Tag Archives: sekolah

Kualat

Yang namanya kualat itu, kaya’nya bisa digambarkan seperti percakapan pagi tadi antara saya dengan asha.
Setting-nya pagi hari. Hujan di luar. Saya sedang ngedusel-dusel asha supaya bangun dan mandi sebenarnya. Tapi saya menggoda dia dengan gini :

“Sha, dingin yaa..?! Hujan lho nak di luar. Enak yaa sha buat bobo-an lagi.” sambil peluk dia.

sambil senyum, dijawab gini sama anak unyil-nya :

“Ma, tapi kan asha harus SEKOLAH !” yang terus bergegas bangun dah ngambil susu UHT jatah pagi harinya.

#jleb #jleb #jleb

to SD or not to SD ?

Hehehe, judul yang aneh ya ? Biar deh. Orang lagi pengen cerita. Bukan lagi pengen pusing sama judulnya doang 😀

Jadi, sekarang kan Asha alhamdulillah sudah TK B. Seharusnya, kalo’ mengikuti hirarki pendidikan resmi, tahun depan, dia sudah jadi siswa SD (hayah, dah gede banget yaa kamu, nduk).
Persiapan anak pindah dari TK ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA yang perlu diwaspadai orang tua-nya, yang paling penting adalah budget. Dan ngomongin budget, tentunya sudah harus dengan calon-calon sekolah untuk anak yang kita pengenin.

Pertanyaan selanjutnya, sekolah mana sih yang saya dan suami inginkan untuk anak-anak ?
Jawabannya sih pasti standarlah semua orang tua di belahan bumi manapun yaa… Sekolah yang Terbaik untuk anak-anaknya.
Sedangkan Terbaik itu sendiri kan subjektif. Menurut saya terbaik, belum tentu menurut teman saya terbaik juga kan ? 😀
Kalo’ menurut salah seorang teman yang memiliki ilmu psikologi, sekolah bisa dibilang terbaik, salah satu parameternya adalah sekolah yang bisa memenuhi ekspektasi orang tua-nya terhadap pola didik yang mereka inginkan terhadap anak-anak-nya. Gitu katanya..
Kalo’ untuk kasus saya, bolehlah terbaik itu ditambahkan sebagai : jarak yang dekat dari rumah (karena cah wedhok-nya kalo’ bangun pagi itu ampun deh cara ngebanguninnya), kurikulum yang tidak terlalu menyiksa (full-day school itu jelas tidak akan saya pilih untuk asha atau gie), berbanding lurus antara apa yang sudah saya bayarkan, dengan apa yang anak-anak saya dapatkan. Jadi bukan suatu masalah juga kalo’ memang standar SPP-nya agak di atas rata-rata, asalkan fasilitas sekolah itu lengkap-kap-kap. Seperti TK-nya sekarang yang saya pilih, cuma karena playground-nya bagus dan ada kolam renangnya ! Hehehehe…

Balik ke konsep keselarasan pola didik, jadi yaa, kalo’ emang di rumah dititik beratkan ke konsep tanya-jawab-analisa, usahakan pada saat survey sekolah, hal itu dititik beratkan. Atau kalo’ di rumah dititik beratkan ke konsep study hard, play harder, yaa itu juga kudu ditelaah lebih lanjut (mulai kaya’ skripsi yaa bahasanya :p)

Sebagai orang tua yang tergolong perfeksionis (sebelom jadi orang tua juga udah gitu sih !), alhamdulillah untuk urusan biaya sekolah asha, sudah disiapkan sejak anaknya belom lahir pun 😀 sampe dulu tuh suka bikin teller bank-nya cengar-cengir.
Untuk urusan survey sekolah, sejak asha mau masuk TK juga sudah sekalian melakukan survey SD-nya. Dengan pertimbangan, biasa-nya akan ada potongan harga dan prioritas pada saat penerimaan kan ?
Survey lanjutan saya cicil dengan mengambil cuti 1 hari per bulan. Dengan target mengunjungi 2 SD per hari-nya. Alhamdulillah, di SD Al-Marjan yang menjadi salah satu pilihan teratas, saya bisa bertemu dengan kepala sekolahnya, dan ngobrol banyak dan makin haq-qul yakin. Cuuusss… jadilah Al-Marjan menjadi prioritas utama.

Nah, pada saat pilihan ditentukan, ternyata sekolah ini mensyaratkan hasil uji psikologis terhadap calon siswa. Kami diberikan list of psikolog rujukan. Alhamdulillah, salah satu psikolog senior yang ada di list, merupakan pemilik lembaga psikolog saya saat SD. Jadi yaa akhirnya asha dijadwalkan ke sana.

Pada saat bertemu dengan psikolognya pertama kali, eyang (psikolog itu kami panggil) sudah ngasih #kode. Sepertinya anak ini masih terlalu kecil dari sisi attitude untuk bisa ke SD. Tapi karena baru kesan di pertemuan pertama, akhirnya asha malah dijadwalkan untuk mengikuti taman bermain yang ada di rumahnya setiap 2x seminggu. Alhamdulillah, ada beberapa perubahan signifikan sejak asha mengikuti konseling teratur tersebut.

Tetapi setelah jalan 2 bulan, kesimpulan saya dan eyang juga sama.
Asha masih ingin banyak bermain. Dan saya sebagai orang tua sepertinya juga tidak akan tega memaksakan dia ke SD, yang punya konsekuensi jadwal lebih teratur, pelajaran yanglebih serius, kosakata yang makin njelimet, waktu bermain tentunya lebih sedikit lah yaa…

Jadi untuk sementara ini, sepertinya skenario untuk tahun depan, asha akan dibiarkan mengulang TK B-nya lagi supaya terpuaskan keinginannya bermain-main 🙂 Umur-mu juga masih belum “wajib” SD yaa nak…
Tadinya, karena di kantor seperti dikondisikan, sekeliling saya adalah anak-anak dengan usia sama. Range 5-6 tahunan. Dan sama-sama sedang mencari SD untuk anak-anaknya. Saya merasa, “nggak OK” nih kalo’ asha nggak SD juga.
Tetapi kalo’ dipikir lebih dalam, saya teringat pernah membaca, kebahagiaan anak itu harus dijadikan landasan dalam setiap keputusan yang menyangkut mereka. Memaksakan asha ke SD kok seperti membuat dia terbebani dengan tanggung jawab yang belum waktunya dia pikul yaa… Takutnya nanti dia malah nggak enjoy dalam menjalani hidupnya. Dan malah kehilangan moment anak-anaknya.

Kami masih punya sekitar 4 bulan untuk memutuskan sih… Akan kami evaluasi lagi semua kemungkinan itu, karena tetap, proses drilling asha juga masih berlangsung tiap malam.
Every children is different. That’s why we shouldn’t give each of them the same treatment right ?

We only want to make sure that you both are happy to be our kiddos. Love you !