Tag Archives: telepon

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Menyambung entry sebelumnya, ada latar belakang unik juga kenapa buat tiwi mendapatkan telepon rumah itu adalah sebuah kemewahan… (selain karena haru menempuh prosesnya yg ribet yaa…)

Dulu, sejak pindah ke Pondok Gede di tahun 1983, hingga tiwi lulus SD, rumah kami belum dilewati tiang telepon milik TELKOM. Boro-boro dilewati tiang TELKOM yaa, wong mesin giling ajah kaya’nya baru menginjak Pondok Gede tuh sekitar tiwi SD deh… Dulu jalanannya rusak banget deh !!

Nah, yang paling tiwi ingat, karena rumah kami yg sangat jauh itu (jaman dulu yaa :p), kalo’ papa dan mama ingin memanjakan kami dengan berbelanja di Ratu Plaza (duuhhh… dulu itu Ratu Plaza udah keren banget deh kaya’nya) atau ke Melawai-Blok M, kami pasti janjian melalui telepon umum. Telepon papa siang-siang, untuk konfirmasi kami jadi atau tidak ke kota… (iyaaa kantor papa kan di daerah Thamrin, kota tho !?). Saking seringnya diajak mama telepon melalui telepon umum koin yg sistem putar itu lho.. hingga sekarang nomor telepon kantor papa itu tercantol di kepala, 333-409 ! Hanya 6 digit saja…

Ada pengalaman paling mengharukan juga buat kami. Saat mama menunaikan ibadah haji di tahun 1992, atau saat itu tiwi sudah kelas 2 SMP. Dan tetap, rumah kami belum dilewati jaringan TELKOM ! Bor-boro kenal teknologi handphone seperti sekarang yaa, telepon rumah aja belum ada… Kasian yaa…
Jadi, kalo’ mama sedang kangen ingin mendengar suara anak-anaknya, mama telepon papa di kantor sebelum weekend untuk janjian. Naahh… di hari Sabtu atau Minggu yang disepakati, kami ke rumah uwa atau mbah di Pasar Minggu untuk menunggu telepon dari mama. Bayangin, ribet sekali dunia jaman dulu yaa…

Tapi kisah paling menyedihkan yang bisa tiwi ingat tentang telepon rumah adalah, saat tiwi kelas 6 SD. Ada kejadian kriminal yg menimpa tetangga persis sebelah rumah tiwi. Keluarga itu sudah seperti keluarga bagi kami. Saat musibah itu terjadi, siang-siang mama menjadi orang ke-dua yang tau. Bayangkan, perumahan tempat kami tinggal adalah perumahan kantor, yg isinya hanya anak-anak dan ibu-ibu saja di siang hari (iyaa saat itu, kalo’ sekarang malah isinya banyak bapak-bapaknya.. :D), ditimpa peristiwa kriminal. Yang pernah kebayang saja oleh kami bakal kejadian ajah sepertinya nggak !

Hal pertama yg mama lakukan saat itu adalah mencari telepon terdekat untuk memberi tahukan kabar itu kepada suami tetangga kami tersebut di kantor. Tahu apa yg mama lakukan ? Mama berlari sekitar 2 km menuju toko material terdekat, yg merupakan tempat terdekat yg bisa ditemui yg memiliki telepon untuk dipinjam. Baru sadar setelah memutuskan hubungan dan memberitakannya, ternyata selama berlari, mama tidak memakai alas kaki !! Masya Allah

Mbah uti di Malang meninggal dikabarkan melalui sepupu papa di Tebet, tiwi kelas 6 SD. Mbah akung di Malang meninggal dikabarkan melalui rumah mbah di Pasar Minggu sewaktu tiwi SMP….
Nggak heran sewaktu dikabarkan jaringan TELKOM masuk ke komplek kami (tiwi malah lupa detailnya tahun berapa), antriannya benar-benar menggila di loket… Sepertinya hari ini semua bapak-bapaknya ijin tidak masuk kerja 😀

Mungkin cerita-cerita itu juga yg mendorong tiwi masuk ke dunia telekomunikasi yaa… :p
(Yaaa… nggak lah… wong masuk Teknik Elektro-nya saja nggak direncanakan :D)

-selesai-

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Hehehehe… kalo’ memperhatikan Plurk tiwi beberapa hari ini, ada beberapa entry tentang proses penyambungan telepon tetap-nya Telkom di rumah kami. Kesannya norak yaa… kaya’ orang udik baru kenal telepon :))
Tetapi kaya’nya semua jg sudah tau kan kalo’ proses mendapatkan telepon rumah tuw dari dulu selalu sulit. Kalo’ emang nggak sudah nggak ada kapasitas jaringan, atau memang prosesnya dari TLKM yg lambat.
Makanya selalu mengharukan kalo’ bisa mendapatkan nomor telepon rumah… (huhuhuhu...kalo’ buat tiwi sih… :D)

Sudah 2 tahun kami menempati rumah ini. Alhamdulillah betah banget menempatinya…
Dari sejak rumah jadi, tiwi sudah mengajukan proposal ke erwin untuk memasang telepon rumah. Tapi selalu ditolak ! Alasannya lucu, “Duh ma, kita kan pernah diperlakukan kurang adil ama T****, ngapain jg kita masih baek mau ngebayar dia tiap bulan :D”

Hahahaha… kadang kamu lucu bianget kok mas…
Padahal alasan tiwi kan simple. Telepon rumah tuw bisa jadi semacam identitas penting untuk beberapa urusan. Pengajuan kredit ke bank misalnya. Nggak akan diterima nomor-nomor mobile, baik GSM, CDMA maupun FWA. Pasti nomor telepon rumah (kecuali sekarang sudah diterima oleh beberapa bank, nomor postpaid)

Berhubung nggak diridhoi suami, yo wis alhamdulillah, malah nggak perlu ngebudgetin tiap bulannya juga tho buat bayar abonemen 😀

Tetapi akhir-akhir ini ada beberapa urusan yg mengharuskan kami online dr rumah tiap malam. Meskipun kami sudah memiliki Modem Datacard dan beberapa nomor provider GSM yg mendukung HSDPA untuk urusan data, tetap saja, ntah karena letak rumah yg terlalu ndeso atau memang beton rumah kami yang terlalu tebal, kadang kualitas sinyal yg kami terima dari provider-provider tersebut juga nggak bisa dibilang bagus… Untuk me-load satu halaman web saja, butuh waktu bermenit-menit… Padahal menunggu itu kan membosankan tho ! Dan kami juga butuh koneksi untuk FTP-FTP… bukan hanya browsing !
Akhirnya diputuskan, kita daftar Pasang Baru (PSB) telepon rumah + Speedy !! Mumpung lg promo juga sih…

Proses kita coba ikuti sesuai yg diketahui oleh orang awam. Telepon ke 147. Daftar melalui telepon. Verifikasi data. Selesai. Parahnya, lupa menanyakan nomor registrasi =)) Tiwi…tiwi… duduls !!
Akhirnya, kembali ke cara konvensional. Datang ke Plasa Telkom.
Karena untuk daerah rumah walaupun masuk Bekasi, tetapi sentral yg kami ketahui tetap masuk ke Datel Timur, kami pergi minggu kemarin ke daerah Prumpung. Mendaftar. Didapatlah nomor registrasi.
Sadar akan stigma buruk akan pelayanan yg lambat, tiwi nggak mau menunggu ajah dong… Wong lagi butuh juga jee
Sabtu pagi mendaftar, Sabtu sore udah nongkrong di pos keamanan STO Pondok Gede. Mencoba peruntungan mencari orang jaringan yang bisa diajak ngobrol besok-besok:D Alhamdulillah dapat satu contact person.

Hingga hari Selasa, tiwi pantau progressnya ke 147 nggak ada update apapun. “Sedang dalam proses…” Selalu begitu statusnya…
Sudah sadar akan konsekuensi ini, dan sudah tau bahwa teman-teman 147 hanyalah operator, bukan pemegang otoritas tindakan, contact person pun dihubungi.
Hehehe.. ngobrol hilir mudik dengan bahasa-bahasa khas yg sudah sangat tiwi kenal, akhirnya si Bapak sadar, bahwa dia sedang berhubungan dengan orang dr dunia yg sama. Obrolan pun jadi semakin enak dan lancar… Alhamdulillah…
Rabu ada tim survey yang memastikan ada titik di kotak drop point yg masih idle, lgs direserved. Kamis, mama membantu kami melakukan pembayaran, Kamis sore jg kabel ditarik ke rumah. Jum’at dilakukan instalasi IKR hingga telepon Kring.
Alhamdulillah… hanya 3 hari sebenarnya waktu yg dibutuhkan untuk melakukan hal tersebut… Kenapa diperlama yaa ?!
Tadi pagi giliran instalasi Speedy dilakukan. Sayangnya, hingga malam ini koneksinya belum bisa ditest, karena setelah menghubungi teman-teman di Speedy, ternyata port pada modul yg digunakan untuk nomor rumah sedang ada gangguan perangkat !! (bow… nasibnya…) Mereka menjanjikan Senin baru bisa normal. Lama yaa..?! Yuuhuuu… sesuai SLA nggak sih itu ?
Wallahua’lam yaa.. 😀 ditunggu saja lah…

Pokoknya sekarang identitas rumah kami sudah lengkap. Sudah ada nomor rumah, ada RT/RW, ada nomor PBB, ada nomor pelanggan PLN dan ada nomor telepon rumahnya jg lho !!
Hehehe… Alhamdulillah…