Menulis ? Nggak Susah kok…

Gaya banget yaa judulnya 😀 Nggak kok, menulis yang dimaksud dalam judul di atas itu, menulis dengan konteks sangat sederhana. Bukan menulis sebuah buku yang sampai diterbitin oleh penerbit terkenal gitu…
Kalo’ kaya’ gitu mah, tiwi juga belum pernah 😀

Jadi, tadi pagi, ada berkedip di Yahoo Messenger saya. Penanda ada window percakapan baru yang belum terbaca.
Saat saya baca, isinya cukup bisa membuat ngakak tapi juga ngenes
Begini :

“Mbak, bantuin dong.. Disuruh sekolahan anak nih bikin tulisan tentang profil si A. Gimana sih ?”

Balasan saya beneran nanya sih saat itu.

“Anak ? Anak siapa nih yang dimaksud ?”

Lansung disemprot :

“Yaaa, anak aku lah mbak… !”

Hah ! Gimana nggak takjub coba. Wong menuliskan profil anak sendiri, kok minta dibantuin orang lain.
Maksud tiwi, anak kita sendiri, seharusnya, yang lebih mengerti yaa kita sendiri tho ?
Tapi ternyata, bukan masalah dia nggak mengerti anaknya sih sebenernya. Cuma teman saya itu, tidak bisa menuangkannya ke dalam sebuah tulisan.

Mulailah bantuan didatangkan…
1. Saya bilang ke dia : “Kamu kan sering cerita ke aku, si A sekarang udah makan banyak lho, mbak.. si A kok susah nurutnya yaa, mbak…
Coba buka archive YM kamu ke aku, copy paste ke Ms Word. Yakin deh, itu udah bisa lebih dari 1 lembar A4″

2. “Dari lahir apa nggak yaa enaknya ? Abis pas baru lahir kan, selang dimana-mana waktu itu di badannya… Nanti aku sedih”
Supaya pembaca-nya nanti mengerti kenapa profil si A seperti itu, mending dituliskan tahap per tahap, dari sejak lahir sampai sekarang dia sebesar ini, nanti lak ada background, kenapa profil-nya bisa seperti itu…
3. Coba cari-cari foto si A yang paling berkesan buat kamu, terus cerita dari situ. Sertain juga ajah di tulisan untuk profil ini. Toh buat mading kan ? Nanti biar seru bacanya…

Belum sampai tuntas point-per-point dijembrengkan, datanglah berita bahagia itu…
“Nggak usah mbak, mas yang mau nulisin. Horee !”
Huuuu, dasar emang emak ndak mau repot :p

The moral of the story.
Menulis itu kan kadang menuliskan apa yang ada di kepala kita. Kalo’ bercerita ke teman itu menuangkan apa yang di kepala “orally”, nah menulis itu kan bercerita secara “writtenly” *embuh wis bener opo nggak grammar-nya, teuing nyak !*

Jangan bilang nggak bisa sebelum dicoba. Saat ini, banyak media belajar menulis yang bisa digunakan.
Facebook, Twitter, Foursquare. Semua bisa dijadikan tools untuk awal-awal belajar menulis. Menuangkan apa yang ada di kepala ke dalam bentuk tulisan.
Pernah tau ada nggak, ada lho, novel yang diterbitkan diambil dari “kicauan” sang penulis di media Twitter. Dikompilasi, diedit, voila, terbitlah novel yang tebalnya mengalahkan majalah mingguan 🙂

Lagipula, hari gini. Kita nggak akan menghabiskan ber-rim-rim kertas kok untuk belajar menulis. Sudah ada Ms Word. Ada tombol [backspace] untuk men-delete.
Perkara-nya jaman sekarang ini, mau atau nggak. Itu ajah sih !

🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *