Tag Archives: Rumah

Analyze(r) !

Kalo’ pagi-pagi nggak heboh, itu mungkin rumah itu rumahnya penganten baru yg masih bulan madu, atau rumahnya pensiunan yang anak-anaknya sudah mandiri semua.
Karena rumah dengan 2 anak unyils, dengan Bapak dan Ibu yang bekerja, bisa dipastikan pagi hari – bahkan mulai sebelum adzan Subuh, sudah dipastikan harinya diawali dengan kehebohan.

Ada yang lucu dengan kehebohan di rumah kami kemarin.
Diawali dengan saya membangunkan asha untuk mandi, dan bersiap ke sekolah.

S : “Sha, bangun nak… Ayo mandi. Udah jam 7 lho, nanti kamu diabaikan. Udah siang ini, Nak…”

Dan jawaban asha adalah…
A : *dengan mata terpejam* “Ini masih pagi, ma… Tuh, papa aja masih tidur ! Artinya masih pagi !” (iya, memang saat itu Erwin masih tidur karena memang niat datang agak siang.)

See, kebiasaan asha ngeyel memang begini. Disertai dengan fakta. Zzzzz…
Dengan sedikit pemaksaan, saya gendong dia ke depan kamar mandi. Dan seperti biasa, kalo’ asha ngambek, dia nggak bakal mau dimandikan oleh saya. Maka pengasuh-nya yang mengambil tanggung jawab itu.

Dialog di kamar mandi :
A : “Kenapa sih Wi, asha harus sekolah ?”
Pengasuh (Uwi) : “Yaa anak-anak emang harus sekolah, nak.. Biar pinter. Kan asha mau jadi dokter kan ?” (ini doktrin dia lho, bukan saya !)
A : *diem sebentar* “Emang Uwi dulu juga sekolah ?”
Uwi : “Iya dong, Uwi dulu sekolah pas masih kecil” *dengan nada bangga*
A : “Terus, sekarang Uwi jadi apa ??” *dengan nada tinggi pengen tau !”

Asli deh.. saya yang mendengarkan di luar sudah nggak sanggup nahan sakit perut karena ketawaan.
Dan emang pada dasarnya pengasuhnya juga Ratu Ngeyel, masih diladenin itu anak kecil…
Uwi : “Sekarang kan Uwi jadi PA nih, Sha… Pengasuh Anak ! Sama PD, Pengurus Dapur !”

Hahaha… Makin ngakak nggak karu-karuan deh saya.
Duh nak… nak…
Dengan tingkat ke-kritisan dan analisa kamu yang kadang di luar perkiraan, mama doain yaa Nak. Suatu saat kamu baca ini, mama mau kamu tau.
Insya Allah, kamu akan jadi anak pintar yang disayang Allah, yang berguna buat membantu orang banyak di sekelilingmu yaa. Mau jadi apapun itu.
Jangan bikin kecerdasanmu itu untuk “minteri” orang lain yaa, Nak. Bukan seperti itu anak mama…

Love you, Kiddo.

Kolam

Sekarang kalo’ bangun tidur pagi-pagi, ada rutinitas baru setelah keluar kamar… Nongkrong di teras belakang, sambil ngedengerin suara air, sama ngeliatin ikan yang pada mondar-mandir… It’s one of the best way for starting the day.
Kek jagoan kung-fu yang lagi meditasi 😀

‘Ma kasih, Pak Pon…
‘Ma kasih, mas… Rumah tumbuh kita sudah nambah lagi asesorisnya sekarang 😀

“Sha, kolam-nya sudah jadi, nak ! tapi itu kolam ikan, bukan kolam kamu” :p

kolam ikan asha

Pondok Gede [1]

(Terilhami setelah membaca postingan di sini)

Sejak 1983, kami sekeluarga pindah dari kawasan Lenteng Agung, Pasar Minggu, ke daerah yang bernama Pondok Gede.
Daerah yang pada waktu itu masih berupa daerah yang seperti baru dibuka untuk ditinggali. Bahkan tiwi masih ingat, saat pindahan, truk pembawa barang harus melewati jalan utama yang masih berbatu-batu kali kasar. Bahkan belum diaspal ! Apalagi mengenal teknologi pelapis hot mix 😀

Akibatnya, di tahun-tahun awal pindah, rumah kami selalu merupakan pilihan terakhir untuk dijadikan tempat acara-acara keluarga ! Hehehe…. memang saat itu Pondok Gede belum terkenal akan kemacetannya seperti sekarang, tapi jalanan ala era The Flinstones-nya memang akan membuat siapapun, dengan jenis kendaraan apapun merasa malas untuk melewatinya…

Lalu, kenapa ke Pondok Gede ?! Alasannya sederhana saja.
Karena saat itu, perusahaan tempat papa bekerja, menyediakan fasilitas untuk memiliki rumah bagi pegawainya dalam satu perumahan yang letak tanahnya di Pondok Gede 😀

Kalau saat ini tiwi ditanya : “Tinggal dimana, wi ?!”
Akan agak sulit menjawabnya. Karena lokasi Pondok Gede sendiri memang merupakan daerah antara 😀 Iyaa.. daerah antara Jakarta dan Bekasi, Jawa Barat. Batasnya pun hanya tipis, hanya sebuah sungai kecil (yang baru tiwi tahu juga bahwa namanya Kali Sunter) yang melintasi kawasan Jatiwarna dan Molek di sisi arah TMII-Lubang Buaya, dan jalan layang di atas jalan tol Cikampek di sisi arah Kalimalang.

Jl. Raya Pondok Gede sendiri memang melintasi 2 (dua) propinsi. Karena jalan yang dimulai (atau malah berakhir) di kawasan TMII tersebut terbentang hingga kawasan Pasar Pondok Gede.
Sungai-nya sendiri terletak lebih dekat ke kawasan Bekasi, yang membuat Jl. Raya Pondok Gede bagian Jakarta lebih panjang daripada bagian Jawa Barat-nya.
Tapi wilayah Pondok Gede sendiri secara keseluruhan, memang lebih besar di wilayah Bekasi, Jawa Barat-nya.

Kalo’ pertanyaan tadi dijawab dengan, “Pondok Gede”.
Pasti akan ada komentar tambahan dari si penanya yang memerlukan penjelasan lebih panjang lagi. Seperti ini : “Hah, jauh banget, wi… Bekasi sana kan ?!”
Hmm… iya sih, secara resmi yang tertulis di KTP memang Pondok Gede masuk ke wilayah Bekasi. Tapi untuk menuju rumah tiwi, akan lebih mudah dicapai melalui Jakarta.
Bahkan supaya resmi boleh dibilang warga Bekasi, tiwi pernah coba-coba untuk mencoba moda transportasi KRL dari Gambir ke stasiun Bekasi yang memang berada di pusat Kota Bekasi, dan ternyata memakan waktu lebih lama untuk sampai di rumah dari stasiun tersebut, ketimbang memilih jalur tol Pondok Gede Barat yang masih merupakan bagian Jakarta, atau malah tol TMII.

Satu hal lagi yang tiwi masih ingat sampai sekarang, waktu kantor pos Pondok Gede baru dibuka di dekat perumahan kami, Pak Pos-nya pernah memberi petunjuk penulisan alamat agar memudahkan pengantaran surat maupun paket apapun yang ditujukan kepada kami.
“Tulis saja, Pondok Gede 1741X yaa.. jangan Bekasi 1741X ! Nanti malah akan lama sampainya, karena dikirimkan ke Kantor Pos pusat di Bekasi dulu… Muter-muter malah nanti kirimannya !”

Entah bagaimana SOP yang sebenarnya tentang pengiriman surat atau paket, tapi kata-kata itu terbawa di pemikiran Tiwi sampai saat ini.
Penulisan alamat tiwi jika diminta, pasti : Komp. ABCD, Jati, Pondok Gede 1741X.
Kecuali memang tersedia kolom Kabupaten atau Propinsi di formulirnya.

(Nanti lagi yaa…)

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Tiwi paling seneng dengan yang namanya quotes. Mau romantic quotes, wisdom, motivation, apa ajah lah… Berasa adem ajah kalo’ baca quotes.

Jaman-jaman SMA, bersama Dian sepulang sekolah, kami paling suka “menunggu” di Gramedia, atau Familia. Menunggu apa ?! Yaa menunggu jeda antara sekolah dengan les biasanya.

Dan di kedua tempat itu, biasanya kami hunting ke tempat-tempat kartu ucapan. Buat apa ? Untuk menghapalkan isi-isi kartu-nya Hallmark, dan kawan-kawannya itu. Ada yang isinya hanya sebatas quotes, ada yang puisi yg lumayan panjang…

Kan tertulis bahwa kita dilarang “menuliskan” atau “mengambil gambar” dari kartu-kartu itu… Tapi nggak ada yg melarang buat menghapal, tho ?! Hehehe…

Satu yang paling masih bisa Tiwi hapal sampai saat ini adalah puisi tentang “HOME”. Puisi ini panjang banget. Tiwi ingat, butuh beberapa kali bolak-balik ke tempat kartu untuk bisa hapal keseluruhan isi.

Niat yaa ?! Abis bagus banget… 😀

Tadi pagi, berusaha menghapalkan lagi sampai bait terakhir, ternyata ada yang lupa-lupa… Sampai akhirnya penasaran dan minta tolong sama Google :p

Dan hasilnya ini :

What is a Home?

A home is a place
where you know you belong
A place to relax
while the world moves along

A home is a place
that you look at with pride
Loving each room
and people inside

A home is a place
where your heart feels at rest
A place filled with sunshine
and all you love best

Bagus yaa…
Konsep Tiwi tentang sebuah rumah, memang harus selalu seperti ini.
Ngangenin… selalu bikin penghuni-penghuninya pengen pulang terus…

(bersambung)

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Menyambung entry sebelumnya, ada latar belakang unik juga kenapa buat tiwi mendapatkan telepon rumah itu adalah sebuah kemewahan… (selain karena haru menempuh prosesnya yg ribet yaa…)

Dulu, sejak pindah ke Pondok Gede di tahun 1983, hingga tiwi lulus SD, rumah kami belum dilewati tiang telepon milik TELKOM. Boro-boro dilewati tiang TELKOM yaa, wong mesin giling ajah kaya’nya baru menginjak Pondok Gede tuh sekitar tiwi SD deh… Dulu jalanannya rusak banget deh !!

Nah, yang paling tiwi ingat, karena rumah kami yg sangat jauh itu (jaman dulu yaa :p), kalo’ papa dan mama ingin memanjakan kami dengan berbelanja di Ratu Plaza (duuhhh… dulu itu Ratu Plaza udah keren banget deh kaya’nya) atau ke Melawai-Blok M, kami pasti janjian melalui telepon umum. Telepon papa siang-siang, untuk konfirmasi kami jadi atau tidak ke kota… (iyaaa kantor papa kan di daerah Thamrin, kota tho !?). Saking seringnya diajak mama telepon melalui telepon umum koin yg sistem putar itu lho.. hingga sekarang nomor telepon kantor papa itu tercantol di kepala, 333-409 ! Hanya 6 digit saja…

Ada pengalaman paling mengharukan juga buat kami. Saat mama menunaikan ibadah haji di tahun 1992, atau saat itu tiwi sudah kelas 2 SMP. Dan tetap, rumah kami belum dilewati jaringan TELKOM ! Bor-boro kenal teknologi handphone seperti sekarang yaa, telepon rumah aja belum ada… Kasian yaa…
Jadi, kalo’ mama sedang kangen ingin mendengar suara anak-anaknya, mama telepon papa di kantor sebelum weekend untuk janjian. Naahh… di hari Sabtu atau Minggu yang disepakati, kami ke rumah uwa atau mbah di Pasar Minggu untuk menunggu telepon dari mama. Bayangin, ribet sekali dunia jaman dulu yaa…

Tapi kisah paling menyedihkan yang bisa tiwi ingat tentang telepon rumah adalah, saat tiwi kelas 6 SD. Ada kejadian kriminal yg menimpa tetangga persis sebelah rumah tiwi. Keluarga itu sudah seperti keluarga bagi kami. Saat musibah itu terjadi, siang-siang mama menjadi orang ke-dua yang tau. Bayangkan, perumahan tempat kami tinggal adalah perumahan kantor, yg isinya hanya anak-anak dan ibu-ibu saja di siang hari (iyaa saat itu, kalo’ sekarang malah isinya banyak bapak-bapaknya.. :D), ditimpa peristiwa kriminal. Yang pernah kebayang saja oleh kami bakal kejadian ajah sepertinya nggak !

Hal pertama yg mama lakukan saat itu adalah mencari telepon terdekat untuk memberi tahukan kabar itu kepada suami tetangga kami tersebut di kantor. Tahu apa yg mama lakukan ? Mama berlari sekitar 2 km menuju toko material terdekat, yg merupakan tempat terdekat yg bisa ditemui yg memiliki telepon untuk dipinjam. Baru sadar setelah memutuskan hubungan dan memberitakannya, ternyata selama berlari, mama tidak memakai alas kaki !! Masya Allah

Mbah uti di Malang meninggal dikabarkan melalui sepupu papa di Tebet, tiwi kelas 6 SD. Mbah akung di Malang meninggal dikabarkan melalui rumah mbah di Pasar Minggu sewaktu tiwi SMP….
Nggak heran sewaktu dikabarkan jaringan TELKOM masuk ke komplek kami (tiwi malah lupa detailnya tahun berapa), antriannya benar-benar menggila di loket… Sepertinya hari ini semua bapak-bapaknya ijin tidak masuk kerja 😀

Mungkin cerita-cerita itu juga yg mendorong tiwi masuk ke dunia telekomunikasi yaa… :p
(Yaaa… nggak lah… wong masuk Teknik Elektro-nya saja nggak direncanakan :D)

-selesai-