Category Archives: General

Perpanjangan SIM C itu Mudah ! #gaya [@Polres Metro Bekasi]

Menunaikan amanah dari suami nih… Disuruh “menyebarkan” kemudahan proses perpanjangan SIM di Twitter, blog, status FB, dll πŸ˜€
Supaya nggak lagi ada percalo-an di lembaga-lembaga pemerintahan, katanya… πŸ™‚

Iyaaa, karena tanggal 5 April ini SIM C saya habis masa berlakunya… (iyaa…. ma kasihhh buat ucapannya :p), jadilah “terpaksa” kudu sowan ke Polres Metro Bekasi.
Kenapa saya bilang “terpaksa” ? Karena jujur, saya nggak pernah suka berurusan dengan lembaga pemerintahan. Apapun jenisnya. Apalagi berhubungan dengan instansi berseragam πŸ™ Keder duluan bawaannya…

Dari pertama kali saya punya SIM, itu tahun 1995 kalo’ nggak salah; proses pembuatan SIM saya baik yang baruΒ  maupun perpanjangan selalu memakai jasa calo ! :p (mau itu calo “cabutan pas udah di lokasi, atau pake’ kebaikan agen biro jasa :D).
Gitu kok yaa bangga yaa πŸ˜€ Yaa abis, mau gimana lagi… Waktu saya terbatas soalnya.

Nah, kemarin itu saya juga sudah koordinasi dengan agen biro jasa tempat saya biasa minta tolong. Sudah janjian juga jam 9 pagi di Polres. Tapi ternyata siang-siang agen-nya telepon, dan bilang kalo’ Sabtu itu, kepolisian statusnya “steril”. Artinya, bahkan biro jasa pun nggak boleh “nongkrong” di situ.

Tapi dipikir-pikir… weekend kemarin kami nggak ada rencana yang serius. Dan kata-kata “steril” sepertinya bermakna, kantor polisi bakal lebih sepi kan… Karena bakal nggak ada biro jasa, calo, dll.
Ngajuin proposal ke suami deh, kalo’ Sabtu pagi bakalan ngilang sebentar ke Polres. Tapi ternyata beliau malah menyanggupi mengantar πŸ˜€ Alhamdulillah…

Dari Jum’at malam saya udah browsing-browsing, bagaimana situasi yang akan saya hadapi, berapa biaya yang kira-kira harus saya bayar, dll.
Ada satu link yang bikin saya optimis, bahwa pembuatan SIM perpanjangan itu cuma akan memakan waktu “40 menit” dihitung dari memarkir motor. Makin optimis deh ! Berangkaaaatt !

Polres Metro Bekasi

Polres Metro Bekasi

Polres buka pukul 08.00 WIB. Saya berusaha supaya jam 8 sudah ada di sana. Tapi ternyata meleset, 45 menit πŸ˜€
8.45 baru masuk ke area pelayanan SIM.
Itu juga, karena nggak tau alur prosedur yang harus dijalankan, saya terpaksa memutar kembali ke luar. Karena ternyata, sebelum membeli formulir di BRI, kita harus berbekal Surat Keterangan Kesehatan dari Dokter Polisi. Di Polres Bekasi letaknya kok yaa terpisah dari komplek pelayanan SIM. Harus keluar pagar dulu, lalu melewati jalan kecil. Padahal kalo’ pagar di sebelah loket dibuka, letak dokter-nya itu deket banget lho !
O iya, jangan lupa juga, siapkan fotocopy KTP yang masih berlaku dan SIM C lama yang mau diperpanjang. Untuk KTP, boleh agak banyak dibanding SIM-nya copy-annya.

Setelah membayar Rp 22K, kita akan diberi kwitansi dan keterangan “lolos” screening. Karena memang kita ditest juga oleh dokternya, minimal test buta warna pake’ lembaran bulet-bulet yang beda warna itu lho…

Sumpah deh, kalo’ kemarin nggak sama Erwin, mungkin saya sudah memakai jasa calo yang ternyata masih seliweran di sekitar dokter polisi itu. Ditawarkan Rp 200K + 1 jam, SIM C saya sudah jadi. Tapi diomelin suami πŸ˜€ “Katanya mau nyoba bikin sendiri… udah nggak usah pake’ calo lah. Nggak buru-buru juga kan kita ?!” Baeklah… Mundur teraturlah saya… :p

Masuk kembali ke lokasi pembuatan SIM. Langsung menuju loket BRI untuk membeli formulir. Tapi lagi-lagi dialihkan dulu ke loket sebelah, untuk membeli “premi” asuransi. Huduww, semalem sih baca-baca, asuransi ini seharusnya bisa kita abaikan yaa, karena nggak wajib. Tapi daripada kudu bersitegang, mari dijalani. Rp 30K untuk premi asuransi SIM C. Baru setelah itu kita boleh membeli formulir perpanjangan SIM C di BRI. Rp 75K. Sesuai sama gambar yang memang dipajang di ruang tunggu.

Tarif Pembuatan SIM - Image : http://bloggercikarang.com

Tarif Pembuatan SIM - - Image : http://bloggercikarang.com

Setelah mendapat formulir, lalu dilengkapi sesuai petunjuk yang ditempel di meja pengisian. Tapi isi-nya memang sederhana banget kok. Saya cuma butuh sekitar 10 menit untuk sampai memastikan isian saya sudah benar.
Setelah itu, diserahkan ke loket Penyerahan Formulir sesuai tipe SIM yang mau kita urus.
Lalu kita akan dapat nomor antrian foto, dan setelah itu bisa menunggu dipanggil pak polisi (biasanya yang manggil ibu polisi nih, karena dari pengalaman mengurus SIM yang jedanya 5 tahunan, selalu beliau terus. Tapi kali ini udah pensiun sepertinya yang bersangkutan)

Saya menunggu sekitar 10-15 menit sebelum dipanggil foto. Lumayan ramai padahal hari Sabtu kemarin. Tapi sepertinya kebanyakan pembuatan SIM baru. Karena antrian foto-nya cuma sebentar.
Setelah masuk ke ruang foto, penyamaan identitas berlangsung secara dialog. Pastikan alamat, tanggal lahir, dan data-data lain sudah benar. “Klik” foto diambil, tanda tangan di scanner, cap jempol kedua tangan. Lalu keluar lagi ke ruang tunggu untuk menunggu SIM-nya jadi.

10 menit kemudian saya sudah dipanggil lagi. Voila… Jadilah SIM C baru saya untuk 5 tahun ke depan.
Hanya Rp 127K, dan total jenderal waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 45 menit dari pertama saya datang (sudah termasuk jalan memutar itu) !! Wohohoho.. ini SIM saya yang termurah dan tercepat ! Beda-nya lumayan yaa dibanding memakai biro jasa !
Nggak henti-henti hari Sabtu kemarin, saya senyum-senyum ke Bapak-bapak polisi yang saya lewati pas keluar. Dan bilang terima kasih nggak ada habisnya πŸ˜€
Ini “keajaiban” buat saya ! Hehehe… Setelah melalui sendiri, saya dan Erwin memutuskan, besok-besok pengen perpanjang SIM A maupun SIM C kami sendiri lagi :p
Mudah-mudahan pas lagi “steril” lagi kepolisiannya yaa…

Terima kasih, PolRI !!

PS : Back drop foto-nya tuh bakalan kain berwarna biru tua ! Jadi pastikan memakai baju atau jilbab (kalo’ yang pake’) itu yang berwarna terang yaa… Supaya muka-nya keliatan :p

Menulis ? Nggak Susah kok…

Gaya banget yaa judulnya πŸ˜€ Nggak kok, menulis yang dimaksud dalam judul di atas itu, menulis dengan konteks sangat sederhana. Bukan menulis sebuah buku yang sampai diterbitin oleh penerbit terkenal gitu…
Kalo’ kaya’ gitu mah, tiwi juga belum pernah πŸ˜€

Jadi, tadi pagi, ada berkedip di Yahoo Messenger saya. Penanda ada window percakapan baru yang belum terbaca.
Saat saya baca, isinya cukup bisa membuat ngakak tapi juga ngenes
Begini :

“Mbak, bantuin dong.. Disuruh sekolahan anak nih bikin tulisan tentang profil si A. Gimana sih ?”

Balasan saya beneran nanya sih saat itu.

“Anak ? Anak siapa nih yang dimaksud ?”

Lansung disemprot :

“Yaaa, anak aku lah mbak… !”

Hah ! Gimana nggak takjub coba. Wong menuliskan profil anak sendiri, kok minta dibantuin orang lain.
Maksud tiwi, anak kita sendiri, seharusnya, yang lebih mengerti yaa kita sendiri tho ?
Tapi ternyata, bukan masalah dia nggak mengerti anaknya sih sebenernya. Cuma teman saya itu, tidak bisa menuangkannya ke dalam sebuah tulisan.

Mulailah bantuan didatangkan…
1. Saya bilang ke dia : “Kamu kan sering cerita ke aku, si A sekarang udah makan banyak lho, mbak.. si A kok susah nurutnya yaa, mbak…
Coba buka archive YM kamu ke aku, copy paste ke Ms Word. Yakin deh, itu udah bisa lebih dari 1 lembar A4″

2. “Dari lahir apa nggak yaa enaknya ? Abis pas baru lahir kan, selang dimana-mana waktu itu di badannya… Nanti aku sedih”
Supaya pembaca-nya nanti mengerti kenapa profil si A seperti itu, mending dituliskan tahap per tahap, dari sejak lahir sampai sekarang dia sebesar ini, nanti lak ada background, kenapa profil-nya bisa seperti itu…
3. Coba cari-cari foto si A yang paling berkesan buat kamu, terus cerita dari situ. Sertain juga ajah di tulisan untuk profil ini. Toh buat mading kan ? Nanti biar seru bacanya…

Belum sampai tuntas point-per-point dijembrengkan, datanglah berita bahagia itu…
“Nggak usah mbak, mas yang mau nulisin. Horee !”
Huuuu, dasar emang emak ndak mau repot :p

The moral of the story.
Menulis itu kan kadang menuliskan apa yang ada di kepala kita. Kalo’ bercerita ke teman itu menuangkan apa yang di kepala “orally”, nah menulis itu kan bercerita secara “writtenly” *embuh wis bener opo nggak grammar-nya, teuing nyak !*

Jangan bilang nggak bisa sebelum dicoba. Saat ini, banyak media belajar menulis yang bisa digunakan.
Facebook, Twitter, Foursquare. Semua bisa dijadikan tools untuk awal-awal belajar menulis. Menuangkan apa yang ada di kepala ke dalam bentuk tulisan.
Pernah tau ada nggak, ada lho, novel yang diterbitkan diambil dari “kicauan” sang penulis di media Twitter. Dikompilasi, diedit, voila, terbitlah novel yang tebalnya mengalahkan majalah mingguan πŸ™‚

Lagipula, hari gini. Kita nggak akan menghabiskan ber-rim-rim kertas kok untuk belajar menulis. Sudah ada Ms Word. Ada tombol [backspace] untuk men-delete.
Perkara-nya jaman sekarang ini, mau atau nggak. Itu ajah sih !

πŸ™‚

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Kalo’ Deny bilang :

“building a wall, one brick at a time”

Prinsip itu juga yang tiwi pake’ dalam “membangun”Β  sebuah dapur yang sesuai dengan keinginan Tiwi. Nggak perlu tuh tergesa-gesa tapi hasilnya nanti nggak “sreg” di hati. Pelan-pelan dipersiapkan, asal puas. Ya tho ?!

Baru dapet nih item perdana pengisi dapur masa depan :

Hehehehe… ma kasih yaa, mas !!

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Yaaa… untuk seorang internet addict seperti tiwi (nggak tau deh udah bisa dikategorikan addicted atau belum, lhaa wong jarang bgt buka youtube, rapidshare juga udah tobat… πŸ˜€ Tapi kalo’ disuruh seminggu tanpa internet juga bakal garuk-garuk dagu keknya :p);
Kapanpun ada info ada alternatif operator, service atau gadget yang akan lebih memudahkan dan memurahkan (yaa iyaa emak-emak, murah is a must !!) koneksi ke internet, pasti akan buka telinga lebar-lebar deh…
Apalagi kalo’ urusannya udah sama bundling segala, biasanya murah banget soalnya…:D

Naaahhh… ada yang barrrouuu nih dari Mobile-8. MOBI !!
Nggak, tiwi nggak bakalan promosi apa-apa kok di sini, wong Tiwi juga blum nyobain…
Cuma pengen sharing, bahwa ada yang baru…*grins* Sama deh kaya’ pas tiwi tau ada service lain atau aplikasi lain di internet…

Silahkan dicobain sendiri ajah yaaa….
Klaim-nya, kecepatan upload MOBI yang menggunakan teknologi CDMA EVDO Rev. A bisa mencapai 1,8 Mbps, kalo’ dibandingin dengan 3.5G-nya GSM, kecepatan upload-nya kadang hanya 384 kbps.
Paket bundlingnya emang hingga saat ini kaya’nya yg termurah yaa.. Rp 499.000 udah dapet datacard dan bonus quota 1 GB (nantinya ada yg versi USB kok isunya !)

Untuk lengkapnya… bisa dilihat di sini yaa… !!

mobi

Inget, tiwi cuma menyampaikan amanah. Isi layanan di luar tanggung jawab pemilik blog ini :p
Jadi kalo’ mo komen, komen ttg layanannya yaaa… bukan pemilik blog-nya =))

hackeD BY W0LF GH4M3D r0ot@hotmail.com !!!

Fiuuhh…. Berlalu sudah momen mudik kemarin. Alhamdulillah… Lega bgt rasanya sudah selesai urusan.
Mudiknya alhamdulillah lancar, seru, menyenangkan…

Ceritanya lengkapnya begini…

Mudik bagi kami se-rumah dimulai hari Sabtu, 27 September 2008. Pagi-pagi hari Sabtu kami sudah mempersiapkan rumah untuk ditinggal. Rak-rak sepatu dimasukkan ke gudang, keset-keset dirapikan, motor dipindahkan ke rumah mama, baju-baju yg sudah terlanjut basah dicuci dan dijemur, yang masih kering, ditaruh di tempat cucian kotor.

Alhamdulillah tinggal berdekatan dengan orang tua, untuk urusan mematikan dan menyalakan lampu, sudah dihandle oleh Papa πŸ˜€

Pukul 10.00 pagi, Asisten ke-2 dijemput oleh kakak-nya. Rombongan pertama berangkat !! Asisten ke-1 yg pulang menggunakan kereta, baru diantar ke stasiun setelah memberi Asha makan siang.. πŸ˜€
Ada insiden salah mengingat jadwal pula saat mengantar Asisten-1. Yang mestinya 18.30, tiwi kira 17.30. Padahal pukul 16.00 kami sudah ada di stasiun Kota πŸ˜€ Untung bapak supir nggak ngambek :p
Akhirnya diputuskan untuk menuju tengah kota untuk sholat Ashar, dan membeli bukaan shaum. Burger King Thamrin.. (Huhuhuhu, akhirnya selama Ramadhan, ngerasain jg buka shaum pake’ BK :p)

Dengan bawaan seperti orang yg pulang dari haji, cukup merepotkan bagi kami untuk mencari cara agar bisa membantu asisten-1 untuk bisa naik ke kereta. Apalagi akhirnya kami memutuskan membawa Asha saat mengantar. Supaya Asha sadar bahwa pengasuhnya memang akan pulang, dan nggak mencari-cari nantinya. Alhamdulillah, stasiun Kota tidak seramai yang kami kira. Jadi Erwin + asisten-1 masih bisa menarik tas bueessaaarr itu, dan hanya mengangkatnya saat akan naik kereta.
Sembrani yg sekarang bagus yaaa… bersiiiihhh sekali + nyaman. Jarak antar kursinya cukup besar, jadi kaki tidak terlalu pegal walaupun harus menempuh perjalanan jauh.

Melihat Asha yg antusias sekali saat di dalam kereta, akhirnya diputuskan untuk memberi dia pengalaman baru (lagi). Tiwi dan Asha naik kereta smp ke stasiun Gambir, Erwin menjemput kami di sana.
Huaduuhhhhh, yg namanya Asha, nggak bisa diam di satu kursi ! Dengan senangnya dia pindah-pindah bangku (karena kondisi kereta saat berangkat dr stasiun Kota masih kosong) dan melongok ke jendela saat ada lampu mobil menyorot dr luar… Lucunya kamu, Nak…
Saat turun di stasiun Gambir, suasana mudik baru terasa. Karena begitu kami keluar dr pintu Sembrani, lgs ada lampu sorot dari salah satu kameramen TV swasta yg sedang liputan. Weks, kabur yuk Sha !! πŸ˜€

Sampai di rumah, Tiwi sempat mau nangis. Karena ternyata Asha mengira pengasuhnya masih ada. Sibuk dia hilir mudik keliling rumah mencari-cari. Sampai ke belakang pintu pun dijabanin !! “Uwi… (panggilan ke pengasuhnya)… Baaaaa… !!” (main ci-luk-ba) sambil cengar-cengir PD bahwa pengasuhnya bakal ada di belakang pintu membalas ci-luk-ba dia. Duh naaak… maaf yaaa karena udah meninggalkanmu 5 hari dalam seminggu…

Baru pukul 23.30 WIB dia mau tidur. Itupun setelah menangis dan muntah di tempat tidur karena tidak berhasil menemuka pengasuhnya. Siapa yg nggak sedih melihatnya.
Tp malam itu Tiwi nggak mau memikirkan, karena kami harus bisa bangun pagi keesokan harinya. Atau kami akan terlambat terbang…

28 Oktober 2008
Waktu sahur, Tiwi sudah bangun untuk mempersiapkan perlengkapan Asha. Susu, makan pagi, dll. Thank to Zaralde for the nappy bag. Muat banyak lho !!
Sesuai rencana, Mama, Papa, Dini mengantar kami ke bandara. Udah kaya’ mo pergi haji kan !? :p Tp namanya juga ada Asha, semua belum rela harus berpisah seminggu penuh dengan dia πŸ˜€
Sampai di bandara pukul 07.00, masih 2 jam sebelum jadwal keberangkatan, Alhamdulillah.
Saat check-in, bertemu dengan teman TELKOM dan keluarganya. Lumayan, tukar cerita setelah sekian lama nggak ketemuan… Anaknya beliau seumuran Asha. Sempet berebut buku tuw anak berdua di boarding room πŸ˜€

Penerbangan Alhamdulillah lancar. Meskipun mengalami turbulence yg cukup bikin Erwin berpegangan erat di kursinya :p Di Juanda, tim penjemput sudah siap. Asha yg paling senang, karena bertemu kembali dengan pengasuhnya πŸ˜€
Karena kami akan menempuh perjalanan darat selama 6 jam ke BDWS, dr JKT sudah kami niatkan untuk tidak shaum di hari itu. Jadi, setibanya di Juanda, kami sarapan dulu sambil memberi makan Asha. Enak yaa Nak, sotonya…

Sampai di BDWS sudah pukul 18.00. Tidak ada perbedaan waktu antara JKT & BDWS. Cuma jadwal sholat-nya saja yg lebih maju.
Capek, lelah, lemes, mual. Tapi ternyata semua itu masih harus ditambah.
Sekitar pukul 20.30, Asha mulai rewel !! Ini yg nggak pernah terpikirkan oleh Tiwi (persiapan sakit, obat-obat, mainan, dll sudah kami cover sebelumnya, tp masalah mental, ternyata kami kurang memperhatikannya). Disangkanya kami harnya bertamu. Asha minta pulang…
Nggak berhasil mengalihkan perhatiannya, akhirnya dia menangis kejer…

Tiwi dan Ibu sudah tidak bisa lagi menahan untuk nggak ikut menangis. Kasian melihatnya… plus, kami tidak tahu harus berbuat apa. Sebelum akhirnya kami putuskan untuk membawa dia berkeliling dengan mobil, karena kelihatannya Asha sudah mengantuk.
Alhamdulillah, setelah putar-putar kota BDWS, akhirnya Asha tertidur. Satu hari terlewati… πŸ˜€

See You !

Pesta Blogger 2007

“KKN loe wi.. pasti gara-gara modal kenal ama Enda doang yah elu dapet undangan ?!”
“Beeuhh… gw mo protes panitia… masak elu yg gak aktif nge-blog bisa dapet undangan gratis !!”

Kupreeetttt :p
Pada ngiri tuuww.. hekekekeke…
Asal pada tau ajah yak, Tiwi tuw ngedaftar 2 menit setelah pendaftaran dibuka sama Panitia di web resminya :p
Tiwi emang lama gak update blog… Tapi tiwi tetep aktif blogwalking kok πŸ˜€
Insya Allah perkembangan temen-temen, tetep ngerti…

3 days to go to PB2007 !! Gee, cannot wait

Excited banget mo ke PB2007
Gak tau kenapa sih… cuma lg pengen ajah kumpul-kumpul sama blogger lagi… secara udah lama absen dari acara-acara yang berlabel “kopdar”… ada Asha yg lebih menggoda untuk berlama-lama dengannya lebih lama dibanding dengan yang lainnya *halah opo sih bahasane..mbulet*

Hampir tiap hari mantengin situs resminya PB2007 (uuppss…)
Dan entry-entry yang ada tiap harinya… makin bikin tambah gak sabar mo cepet ada di sana.. Padahal mo ngapain di sana jg blom tau πŸ˜€
Strategi udah dikompromikan dengan suami. Datang diantar, pulang dijemput (gak bakal kaya’ Jelangkung kan jadinya ?)…
Pas acara berlangsung, Erwin ama Asha bakal keliling-keliling entah kemana… Mungkin mereka akan bertemu dengan suami-suami dan anak-anak blogger lain yang sedang tebar pesona sendirian di PB2007 itu πŸ˜€ dan mungkin bahkan akan menghasilkan dideklarasikannya komunitas baru yang sama solidnya dengan komunitas blogger-nya para istri…
Istri jaman sekarang dah ah… :p

Persiapan digalang, karena walaupun Tiwi datang karena mendaftar personally, tetep ajah… masih merasa sebagai bagian dari sebuah komunitas yang ngangenin… BF… (iyoo tho makkk ?? masih diaku tho akuuu ?? :D) Jadi, tema-tema YM! maupun email di hari-hari ini adalah PB2007 !!

Aahhh, sudahlah… Cukup yah prolognya untuk PB2007
Window YM! dari temen-temen blogger dari tadi tidak berhenti berkedip. Sulit berkonsentrasi menulis entry sembari lirak-lirik. Antara penasaran sudah seramai apa diskusi persiapannya, dan ketakutan revisi business plan dari my new boss datang di saat yang bersamaan.

Pokoknya, see you at PB2007, pals !!
Insya Allah nanti Tiwi akan menceritakan seperti apa sih sebenernya PB2007 itu ?!

Dear Ladies…

Hmm… Lagi pengen nulis serius πŸ˜€

Tulisan ini diilhami dari kejadian beneran yang terjadi di kantor sekarang, yg kalo’ terus menerus dipikirkan, “is it for real ?!”, makin gak percaya ajah kalo’ itu bener-bener bisa terjadi…
Terlalu berbau “Hollywood”, terlalu hiperbolis.. πŸ™

Setelah lulus kuliah, Alhamdulillah, Tiwi langsung kerja. Selama 6 tahun di tempat yang sama dengan lingkungan kerja, baik personal maupun jenis pekerjaan yang hampir sama… IT…IT…IT…
Lingkungan personalnya ?! Jelas IT people… Yang tipis bener beda habit-nya antara cewek dengan cowoknya… πŸ˜€ *is it for real or only my feeling say so ?!*

Awal tahun 2006, ada tawaran kesempatan pengembangan kemampuan, dengan tantangan yang lebih besar, untuk ikutan pindah ke perusahaan yang masih merintis jati diri.
Perusahaan kecil, tp dengan lingkup bisnis yg lumayan besar, dg amunisi personil yang hanya beberapa gelintir. Kebayang deh pokoknya yg namanya “kerja keras” itu…
Alasan Tiwi menerima tawaran untuk pindah ?! Lokasi kantornya lebih dekat πŸ˜€ Sederhana yaa ?!

Menjelang tahun ke-2, ada beberapa kondisi kantor yg membuat Tiwi hampir gila…
Entah karena Tiwi yang belum terbiasa dengan lingkungan kerja yang sebenarnya, atau memang mereka-mereka itu yg keterlaluan.
Tadinya, Tiwi pikir tuh, lingkungan kerja yang digambarkan di film-film atau sinetron-sinetron dimana ada beberapa wanita di dalamnya dan bersaing atas segala sesuatu : apakah itu perhatian rekan sekitar, pujian atasan, dan lain-lain hanya fiktif belaka. Toilet talks itu Tiwi kira juga hanya kiasan yang hiperbolis terhadap suatu kondisi yang biasa saja.
Bisa dibayangin gak, ada orang yg digeret-geret ke toilet oleh, sebut saja A, hanya untuk diinterogasi, apakah ada gosip tentang dirinya ?! Taelah… kurang kerjaan sekali rasanyah…

Tapi, ini bener-bener terjadi di kantor yg sekarang !! Persaingan nggak penting antara hanya 2 (DUA !) wanita saja, tapi melibatkan juga orang-orang di sekelilingnya… ampun !! Nyaris membuat orang-orang lainnya ikut tidak waras dengan kondisi ini.
Gimana nggak… kalo’ si A selalu meneror kami dengan seretan-seretan dan tembakan-tembakan pertanyaan “Masak sih gak denger di B ngomongin aku ?!” atau si B yg kerja keras banget mengubah tampilan (secara mencolok dan drastis sehingga semua dapat melihat jelas..) untuk, sepertinya menyamai kredibilitas fashion si A…

Semakin dipikir.. semakin dicari-cari… Nggak akan pernah ketemu… apakah kondisi ini bisa disebut normal atau tidak ! Karena yg terlintas hanyalah kilasan-kilasan film-film ala Hollywood macam Suddenly 30, How to lose a guy in 10 days… kaya’ gitu-gitu deh…
It’s only in the movie my friend…

Buat Tiwi, kondisi ini benar-benar menyiksa… Alhamdulillah sih, secara pribadi, Tiwi belum pernah terkena dampak langsung. Karena Tiwi bukan tipe orang yg bisa seenaknya diseret-seret ke toilet.. πŸ˜€ Tapi di tengah kesibukan kantor yg seperti lantai bursa yg membutuhkan kedinamisan dan kepekaan personilnya akan semua perkembangan… Kenapa masih ada yg sempat berbuat yg nggak-nggak gitu yaa ?!
Please don’t tell me, that it happens in common working environment…
C’mon ladies, behave… You’re valued by your achievement…. bukan dr pakaian, perilaku yg mengada-ada, atau nada bicara…
Achieve something, then people will automatically look at you.
Value yourself HIGHER, please…