yang begini. Jangan pernah macem-macem lah… Semua hal diketahui. Gimana mo ngeles. Makanya, belajar belajar dan belajar, baru menghadap dan present apa yang dia mau, itu udah kudu banget lah ! Rajin baca, it’s a must !
Atasan F : Sepertinya mah nggak ada yang bisa dipelajari dari tipe begini… At least, Tiwi bisa belajar, bahwa
Tiwi pasti bisa menjadi atasan yang lebih baik kalo’ ada di posisi beliau. Hehehe…

Menulis ? Nggak Susah kok…

Gaya banget yaa judulnya 😀 Nggak kok, menulis yang dimaksud dalam judul di atas itu, menulis dengan konteks sangat sederhana. Bukan menulis sebuah buku yang sampai diterbitin oleh penerbit terkenal gitu…
Kalo’ kaya’ gitu mah, tiwi juga belum pernah 😀

Jadi, tadi pagi, ada berkedip di Yahoo Messenger saya. Penanda ada window percakapan baru yang belum terbaca.
Saat saya baca, isinya cukup bisa membuat ngakak tapi juga ngenes
Begini :

“Mbak, bantuin dong.. Disuruh sekolahan anak nih bikin tulisan tentang profil si A. Gimana sih ?”

Balasan saya beneran nanya sih saat itu.

“Anak ? Anak siapa nih yang dimaksud ?”

Lansung disemprot :

“Yaaa, anak aku lah mbak… !”

Hah ! Gimana nggak takjub coba. Wong menuliskan profil anak sendiri, kok minta dibantuin orang lain.
Maksud tiwi, anak kita sendiri, seharusnya, yang lebih mengerti yaa kita sendiri tho ?
Tapi ternyata, bukan masalah dia nggak mengerti anaknya sih sebenernya. Cuma teman saya itu, tidak bisa menuangkannya ke dalam sebuah tulisan.

Mulailah bantuan didatangkan…
1. Saya bilang ke dia : “Kamu kan sering cerita ke aku, si A sekarang udah makan banyak lho, mbak.. si A kok susah nurutnya yaa, mbak…
Coba buka archive YM kamu ke aku, copy paste ke Ms Word. Yakin deh, itu udah bisa lebih dari 1 lembar A4″

2. “Dari lahir apa nggak yaa enaknya ? Abis pas baru lahir kan, selang dimana-mana waktu itu di badannya… Nanti aku sedih”
Supaya pembaca-nya nanti mengerti kenapa profil si A seperti itu, mending dituliskan tahap per tahap, dari sejak lahir sampai sekarang dia sebesar ini, nanti lak ada background, kenapa profil-nya bisa seperti itu…
3. Coba cari-cari foto si A yang paling berkesan buat kamu, terus cerita dari situ. Sertain juga ajah di tulisan untuk profil ini. Toh buat mading kan ? Nanti biar seru bacanya…

Belum sampai tuntas point-per-point dijembrengkan, datanglah berita bahagia itu…
“Nggak usah mbak, mas yang mau nulisin. Horee !”
Huuuu, dasar emang emak ndak mau repot :p

The moral of the story.
Menulis itu kan kadang menuliskan apa yang ada di kepala kita. Kalo’ bercerita ke teman itu menuangkan apa yang di kepala “orally”, nah menulis itu kan bercerita secara “writtenly” *embuh wis bener opo nggak grammar-nya, teuing nyak !*

Jangan bilang nggak bisa sebelum dicoba. Saat ini, banyak media belajar menulis yang bisa digunakan.
Facebook, Twitter, Foursquare. Semua bisa dijadikan tools untuk awal-awal belajar menulis. Menuangkan apa yang ada di kepala ke dalam bentuk tulisan.
Pernah tau ada nggak, ada lho, novel yang diterbitkan diambil dari “kicauan” sang penulis di media Twitter. Dikompilasi, diedit, voila, terbitlah novel yang tebalnya mengalahkan majalah mingguan 🙂

Lagipula, hari gini. Kita nggak akan menghabiskan ber-rim-rim kertas kok untuk belajar menulis. Sudah ada Ms Word. Ada tombol [backspace] untuk men-delete.
Perkara-nya jaman sekarang ini, mau atau nggak. Itu ajah sih !

🙂