Tag Archives: keluarga

2012 – Tahun Jalan-jalan…

Hehehe… Udah ganti tahun lagi aja yaa. Sayangnya, belum juga ada kalender dinding baru di rumah kami… :p #curcol

2012 buat kami – Tiwi dan keluarga – bisa dibilang sebagai tahun jalan-jalan πŸ˜€ Dan seru-nya, diantara jalan-jalan itu, 2 event adalah jalan-jalan yang pertama untuk kami semua.

Di bulan Juni, seperti yang sudah diceritakan di posting sebelumnya, kami memang merencanakan jalan-jalan “nebeng” di kamar hotel acara dinas Erwin. Sekeluarga tentu saja. Dan ini menjadi jalan-jalan pertama ogie ke luar negeri πŸ™‚ Hehehehe, alhamdulillah, ada kemajuan dibanding kakaknya. Dulu asha pertama kali berkesempatan “mencap” paspor di usia 4 tahun, sekarang adiknya, di usia 11 bulan sajah.

Perjalanan tersebut bisa dibilang lancar. Itinerary yang nggak terlalu padat, berhasil dilalui kami ber-4 dengan menyenangkan. Anak-anak sehat, dan sepertinya mah sangat menikmati. Ya iya lah, wong hampir tiap hari mereka “setor muka” sama kolam renang. Gimana nggak bisa dibilang menikmati. Ada air, anak-anak mah cukup… (Itinerary di Singapore dengan 2 anak kecil akan diceritakan lain kali yaa)

Di bulan Agustus, kami sekeluarga + asisten, mudik rombongan untuk pertama kali. Konvoy 2 mobil, dengan 2 supir standby di tiap mobil. Seruuuu !! Benar-benar pengalaman yang nggak akan terlupakan. Perjalanan 1010km (one way lho yaa), 32 jam ! Gimana nggak berkesan banget ! Mudah-mudahan akan membekas juga di ingatan asha (kalo’ ogie sih sepertinya masih terlalu kecil untuk mengerti yaa…)
Alhamdulillah di rumah Bondowoso, kami bisa menggelar syukuran ulang tahun asha + ogie bersama teman-temannya !

Di bulan September, ceritanya kami centil sih kaya’nya. Pengen aja jalan-jalan. Dan pengen banget nyenengin asha. Pergi jalan-jalan lagi lah kami… πŸ™‚ Kali ini, bertiga saja. Tanpa ogie. Dengan pertimbangan, short trip kali ini hanya akan bikin dia capek saja takutnya.
Tujuannya memang cuma tetirah. Pergi dari semua keseharian. Menyenangkan asha… Kalo’ udah jadi orang tua, sepertinya melihat anak senang itu sudah hiburan paling top kan ?!
Short trip-nya beneran short trip. Nggak diburu-buru waktu waktu, nggak diburu-buru jadwal. Mengalir sebangunnya kita saja πŸ™‚

Di bulan Desember, awal bulan, Tiwi dan teman-teman melakukan Runaway Moms. Perjalanan yang sudah kami agendakan sejak 2 bulan sebelumnya. SERRUUUUU !! Beneran liburan ini mah. Sama sekali nggak kepikiran urusan apapun (kecuali urusan keluarga). Beneran yang Fresh banget deh pas pulangnya. Untuk sementara, kalo’ mau lebih lengkap, silahkan klik link ini yaa !

Dan di akhir bulan (apa akhir tahun ya ?!), lagi-lagi menyebrang. Kali ini menunaikan janji Erwin kepada Ibu. Alhamdulillah lunas πŸ˜€
Itinerary kali ini, beneran itinerary turis πŸ˜€ Sampe pada teklok kakinya, saking kejar foto-foto di setiap sudut kota.

Alhamdulillah, banyak cerita di 2012. Tiwi mah berniat mendetailkan semua-nya. Karena asha dan Singapore bagi Tiwi dan Erwin itu sekarang identik banget. Beda rasanya ke sana tanpa asha. Setiap sudut, setiap mall, setiap alat transportasi, semua ada cerita bersama asha. Saking dia mencintai hampir semua hal yang berhubungan dengan SIN. Heran kadang dengan kekuatan kaki asha menjelajahi semua tempat tanpa bantuan stroller ! You’re tough indeed kiddo !
When you grow up and you read this, believe me kiddo, you are superb masalah jalan-jalan mah πŸ˜€

2012 merupakan awal bagi beberapa hal. Termasuk asha masuk SD ada di tahun ini ! (belom cerita juga yaa… :D)
Mudah-mudahan kami berkesempatan mengisi 2013 dengan cerita yang lebih serrruuu lagi !
Insya Allah.

Cheesecake Addict ! :D

Awalnya sih karena pengen coba-coba nerima pesanan kue. Dan pengennya perfect ! Iklan (email broadcast) kudu ada foto contoh kue-kue-nya. Dan kue-nya pun harus buatan sendiri. Bukan hasil googling dan cropping dari situs manapun (walaupun kalo’ kejadian juga sumber pasti disebutin sih..)

Tapi ternyata untuk jenis Tiramisu, Cheesecake gitu belum ada foto-nya yang bisa dipajang. Jadilah googling resep dengan kata kunci “resep cheesecake ncc”.
Nggak tau kenapa, untuk pencarian resep-resep kue, saya percaya dengan resep-resep-nya NCC. Padahal saya nggak terlalu selalu mengikuti perkembangan milis/forum-nya juga lho ! Sepertinya dengan pertimbangan, karena sesama emak-emak pasti tips dan trik-nya saat membuat kue itu pasti sama dan simple ! (seperti produk pengganti, cara-cara anti gagal, dll) jadilah saya percaya penuh kalo’ pake’ resep NCC. Thanks emaks… πŸ™‚

Akhirnya menemukan resep ini (dan juga sekaligus link ke website yang akhirnya jadi favorit juga) di Cakefever.com. Kelihatannya resep dan prosesnya mudah yaa.. Tips-tipsnya juga lengkap di website tersebut.

Yuks, berburu bahan-nya pas pulang kantor… (niat beneran kok iki !)

Ingredients

Crust
250 gr biskuit oreo (aku pakai 250 gram marie regal)
100 gr margarine lelehkan (aku pakai 100 gram unsalted butter)
1/2 sdt vanili bubuk (skip)
kopi instant (skip)

Blueberry Cheese Cake with whipcream

Cake:
200 gr gula pasir
4 butir telur
1 kg cheese cream (saya pakai Yummy)
250 gr sour cream (saya pakai Yummy)
1 sdt air jeruk lemon (saya skip ini, nggak ada waktu itu)
2 sdt kulit jeruk lemon parut (saya skip ini juga :D)

Topping:
250 ml whipped cream (skip)
1 sdm gula pasir (skip)
250 gr selai blueberry

How-To:

  1. Siapkan loyang bongkar pasang 22 cm olesi mentega, sisihkan. Hancurkan biskuit hingga halus, lalu tuang butter (atau margarine) yang sudah dilelehkan, aduk rata. Masukkan adonan biskuit pada loyang, ratakan dan tekan-tekan sampai padat, oven sebentar [5-10 menit] angkat, sisihkan.
  2. Kocok gula dan telur hingga kental, masukkan cheese cream dan sour cream bergantian sambil terus dikocok.
  3. Tuangkan adonan ini ke dalam loyang, di atas adonan biskuit, lalu oven dengan suhu 165C dengan cara au bain marie [diletakkan di atas loyang yang sudah diisi air] selama 90 menit.
  4. Angkat, dinginkan di suhu kamar, hingga benar-benar dingin.
  5. Kocok whipped cream dan gula pasir hingga kental, oleskan di atas cheese cake, lalu bekukan dalam kulkas selama minimal 4 jam (Aku ndak pakai whippedcream ya, langsung aja oles blueberry-nya)

Original Recipe by Fatmah Bahalwan (NCC)

Catatan:
Sour Cream bila tidak bisa menemukan, bisa diganti dengan yoghurt plain. Yoghurtnya yang kental itu ya, jangan pakai yang cair.

Read more: Resep Blueberry Cheese Cake | CakeFever.com

Pas tester-nya dibawa ke kantor, ludessss langsung ! Dan pada bilang “Enyaaakkkk”“Kuraaannngg”… Ya iya lah, wong cuma bikin 1/2 resep (pas banget untuk loyang D20 atau 18×18). Mahal boss ! :p

Hasil foto pun memuaskan, dan siap dipajang di iklan πŸ˜€
Dan sudah menuai pesanan perdana untuk kue anniversary seorang teman. #okesip !

Kemarin akhirnya memutuskan membuat Cheesecake untuk kue ulang tahunnya Ogie. Kali ini toppingnya Strawberry. Mantap juga lah… Anak-anak kecil pada suka ! Mungkin karena tekstur-nya yang mirip es krim dan memang lebih enak disajikan dingin kan…
Cream cheese-nya diganti sebagian dengan merek Anchor. Katanya sih membuat rasa keju-nya lebih maknyuss… (ini testimoni teman-teman kantor lho yaa)

Ogie's 1st Bday Cake

Ogie’s 1st Bday Cake

Happy birthday (again) Cah Bagus…

Everyone loves you, kid !

You are 1 Today !

Dear Ogie,

Ogie

Ogie 1 tahun

Anak mama yang paling ganteng…
Hari ini kamu 1 tahun. Aahh, sudah bukan hitungan bulan lagi nak usiamu sekarang πŸ™‚

Sudah bisa apa saja kamu di usia 1 tahun ?
Sudah senang dititah. Untungnya badanmu menjulang tinggi. Sehingga kami tidak perlu membungkuk untuk membuatmu berjalan πŸ™‚
Sudah bisa merangkak sejak usia 8-9 bulanan. Gesit ! Sehingga kami harus berlomba sebelum kamu tiba-tiba nyemplung di kolam ikan atau jatuh di undakan
Sudah merambat (bahkan merayap di lemari berpegangan ala Spiderman !) dengan sangat cepat !
Sudah bisa bilang “Achaa cha cha cha…” “Pa..pa..pa..” “Amama.. ma..ma..” Cerewet sangat ! Sampai mama nggak berani membayangkan ramainya rumah kita nanti dengan duet maut kamu dengan asha πŸ˜€
Sudah sangat mengenal siapa mama-mu ! Hahaha… sampai semua orang kesal karena sekali terdengar suara mama, kamu nggak akan bisa dibujuk dengan apapun juga untuk berpindah gendongan ! Good boy… πŸ™‚

Nggak sabar nak, menunggu waktunya kamu bisa berjalan, kita berlarian bersama asha berlomba menuju pagar saat ingin memanggil abang-abang lewat πŸ˜€
Nggak sabar juga, menunggu kamu bisa berceloteh menyuarakan apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu ingin tahu, dengan suara unyil-mu.
Akan kita bahas bersama kenapa pesawat yang lewat di atas rumah kita itu bisa membuat suara berisik yang membuat kamu mendongak setiap mendengarnya..
Akan kita cari tau, dengan apa kupu-kupu berpindah-pindah tempat membuat kamu sibuk memutar badan supaya tidak kehilangan dia.

Cepat besar anak-ku…
Bertumbuhlah sehat, cerdas, kuat.
Supaya kamu bisa menjadi anak soleh yang berguna bagi sesama-mu.
Mencerna kalam-kalam Allah di sekitarmu.
Menjadi “Ghiyath” bagi siapapun yang ada di sekitar-mu.

Love you, kiddo.

Analyze(r) !

Kalo’ pagi-pagi nggak heboh, itu mungkin rumah itu rumahnya penganten baru yg masih bulan madu, atau rumahnya pensiunan yang anak-anaknya sudah mandiri semua.
Karena rumah dengan 2 anak unyils, dengan Bapak dan Ibu yang bekerja, bisa dipastikan pagi hari – bahkan mulai sebelum adzan Subuh, sudah dipastikan harinya diawali dengan kehebohan.

Ada yang lucu dengan kehebohan di rumah kami kemarin.
Diawali dengan saya membangunkan asha untuk mandi, dan bersiap ke sekolah.

S : “Sha, bangun nak… Ayo mandi. Udah jam 7 lho, nanti kamu diabaikan. Udah siang ini, Nak…”

Dan jawaban asha adalah…
A : *dengan mata terpejam* “Ini masih pagi, ma… Tuh, papa aja masih tidur ! Artinya masih pagi !” (iya, memang saat itu Erwin masih tidur karena memang niat datang agak siang.)

See, kebiasaan asha ngeyel memang begini. Disertai dengan fakta. Zzzzz…
Dengan sedikit pemaksaan, saya gendong dia ke depan kamar mandi. Dan seperti biasa, kalo’ asha ngambek, dia nggak bakal mau dimandikan oleh saya. Maka pengasuh-nya yang mengambil tanggung jawab itu.

Dialog di kamar mandi :
A : “Kenapa sih Wi, asha harus sekolah ?”
Pengasuh (Uwi) : “Yaa anak-anak emang harus sekolah, nak.. Biar pinter. Kan asha mau jadi dokter kan ?” (ini doktrin dia lho, bukan saya !)
A : *diem sebentar* “Emang Uwi dulu juga sekolah ?”
Uwi : “Iya dong, Uwi dulu sekolah pas masih kecil” *dengan nada bangga*
A : “Terus, sekarang Uwi jadi apa ??” *dengan nada tinggi pengen tau !”

Asli deh.. saya yang mendengarkan di luar sudah nggak sanggup nahan sakit perut karena ketawaan.
Dan emang pada dasarnya pengasuhnya juga Ratu Ngeyel, masih diladenin itu anak kecil…
Uwi : “Sekarang kan Uwi jadi PA nih, Sha… Pengasuh Anak ! Sama PD, Pengurus Dapur !”

Hahaha… Makin ngakak nggak karu-karuan deh saya.
Duh nak… nak…
Dengan tingkat ke-kritisan dan analisa kamu yang kadang di luar perkiraan, mama doain yaa Nak. Suatu saat kamu baca ini, mama mau kamu tau.
Insya Allah, kamu akan jadi anak pintar yang disayang Allah, yang berguna buat membantu orang banyak di sekelilingmu yaa. Mau jadi apapun itu.
Jangan bikin kecerdasanmu itu untuk “minteri” orang lain yaa, Nak. Bukan seperti itu anak mama…

Love you, Kiddo.

Bali… Bali… Bali… (2)

Okeh, mumpung lagi ada mood bercerita, dan sedang agak lowong, mari kita lanjut… πŸ˜€

Sesampainya di Bandara Ngurah Rai, kami dijemput oleh Mas Arief dari Why Bali Tour. Padahal pesawat kami delay lho, tapi beliau tetap setia menanti ! πŸ˜€ *udah kaya’ tag yang biasa dicat di belakang bus aja yaa..* Recommended banget deh pokoknya penyewaan mobil oleh Bro Topvan ini ! Mas Arief tuh baaiikkkkk banget, plus ramah sama anak kecil. Asha aja bisa langsung ngobrol sama beliau πŸ™‚
Terima kasih yaa Mas Arief, sudah mau kami repoti selama 3 hari… Semoga kapan-kapan kami bisa berlibur ke Bali lagi.

Tujuan pertama kami, tentu saja Hotel Santika Premiere Beach Resort ! Kenapa ? Karena koper yang segedubrak ini harus cepat-cepat diturunin. Makan space yang lumayan banyak euy di row belakang…

Tapi ternyata banyak pasukan yang kelaperan. Melipir dulu akhirnya ke Nasi Pecel Ibu Tinuk. Beneran deh, jalan-jalan sekarang itu enak banget. Soalnya di internet, semua informasi bertebaran. Banyak orang-orang baik, manca negra atau domestik yang bersedia sharing. Tinggal niat plus tingkat kerajinan kita aja yang menentukan.
Saya termasuk yang kudu “well-prepared” kalo’ untuk liburan ke tempat baru. Semua tips and trik sudah tercatat di aplikasi notes hape πŸ˜€

Sesuai referensi, Pecel Ibu Tinuk ini murah poll ! Mosok menu makan saya pagi itu hanya Rp 8.500 ! Sudah dengan ayam suwir-suwir ala Bali yang memang saya incar sejak dari JKT πŸ˜€ Suasananya juga enak. Ada tempat yang bisa lesehan… πŸ˜€

Sampai di hotel… Alhamdulillah, hotelnya bagus banget ! Kolam renangnya menggoda banget ! Pegawai hotelnya juga ramah-ramah. Rasanya, bikin males pengen kemana-mana lagi :p *bisa dijitakin Erwin tapi kalo’ bilang mau di hotel ajah :D* Kamar yang kami pesan belum siap di jam 10 pagi. Masih penuh. Akhirnya terpaksa cuma bisa menitipkan barang-barang di concierge, plus beberes anak-anak. Lalu lanjut lagi pergi.

Urusan menentukan rute, saya serahkan kepada ahlinya lah. Tujuan saya ke Bali kan memang hanya pengen liat anak-anak main pasir, dan saya main parasailing πŸ˜€ Cukup itu saja…
Akhirnya, Erwin bilang… “To the North !” Baiklah… Mari ngikut πŸ˜€ Toh emang cuma beliau yang lumayan tau bali dibanding yang lain :p

Di arah Utara Bali, tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah Pura Taman Ayun di daerah Mengwi. Pas banget kami tiba di sana, karena menjelang Nyepi, banyak upacara yang harus dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali. Jadi ramai dengan orang lalu lalang berpakaian ibadah… Dan menyenangkan melihat persiapan upacara mereka, meskipun hanya boleh dari luar pagar. Saya sempat berkeliling ke belakang Pura, dan melihat ke dapur tempat makanan-makanan disiapkan. It’s fun ! saya memang senang meng-eksplore ke-tradisional-an Indonesia. Makanya, betah berlama-lama di Pura Ayun ini… walaupun panasnya minta ampun rasanya.

Dari Taman Ayun, kami mengarah ke atas. Ke Bedugul. Wedew… ternyata rute-nya itu jalanan yang pernah saya lewati saat pulang dari Singaraja dulu. Dan saya nggak suka dengan belokan-belokan jalannya yang ala daerah Puncak. Bikin mual ! Dan benar saja… Ogie muntah-muntah di perjalanan. Bisa jadi karena memang anak-anak masih dalam tahap penyembuahn dari flu mereka. Ditambah penerbangan buat Ogie yang pertama, mandi di pagi hari, plus perjalanan darat di mobil yang lumayan lama buat anak kecilnya. Sampai habis persediaan kaos dia di tas kecil. Untungnya, walaupun muntah-muntah, tapi dia tetap bisa cengengesan kalo’ diajak bercanda. Kalo’ kakak-nya sih, sudah tidur sejak menghabiskan teh botol di parkiran Taman Ayun πŸ˜€

Di Bedugul, pemandangan Danau Beratan dan Pura Ulun Danu serta dinginnya suasana di sana bisa jadi penghibur perjalanan yang masya Allah jauhnya. Asli jauh banget ! Katanya sih sekitar 70km dari Bandara Ngurah Rai.
Lumayan lah… Asha dan Ogie menikmati banget di danau ini. Karena dingin sepertinya. Asha senang banget, karena di sana ada rusa seperti di Monas dan Istana Bogor. Hasilnya, susah banget menggiring dia balik ke mobil πŸ˜€

Setelah puas lari-larian dan menghirup banyak-banyak udara segar di Bedugul, kami memutuskan balik ke hotel. Tadinya rencananya mampir ke Tanah Lot dulu buat melihat sunset. Tapi melihat kondisi anak-anak yang kelelahan, hotel sepertinya menjadi pilihan paling tepat.
Benar saja.. setengah jalan, Ogie rewel lagi. Sampai harus berhenti dulu dan mengajak dia jalan-jalan di luar mobil.
Kami juga sempat makan di rumah makan yang berkonsep Buffet (all you can eat). Tapi sepertinya kurang menarik kalo’ di Bali, masih harus makan-makanan internasional seperti ini. Not recommended lah…

Sampai di hotel, masih pukul 5 WITA sih… Tapi sepertinya saya gagal mendapatkan momen sunset. Padahal gear sudah siap tempur inih… πŸ˜€ Langitnya sedikit mendung sore itu. Akhirnya, sementara asisten membereskan Ogie, saya, Asha dan Maya memutuskan jalan-jalan sore menyusuri pantai belakang hotel, untuk mencari makan malam πŸ˜€ Fast Food it is. Udah nggak ada energi lagi buat jalan-jalan keluar sepertinya para pasukan πŸ˜€ Jadilah KFC dari Discovery Mall + Domino Pizza jadi solusi.

Malam-nya, saya dan Erwin sempet berenang dulu beberapa laps di kolam renang yang letaknya persis di depan pintu kamar ! You may call this “dream comes true :D”… Kita tes dulu yaa mas 3 hari, enak nggak punya kolam renang yang letaknya persis buka pintu gini… Kalo’ enak, baru kita gali tuh tanah :p *tanah-nye sape bang :p*
Setelah pasukan teler, kami berdua kabur ke kawasan Legian dengan menyewa motor. Muter-muter nggak jelas di kawasan yang ramai dengan jehidupan malam. Belanja di supermarket susu untuk Asha dan beberapa printilan. Dan berakhir di Bubba Shrimp Gump untuk makan malem berduaan πŸ˜€
Bubba Gump Shrimp ini recommended banget deh makanannya ! Dan porsinya lumayan besar ! Saya baru bisa merasakan “juicy”-nya udang seperti yang selama ini dibilang oleh Pak Bondan yaa di sini… Mantaaabbb, bikin nagih !
Sampai di hotel, anak-anak sudah tidur. Siap angkut ke kamar sebelah πŸ™‚

Alhamdulillah. Day 1 ends. With smile on every faces.

Hargai Profesor ya, Nak !

Asli, culun banget deh percakapan virtual satu ini. Obrolan antara Bapak 2 anak yang sedang berulang tahun dengan anak lelaki-nya yang sedang tidur nyenyak. Lha wong udah jam 11 malem gitu. Tapi lucu beneran. Makanya pengen ditulis.

Tadinya saya dan Erwin sedang membicarakan salah seorang teman yang sedang liburan ke Wakatobi untuk diving. Menyenangkan yaa ! Tapi tau-tau, terjadi adegan seperti ini :

Papa : “Nak, kalo’ nanti kamu pengen belajar menyelam, papa bayarin yaa.. Gpp deh mau kemana kek tinggal bilang aja sama papa !” *sambil usap-usap Ogie* “Kalo’ kakak-nya nggak usah. Bahaya jauh-jauh pergi nanti…”

Emaknya protes dong. Wong anak perempuannya sekarang malah udah ketauan cinta renang banget ! “Ih, kamu ngebeda-bedain !” Nyengir doang bapaknya πŸ˜€

Abis itu lanjut.

“Kalo’ kamu mau ikut balapan juga nggak apa-apa nak. Biar aja sama mama gak boleh. Tapi sama papa nanti papa modalin ! Beli motor yang bagus yaa nanti !”

Emaknya nyeletuk : “Iya nak, beli Kawasaki Ninja 250cc, nanti kamu modif yaa” *ini mah emang niat ngegodain Bapaknya, secara dia baru ngedumel, nggak ngerti pikirannya orang-orang yang pada hobi modif itu, buang-buang duit katanya*

“Jangan yaa, Nak. Papa beliin yang bagus sekalian. Tapi jangan dimodif. Yang bikin motor itu tuh Profesor tau ! Dia bikin udah susah payah. Mosok kamu modif di pinggir jalan ! Nggak mau papa kalo’ kamu kaya’ gitu..”

Emaknya udah nggak tahan dah akhirnya… Ini yang bobo nyenyak anak bayinya, kok yang ngigo papa-nya sepertinya πŸ˜€

Anak Mandiri. Apa sih ?

Dari pagi, kangen sama asha tuh sampe mau nangis rasanya. Entah kenapa. Pas dicoba ditelepon, alhamdulillah anaknya baik-baik aja di sekolah. Di rumah, malah lagi bobo barusan. Trus kenapa kangennya sampe’ bikin kaya’ pengen pulang banget gini yaa..
Embuh wis… Mending kita cerita asha lagi aja yaa…

Jadi postingan kali ini dilatar belakangi kejadian saat saya mengambil raport asha beberapa waktu lalu. Ada pesan dari wali kelas asha : “mama asha, kepala sekolah mau ketemu.” Baiklah… paling masalah transportasi outbound seperti biasanya lah, begitu pikir saya saat itu.

Ternyata oh ternyata… hari itu, saya ditegur. Mmmhh, atau sebenernya itu curhat sang kepala sekolah ya ? Tapi nadanya sih menegur πŸ˜€
Karena asha selalu didampingi oleh pengasuhnya saat kegiatan di luar sekolah. Apakah itu kunjungan ke pabrik, ourbound, dll. Dan katanya, karena mobil asha selalu “ditumpangi” oleh orang tua yang juga ingin melakukan hal yang sama ke anak-anaknya. Mendampingi. “Tolong bunda, percaya sama sekolah ya. Besok-besok jangan didampingi lagi. Takutnya anak-anak nantinya malah tidak mandiri…”

Jujur, sampai sekarang kata-kata itu masih terngiang di telinga saya. “Takutnya anak-anak nantinya malah tidak mandiri”…

Pengen rasanya saya membuka KBBI-nya JS Badudu untuk mengetahui, apa sih arti kata mandiri itu ?
Parameter apa sih yang dipakai untuk menilai, si A itu mandiri atau nggak ?
Dan di usia berapa sih mau diukur tingkat kemandirian seseorang ?
Huhuhuhu… mulai emosi deh.

Saya memang cuma melihat dari sisi saya sebagai orang tua asha yang punya kewajiban menjaga dia sebagai “amanah”, dan saya sebagai anak hasil bentukan dari orang tua saya yang sudah terkenal “over-protective” sekali ke anak-anaknya.

Saya memang selalu menugaskan pengasuhnya untuk mengikuti kemanapun asha beraktifitas, di sekolah maupun di luar sekolah.
Kenapa ? Karena saya personally nggak bisa melakukan itu. Coba kalo’ saya FTM seperti mama saya dulu, pasti saya yang mendampingi dia kemana saja πŸ˜€ (tetep salah yaa kalo’ dari pandangan kepala sekolah mah yaa…)
Kenapa saya melakukan itu ? Karena cuma itu yang saya bisa lakukan maksimal buat asha karena status saya sebagai Ibu Bekerja. Meyakinkan dia baik-baik saja…

Saat itu kepada sang kepala sekolah, argumentasi saya, saya hanya berusaha meneruskan pola asuh yang saya dapat dari orang tua saya dan saya nilai baik hasilnya.

Dulu jaman SD, saat saya berkemah Perjusami di Cibubur, saya selalu bisa melihat orang tua saya kongkow-kongkow berkumpul di tendaΒ  guru-guru, ngobrol dengan mereka, sambil juga memastikan saya dan adik-adik baik-baik saja selama kegiatan di sana. Setiap hari-nya mereka datang, dan pulang saat kami sudah masuk ke tenda masing-masing.

Jangankan gitu, sampai saya kuliah di Bdg saja, setiap mama memasak makanan kesukaan saya, mama dan papa berkendara Jkt-Bdg dengan mobil, dan mengantarkan makanan itu ke saya. Catet yaa, belum ada tuh jalan tol yang saya masukkan ke inovasi paling edan selama abad ini ! Yang saya cintai sangat πŸ™‚
Bahkan saat saya sudah kerja, mereka suka datang ke kantor membawakan saya makan siang yang baru dimasak mama. Membelikan sepatu baru, dan bergegas mengantarkan ke kantor, karena mereka tahu setelah jam makan siang, saya harus menghadiri meeting dengan beberapa orang penting, padahal sepatu saya sudah mulai kusam.
Atau mengantar saya ke kantor polisi untuk perpanjangan SIM. Mama dan papa LENGKAP ! Sudah seperti mengambil raport saya saja… πŸ™‚

Yang heboh, saat saya sudah berkeluarga gini, karena nasib rumah cuma tinggal koprol ke rumah mama, kadang makanan buat asha, justru diantarkan oleh mama pagi-pagi sekali, supaya saya tidak perlu lagi menyiapkannya.

Hal-hal seperti itu yang saya dapatkan sebagai anak… Manja yaa kelihatannya ? Membuat nggak mandiri yaa ?
Silahkan nilai sendiri dari saya sekarang yang terlihat.

Saat saya punya rumah sendiri, saya bisa kok mencari tau cara menyalakan listrik melalui tata cara yang benar di rumah saya dengan pergi dan mempelajari proses di PLN, menyambungkan line telepon secara resmi ke Telkom, mengurus tetek bengek pengkreditan di bank yang bener-bener ngejelimet. Atau saat memang dibutuhkan “kelihaian” negosiasi ala preman supaya prosesnya lebih cepat, saya bisa merampungkan semua itu tanpa harus menyusahkan orang lain.

Bahkan, pertama kali saya pergi ke luar negeri, saya benar-benar seorang diri dan benar-benar pertama kali itu keluar dari wilayah NKRI. Tapi saya survive tuh seminggu di sana !

Hal seperti itu yang dicari dari kata “mandiri” kan ? Atau bukan ?

Satu quote yang selalu saya pegang dalam membesarkan anak-anak saya.
Mereka yang benar-benar merasa dicintai dan disayangi, akan lebih siap membagikan “sayang” dan “cinta”-nya kepada siapa saja di sekitarnya pada saat dia terjun ke masyarakat.
Buat saya, anak akan lebih merasa pede menjalani hidupnya, kalo’ dia selama memang belum waktunya untuk menjalani hidup sendirian, selalu bisa merasakan ketenangan, kenyamanan, dll.
Dan lagi, saya berusaha memberikan apa yang anak-anak butuhkan “mentally” supaya mereka nggak mencari ke luar rumah atau ke orang lain, karena mereka tahu, mereka akan bisa mendapatkan itu dari kedua orang tuanya.

Lagipula, untuk anak berusia 5 tahun, kemandirian seperti apa sih yang dituntut untuk bisa mereka lakukan ?
Bukan kemandirian kebablasan kan ? Mereka masih perlu pendampingan. Makanya ada orang-orang yang lebih tua di sekitar-nya selalu tho ?
Mereka perlu pengarahan… Yang jelas, mereka perlu yakin, bahwa mereka disayangi, dan keberadaan mereka selalu dianggap ada oleh orang tuanya.
Sesederhana itu sih tiwi berusaha membesarkan asha dan ogie sampai nanti mereka siap.
Love you, kiddos. Always.

Wallahu a’lam.

Celoteh Anak Sayang Mama

Setting : Malam hari sepulang bekerja, bertiga-an sama Ogie dan Asha rebahan di tempat tidur.

Nggak tau ada angin apa, tiba-tiba anak perempuannya bilang :
A : “Mama, nggak boleh ada lagi yaa ma, adek setelah Ghiyath ini ma.. Nggak boleh !”
S : *bengong* karena emang sebelumnya sama sekali sedang tidak membicarakan adik πŸ˜€
S : “Lho, bukannya kamu mau adik lagi, Sha ? Katanya waktu itu mau adik laki-laki lagi..”
A : “Mama, emang nanti asha bobo sama siapa ?”
S : “Papa lah nak.. Kan biasanya gitu ?!”
A : “Lho, adek Gie bobo sama siapa ?”
S : “Yaa sama mama dong..” *asli sambil bingung, arah pembicaraan dia ini kemana sih sebenernya. no clue !*
A : “Tuh kaann.. trus kalo’ ada adek lagi, nanti mau bobo sama siapa. He ?!!!”
S : *ngakak sampe ngejengkang*

Subhanallah nak… Sampe segitu-nya kamu udah mikirin ? Nggak nak, Insya Allah kalopun ada adek lagi, mudah-mudahan saat itu kamu sudah berani pisah kamar dari kami yaa..

Lalu ada lagi cerita tentang asha yang bisa bikin kangen dia terus tiap hari.

Setting tetap sama, di tempat tidur. Malam hari.

S : “Sha, garukan yang waktu itu kita beli di Asemka tuh dimana sih nak ?” (itu lho.. garukan yg model jari-jari kecil di ujungnya)
A : “Ada di atas lemari, ma ! Emang kenapa, mama gatal ya ?”
S : “Iya nak. Punggung nih gatel banget…”
A : “Emang mama gak bisa garuk sendiri. Dicoba sendiri dulu coba ma…” *ini pasti kata-kata dari guru dia di sekolah deh. Tua beneeuuurrr*
S : “Nggak sampe sha tangan mama. Jauh banget di bawah nih..”
A : “Sini ma, asha ajah yang garukin ajah ma. Yang mana yang gatal ma ?”
S : *speechless*

Love you full, kiddo !