Tag Archives: lebaran

Mudik 2012 (1433H)

Tahun ini jatahnya mudik ke rumah Erwin di Bondowoso. Karena tahun lalu kan di JKT, masih punya bayi merah kan tahun lalu… 😀
Lupakan sudah mudik dengan pesawat terbang dengan anggota tim resmi yang sudah 4 ini. Mihil aja deh ! Bisa abis THR buat tiket PP doang… 😀
Lupakan juga kereta, karena suasana mudik gini, pasti rusuh kan ? Padahal, kami sekeluarga belum pernah memakai kereta untuk bepergian luar kota. Mosok iya kudu trial justru di saat-saat hectic gini. Kasian anak-anak lah yaa…
Plus, BDWS itu masih sekitar 4-6 jam lagi dari SBY. Lumayan ribet kalo’ nggak ada yang menjemput di SBY.

Yups, seperti 2 tahun lalu, tahun ini kami Insya Allah akan mudik dengan berkendara mobil. Pantura, sambutlah kami…!
Mudik dengan 1 anak, alhamdulillah cukup santai dan lumayan sukses lah 2 tahun lalu itu. Asha sudah bisa menikmati perjalanan. Paling kami yang dewasa-dewasa yang disiksa dengan lagu “gili-gili” ala Asha 😀
Tahun ini, 2 anak aja dong.. Lumayan keder persiapannya. Apalagi yang satu masih 1 tahun. Masih bayi lah yaa itungannya. Kebayang kan perlengkapan yang harus dibawa…

Tapi tetap, karena prinsip hemat koper HARUS HANYA 2, bawaan sebisa mungkin diirit. Konsekuensi-nya, emaknya kudu cuci-mencuci di rumah Ibu dong nanti… Lupakan liburan lah !

Persiapannya apa aja nih supaya mudiknya Insya Allah lancar jaya ?
1. Anak-anak
Kemarin Minggu, semua sudah di-tune up ke dokter. Emang mobil doang yang kudu tune-up ?! Justru manusia-nya yang perlu di-cek-cek. Alhamdulillah, Ogie sehat, sampe bisa di-imunisasi dulu kemarin. Asha sedikit radang. Tapi diingetin supaya nggak minum es dulu, dokternya yang ngomong langsung ke anaknya, supaya dia mau nurut 😀

2. Pakaian
Sampai hari ini, justru tinggal baju saya yang belum dipilah-pilah. Baju Asha done, semalam. Baju Ogie juga done. Pas mau mudik gini baru sadar, ternyata pakaian sehari-hari anak-anak itu sudah sedikit yang masih muat *ibu macam apa dah…* Yaaa, kalo’ untuk kebutuhan mudik kan memang sengaja dilebihkan, supaya kalo’ nggak sempat mencuci-setrika, masih ada cadangan. Jadi emang harus punya stok banyak. Jadilah, mulai dari minggu kemarin kelilingan ITC dan Pasar 😀
Baju lebaran anak-anak ?! Ada lah 1-2 mah… Emak-nya nih malah yang belum punya ! #pencitraan

3. Mobil
Karena domestic squad semua berasal dari kampung yang sama dengan Erwin, jadi tahun ini lebih seru ! Insya Allah kami akan konvoy 2 mobil. Dua-dua-nya sudah masuk bengkel sejak awal Agustus. Karena berdasar pengalaman, bengkel-bengkel bagus menjelang lebaran suka sudah fully booked. Mending cari aman aja yaa… Biar diperiksa lebih detail juga kan.
Mobil yang nantinya akan diisi anak-anak, sudah digelar kasur sejak minggu lalu. Besarnya disesuaikan dengan space yang ada. Mudah-mudahan mereka akan bisa beristirahat yang enak di mobil. Perjalanan biasanya akan memakan waktu lebih dari 24 jam. Stamina mereka mudah-mudahan akan bisa di-charge dengan bobo nyenyak.

4. Logistik
Minuman dan makanan kecil, all are set ! Tinggal masalah termos air panas nih yang masih jadi PR buat saya. Belum nemu waktu buat kabur hunting termos yang saya mau euy… 🙁
Peta mudik juga sudah di tangan. Jaman sih memang udah jaman GPS, tapi kalo’ nggak megang peta mudik tetep berasa nggak pede pas nyetirnya 😀

Sampe hari ini, euforia mudik sih masih terjaga yaa di rumah. Printilan yang tiap hari kaya’nya ada aja yang kurang, tetep dicicil untuk diadakan.
Doakan semua lancar hingga nanti kami balik lagi ke JKT yaa..

Mohon maaf lahir batin.
Selamat Idul Fitri !

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Fiuuhh…. Berlalu sudah momen mudik kemarin. Alhamdulillah… Lega bgt rasanya sudah selesai urusan.
Mudiknya alhamdulillah lancar, seru, menyenangkan…

Ceritanya lengkapnya begini…

Mudik bagi kami se-rumah dimulai hari Sabtu, 27 September 2008. Pagi-pagi hari Sabtu kami sudah mempersiapkan rumah untuk ditinggal. Rak-rak sepatu dimasukkan ke gudang, keset-keset dirapikan, motor dipindahkan ke rumah mama, baju-baju yg sudah terlanjut basah dicuci dan dijemur, yang masih kering, ditaruh di tempat cucian kotor.

Alhamdulillah tinggal berdekatan dengan orang tua, untuk urusan mematikan dan menyalakan lampu, sudah dihandle oleh Papa 😀

Pukul 10.00 pagi, Asisten ke-2 dijemput oleh kakak-nya. Rombongan pertama berangkat !! Asisten ke-1 yg pulang menggunakan kereta, baru diantar ke stasiun setelah memberi Asha makan siang.. 😀
Ada insiden salah mengingat jadwal pula saat mengantar Asisten-1. Yang mestinya 18.30, tiwi kira 17.30. Padahal pukul 16.00 kami sudah ada di stasiun Kota 😀 Untung bapak supir nggak ngambek :p
Akhirnya diputuskan untuk menuju tengah kota untuk sholat Ashar, dan membeli bukaan shaum. Burger King Thamrin.. (Huhuhuhu, akhirnya selama Ramadhan, ngerasain jg buka shaum pake’ BK :p)

Dengan bawaan seperti orang yg pulang dari haji, cukup merepotkan bagi kami untuk mencari cara agar bisa membantu asisten-1 untuk bisa naik ke kereta. Apalagi akhirnya kami memutuskan membawa Asha saat mengantar. Supaya Asha sadar bahwa pengasuhnya memang akan pulang, dan nggak mencari-cari nantinya. Alhamdulillah, stasiun Kota tidak seramai yang kami kira. Jadi Erwin + asisten-1 masih bisa menarik tas bueessaaarr itu, dan hanya mengangkatnya saat akan naik kereta.
Sembrani yg sekarang bagus yaaa… bersiiiihhh sekali + nyaman. Jarak antar kursinya cukup besar, jadi kaki tidak terlalu pegal walaupun harus menempuh perjalanan jauh.

Melihat Asha yg antusias sekali saat di dalam kereta, akhirnya diputuskan untuk memberi dia pengalaman baru (lagi). Tiwi dan Asha naik kereta smp ke stasiun Gambir, Erwin menjemput kami di sana.
Huaduuhhhhh, yg namanya Asha, nggak bisa diam di satu kursi ! Dengan senangnya dia pindah-pindah bangku (karena kondisi kereta saat berangkat dr stasiun Kota masih kosong) dan melongok ke jendela saat ada lampu mobil menyorot dr luar… Lucunya kamu, Nak…
Saat turun di stasiun Gambir, suasana mudik baru terasa. Karena begitu kami keluar dr pintu Sembrani, lgs ada lampu sorot dari salah satu kameramen TV swasta yg sedang liputan. Weks, kabur yuk Sha !! 😀

Sampai di rumah, Tiwi sempat mau nangis. Karena ternyata Asha mengira pengasuhnya masih ada. Sibuk dia hilir mudik keliling rumah mencari-cari. Sampai ke belakang pintu pun dijabanin !! “Uwi… (panggilan ke pengasuhnya)… Baaaaa… !!” (main ci-luk-ba) sambil cengar-cengir PD bahwa pengasuhnya bakal ada di belakang pintu membalas ci-luk-ba dia. Duh naaak… maaf yaaa karena udah meninggalkanmu 5 hari dalam seminggu…

Baru pukul 23.30 WIB dia mau tidur. Itupun setelah menangis dan muntah di tempat tidur karena tidak berhasil menemuka pengasuhnya. Siapa yg nggak sedih melihatnya.
Tp malam itu Tiwi nggak mau memikirkan, karena kami harus bisa bangun pagi keesokan harinya. Atau kami akan terlambat terbang…

28 Oktober 2008
Waktu sahur, Tiwi sudah bangun untuk mempersiapkan perlengkapan Asha. Susu, makan pagi, dll. Thank to Zaralde for the nappy bag. Muat banyak lho !!
Sesuai rencana, Mama, Papa, Dini mengantar kami ke bandara. Udah kaya’ mo pergi haji kan !? :p Tp namanya juga ada Asha, semua belum rela harus berpisah seminggu penuh dengan dia 😀
Sampai di bandara pukul 07.00, masih 2 jam sebelum jadwal keberangkatan, Alhamdulillah.
Saat check-in, bertemu dengan teman TELKOM dan keluarganya. Lumayan, tukar cerita setelah sekian lama nggak ketemuan… Anaknya beliau seumuran Asha. Sempet berebut buku tuw anak berdua di boarding room 😀

Penerbangan Alhamdulillah lancar. Meskipun mengalami turbulence yg cukup bikin Erwin berpegangan erat di kursinya :p Di Juanda, tim penjemput sudah siap. Asha yg paling senang, karena bertemu kembali dengan pengasuhnya 😀
Karena kami akan menempuh perjalanan darat selama 6 jam ke BDWS, dr JKT sudah kami niatkan untuk tidak shaum di hari itu. Jadi, setibanya di Juanda, kami sarapan dulu sambil memberi makan Asha. Enak yaa Nak, sotonya…

Sampai di BDWS sudah pukul 18.00. Tidak ada perbedaan waktu antara JKT & BDWS. Cuma jadwal sholat-nya saja yg lebih maju.
Capek, lelah, lemes, mual. Tapi ternyata semua itu masih harus ditambah.
Sekitar pukul 20.30, Asha mulai rewel !! Ini yg nggak pernah terpikirkan oleh Tiwi (persiapan sakit, obat-obat, mainan, dll sudah kami cover sebelumnya, tp masalah mental, ternyata kami kurang memperhatikannya). Disangkanya kami harnya bertamu. Asha minta pulang…
Nggak berhasil mengalihkan perhatiannya, akhirnya dia menangis kejer…

Tiwi dan Ibu sudah tidak bisa lagi menahan untuk nggak ikut menangis. Kasian melihatnya… plus, kami tidak tahu harus berbuat apa. Sebelum akhirnya kami putuskan untuk membawa dia berkeliling dengan mobil, karena kelihatannya Asha sudah mengantuk.
Alhamdulillah, setelah putar-putar kota BDWS, akhirnya Asha tertidur. Satu hari terlewati… 😀

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Urusan packing adalah urusan yang paling bisa bikin Tiwi panik. Tiwi bukan tipe orang yg suka kalo’ sesuatunya nggak berjalan sesuai rencana. Apalagi kalo’ urusannya kehilangan barang… Ribet !

Nah, supaya berjalan sesuai rencana, segala sesuatunya harus well-prepared tentunya. Dihitung berapa hari yang dihabiskan di sana, diskenariokan berapa pasang baju yg dibutuhkan per hari.
Tiwi nggak suka mencuci baju di rumah orang lain… Takut ketinggalan 😀

Urusan baju Asha, tantangannya lain lagi. Asha tuw baju sehari-harinya adalah baju kaos lusinan yg dibeli sejak dia masih di perut. Lgs beli banyak saat itu. Dan masih muat beberapa hingga sekarang. Tp jangan ditanya warnanya yaa… Mungkin yg tadinya putih, bisa jadi sudah berubah menjadi cokelat, bekas tumpahan makanan gak karu-karuan ada di mana-mana.
Makanya, untuk urusan baju Asha, tiwi lgs merencanakan ke Tanah Abang untuk (kembali) membeli kaos + celana lusinan untuk sehari-hari.

Alhamdulillah semuanya dimudahkan oleh Allah. THR tepat waktu, Tenabang yg tidak terlalu ramai di hari-hari awal Ramadhan, dan koper yang masih layak pakai sehingga tidak perlu membeli yg baru.
Urusan packing dimulai sejak hari ke-1 Ramadhan… :p

Urusan mainan Asha juga sempat membuat bingung. Karena mainan yg biasa dimainkan dia adalah mainan-mainan berukuran besar. Akhirnya, minggu kemarin berhasil mendapatkan versi kecil dari beberapa mainan favorit itu. Mudah-mudahan bisa bikin Asha tetep feels at home nantinya…

1 koper untuk pakaian Asha, 1 koper untuk Tiwi & Erwin, 1 Ransel untuk oleh-oleh (sepatu bow… ringan, tp makan tempat !), 1 Sling bag buat dibawa ke kabin (dompet, kamera, hp, dll yg printilan), 1 Travel bag untuk perlengkapan Asha (mainan, susu, pampers, dll)

Banyak ? Tp gpp deh, mudah2an pas pulang mah dikit… Soalnya kan banyak yg ditinggal di rumah ibu (kecuali dipaksa bawa oleh-oleh baliknya yaaa…)

Hari ke-20 Ramadhan, packing Alhamdulillah selesai. Sama Erwin sudah siap digembok koper-kopernya. Karena kalo’ ngga begitu katanya akan dibongkar lg sama Tiwi :p
Hekekekeke… Itu kan demi kalian juga, anak-anak… :p

Uang kecil untuk kebutuhan saweran juga sudah siap. Tiket sudah di-print. Kebutuhan untuk selama di perjalanan sudah masuk sling bag. Asha sudah simulasi mendorong-dorong koper.
Para asisten juga sudah berbenah. Bawaan mereka lebih gila-gilaan daripada kami sekeluarga. Urusan penitipan rumah juga sudah beres. Mudah-mudahan saat kami kembali rumah tetap dalam kondisi bersih dan rapi.

Do’akan perjalanan kami lancar yaa… Dan mudah-mudahan diberkahi Allah segala sesuatunya. Perjalanan ini diniatkan sebagai ibadah ke orang tua dan silaturahmi ke keluarga yg lain… Mudah-mudahan kami ikhlas ngejalaninnya yaa… 😀

Kami mengucapkan :

Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Jum’at , 12-Sept-2008 17:01:28

T-Sel Jbtk : “Pendaftar mudik pesawat Yth, Anda menang 2 bh tiket JKT-SBY. Harap hadir untuk registrasi pd Sabtu sd Senin 13-15/09/08, utk info alamat, ketik : INFO kirim ke 4050”

Bwakakakak… Alhamdulillah… Berawal dari kegiatan iseng dan diniatkan untuk kepentingan diri sendiri, ujung-ujungnya malah menjadi yang terpilih.

Sumpeee… seumur idup Tiwi, yang namanya dapet doorprize tuw bisa diitung dengan jari di satu tangan saja… Itu doorprize ! Mau yg pesertanya buanyaaakkk, smp yg cuma 20 orang.

Buat tiwi, yg namanya rejeki emang kaya’nya nggak diizinkan berasal dari model-model beginian 😀 kudu kerja keras…

Jadi Jum’at kemarin akan tiwi kenang sebagai salah satu kejadian unik di kehidupan Tiwi.

Diantara lebih dari 50jt pelanggan operator tersebut (klaim mereka di iklan-iklan lho..) Tiwi menjadi salah satu yang beruntung…

Sayangnya, emang tetep belum rejeki. Tiwi terpaksa “menolak” hadiah Lebaran itu. Karena tiwi dan keluarga sudah punya tiket PP yang dibeli jauh-jauh hari sebelumnya.

Mudah-mudahan Tsel beneran memberikan jatah Tiwi kepada pelanggan terpilih lainnya supaya nggak jadi kesia-siaan yaa… Amiiinn…

Uhuy… jadi pengen nyoba lagi kapan-kapan :p

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Masuk Ramadhan, sebentar lagi Syawal.

Tahun ini adalah tahun yang boleh dibilang menjadi tahun petualangan bagi Ramadhan Tiwi. Gimana nggak… setelah nyaris 20 tahun nggak kenal yang namanya MUDIK (sejak Mbah Akung dr pihak papa meninggal di tahun 1991, tiwi setia menjadi penjaga JKT di saat Lebaran…) tahun ini Tiwi akan menjalani ritual, yang buat orang Indonesia, akrab dengan bulan Ramadhan dan Syawal !! Pheewww…

Jauh-jauh dr Tiwi yaa komentar yang mempertanyakan, “Udah tau bakal ribet kalo’ mudik pas Lebaranan, kenapa juga nggak mudik di lain hari ajah” yaa… Karena jujur, sampai saat ini Tiwi juga masih bertanya-tanya masalah itu… Kek gak ada bulan selain Ramadhan/Syawal ajah yaa buat silaturahmi…
Maklum, gede di JKT, Alhamdulillah kalaupun waktu di kampus kudu ngalamin yg namanya mudik, tapi justru ngelawan arus… (meskipun setahun sekali dulu selalu minta jatah Argo Gede ke papa sih… Hihihihi…)

Balik ke mudik. Karena ini mudik pertama, persiapannya juga sudah jauh-jauh hari. Yaa gimana nggak, biasanya jadi penonton keramaian yg terjadi di stasiun atau airport, tetapi kali ini harus menjalani… Gimana nggak stress… Takut kualat :p Karena biasanya cuma jadi penonton dan komentator pas nonton tipi 😀

Persiapan ke-1 : TIKET

Thanks to online technology…
Urusan tiket, Tiwi nggak mau gambling. Sejak bulan April 2008, sudah mulai berburu tiket-tiket pesawat secara online. Airasia dan Mandala jadi alternatif utama. Tetapi beberapa kali punya pengalaman delay dengan Airasia di bandara Juanda, akhirnya diputuskan mengambil Mandala. Mudah-mudahan nggak delay yaa… Karena mudik kali ini, ada anak kecil yang ikutan nih… 😀

Masalah tiket-tiketan ini juga berbuntut… Dari yg hanya memesan 2 tiket adult untuk Tiwi & Erwin dan 1 infant untuk Asha; dengan pertimbangan, Asha masih 24-bulan saat keberangkatan, sesuai dengan peraturannya kan… Tetapi di akhir-akhir menjadi berubah dengan menambah 1 tiket adult lagi untuk Asha.
Maklum, anak itu tingginya melebihi normal anak-anak seusianya. Takut ajah kalo’ nggak dipercaya dan ujung-ujungnya akan dipersulit di bandara. Apalagi Lebaran gitu, penuh tho pastinya…
Ya sudahlah… rejekimu yah, Nak. Pas banget ada rapelan kenaikan gaji di kantor 😀 (emang juga dibilang, enak tho hidup pas-pas-an… :p)

Urusan tiket beres. Untuk keluarga kami… :p Alhamdulillah…

Masalahnya, ada 2 asisten yang menjadi tanggungan kami. Dan apalagi untuk mereka, momen lebaran mah sudah pasti jadi waktu mereka pulang kampung… Sekali setahun.
Asisten-1, DONE. Karena ada kakak-nya di JKT. Jadi urusan tiket ditanggung kakak-nya. Tinggal re-imburse saja ke Tiwi nantinya… 😀

Asisten-2, RIBET. Huhuhuhu… cobaan bgt dah…
Nih Asisten dulunya ikut keluarga Erwin. Ruamhnya depan belakang sama ibu. Artinya, satu lingkungan dengan tujuan mudik Tiwi, kan ?! Tapi paraahhh… nggak mau diajak naik pesawat ! Padahal kan enak buat Tiwi, tinggak klak-klik. Nggak mau tapi dianya. Mau dipaksain dipesankan, takutnya nanti pas mau take-off malah jejeritan nggak karu-karuan. Kan repot… Sampe’ kepikiran mau suntik bius dia dulu tadinya 😀 Terinspirasi film The-A-Team.

Sang asisten memilih naik bus. Tapi Tiwi & Erwin nggak tega. Memikirkan kemacetan dan keribetan di terminal saja sudah membuat kami pusing.
Akhirnya diputuskan naik Kereta Api. Dan hambatannya adalah ?! Tentu saja proses pemesanan tiket. Tau sendiri KAI, rawan calo !!

Strategi disusun. Karena nantinya dia akan se-mobil kembali bersama kami di SBY menuju Bondowoso (BDWS) yang berjarak tempuh 5-6 jam perjalanan dengan mobil. Artinya, KA yang dipilih harus H-1 dari keberangkatan kami. Jadilah, sejak sebulan sebelum pemesanan dibuka (H-30 adalah tenggat KAI untuk pemesanan). Hubungan dengan para Office Boy kantor pun dibuka… 😀
Tiwi nggak mau mengandalkan hanya 1 jalan saja untuk memperoleh tiket. Kasian asisten kalo’ sampai nggak dapat… Sehari-hari dia sudah mau dititipkan penjagaan Asha, mosok masalah nyari tiket saja sampe’ nggak berhasil.
Akhirnya, pada hari H pemesanan, 2 tiket didapat… 😀 Means, masalah baru buat Tiwi… Menjual 1 tiket sisa. YM jadi andalan :p

Alhamdulillah, nggak sampai setengah hari sudah dapat pembeli. Yaa gimana nggak, untuk hari keberangkatan asisten, katanya harga tiket di Gambir (di tangan calo) sudah mencapai 700rb !! Edan…
Walaupun sempat beberapa kali sakit hati karena dibilang calo lebaranan juga. Huhuhuhu… :p

Kalo’ kata teman-teman di sini, Tiwi terlalu baik. Mau bersusah payah mencarikan dan direpotkan masalah tiket asisten. Seharusnya biar saja mereka yg mencari cara untuk pulang…
Taelah, kalo’ cara itu Tiwi jalankan, Tiwi yakin tuw asisten sampe’ ke Gambir ajah nggak deh kaya’nya… Secara daya jelajahnya cuma sampai Pasar Pondok Gede. Lhaa, gimana mau sampai ke BDWS :p

Gpp lah yaaa, itung-itung mempermudah urusan hamba Allah-lah… Dulu juga asisten mama malah biasanya diantar papa ke rumahnya. Kami sekeluarga berkendara mobil. Saking nggak punya kampung tuw kami ! Pengen ikut-ikut yg namanya mudik :p

Urusan tiket DONE. (To Be Continued)